Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 105


Nggak bisa berkata-kata lagi, hanya menatap dengan wajah menginginkan dan lapar. Pria itu membimbing istrinya merangkak ke atas ranjang.


Akhirnya setelah perjalanan panjang tiga puluh satu tahun, kini burungku akan keluar dari sangkarnya dan bersarang di tempat yang sesungguhnya.


"Mas, a-aku ... takut," cicit Rania di ujung nervous.


"Nggak pa-pa, aku bakalan pelan kok, tenang ya sayang ... nikmati sentuhan ini dan kamu bisa bilang kalau merasa tidak nyaman."


"Kamu mau menundanya kalau aku tidak nyaman?"


"Tentu saja tidak, malah nanti kamu yang akan menjerit meminta lebih. Permainan setengah itu bikin gila, coba saja rasakan sensasinya dan pastikan keluarkan semua aura seksimu. Ini akan menjadi malam yang paling bersejarah untuk kita berdua. Ready?"


"Siap Mas!" Rania mengangguk grogi.


"Baca doa dulu ya, biar ibadah kita makin khusuk. Aku udah ngapalin, siap lahir batin menjemput rezeki malam ini," ucapnya tersenyum yakin.


Pria itu lekas membimbing doa, perdana itu harus punya adab supaya berkesan dan pastinya berharap ibadah yang panjang ini mendapat ridho dan kelancaran. Usai menyematkan doa, pria itu lekas membimbing istrinya untuk tetap tenang. Jelas sekali Rania grogi, apalagi ini pertama bagi keduanya.


"Pengantinku, izinkan aku menunaikan tugasku malam ini. Raniaku sayang, aku mencintaimu," bisik pria itu lirih.


Membuka pakaiannya sendiri, lalu dengan perlahan melepas kain yang menutupi kulit mereka tanpa sisa, hingga tak ada penghalang netra itu menyusuri keindahan yang tersaji di depannya. Menatap lembut lekukan indah yang selama ini hanya bisa ia nikmati separonya saja. Hari ini dijamah lunas tanpa sisa.


Pria itu menyibak lembut untaian mahkota yang menyisir wajah. Sepasang hazel itu hanya terpejam, saat sentuhan itu mulai menyambanginya dengan lembut.


Laki-laki itu menarik kedua sudut bibirnya hingga membuat lengkungan indah, bak kumbang yang lapar hendak menghisap madunya. Tanpa kata lekas merapatkan diri. Ia kembali tersenyum dan mengikis jarak semakin sirna, hingga tak ada lagi suara napas keduanya beberapa detik. Menyatukan bibir mereka, membuat pergumulan indah papila mereka. Saling mengunci dengan cecapan yang manja nan memabukan. Bergulat sengit membelit mesra, mencecap hingga menciptakan suasana rileks diantara keduanya yang melenakan.


Kedua tangan pria itu sibuk menyusuri lekukan hamparan kulitnya yang lembut. Menjamah setiap inci, bergerak nakal memainkan yang ia inginkan, hingga membuat wanitanya merasa lena dimabuk kepayang.


Puas bermain-main dengan keindahan indera perasa mereka, kini ia membawa pergerakannya menyusuri seluruh leher jenjangnya yang mulus, menyesap lembut melukis banyak bintang di sana. Semakin liar, panas, kala sesuatu yang lembut itu terus mencari sensasi yang lainnya.


Kedua tangan Rania meremas lembut rambut suaminya, bergerak seduktif membenamkan semakin dalam, seakan memberikan akses lebih agar pria itu melahapnya hingga habis. Suara erotis bercampur des@h mengudara di pesisir telinga, membuat sesuatu yang di bawah sana semakin berdenyut dan tak sabar ingin merasakan sensasi yang lebih menggila.


Pria itu begitu mengerti dan pintar, menyusuri tanpa sejengkal pun tersisa. Menyambangi sesuatu yang paling baru di sana, menciumnya lalu membenamkan di sana, membuat gadis itu menggelinjang tak tertahan, hingga suara nan seksinya menggema memenuhi ruangan.


Rayyan sengaja memberikan sentuhan yang paling memabukkan, membuat istrinya begitu siap hingga menjerit tak rela dilepas. Benar-benar merasa hampa bila ditinggalkan. Berhasil, nyatanya perempuan itu begitu terlena dengan sentuhan papilanya yang terus menyusuri madu keindahan miliknya, indera perasa yang lincah itu terus nakal memainkan keindahan dalam himpitan manja.


"Mas ... enghh ....!" Gadis itu mendesah manja. Menatap sayu dengan wajah memohon, hingga pria itu merasa puas, Rania-nya telah turn on.


"Hmm, kenapa sayang, enak?" geram pria itu penuh kabut gairah. Gadis itu hanya mampu mengangguk dengan mata terpejam.


Pria itu sengaja menciptakan suasana yang begitu nyaman, hingga istrinya benar-benar menginginkan. Saat itulah laki-laki tiga puluh satu tahun itu merapatkan diri, melepas miliknya bersarang di tempat yang tepat, menyatukan tubuh mereka menjadi nyata.


Gadis itu kembali berdesir, saat sesuatu yang paling baru itu terasa menyambangi tubuhnya. Tubuhnya bergetar hebat, bergerak gelisah hingga membuat pria itu menghentikan sejenak.


"Mas ... aww ....!" racau Rania mendorong dada suaminya.


Satu titik membasahi sudut matanya, tepat saat miliknya terbenam sempurna, membuat pria itu mendekapnya penuh keharuan. Menjadi saksi bahwa melewati kenikmatan ini tidaklah mudah. Hatinya bagai disiram lautan madu keindahan, hingga tubuh itu terasa melayang.


Perlahan, namun pasti memberikan gerakan kecil diantara rasa yang luar biasa. Hingga membuat perempuan itu kembali menjerit tertahan, menarik sprei sebagai tumpuan.


"Sayang ... ini luar biasa, apa aku boleh bergerak lebih?" tanya pria itu memastikan. Tidak ingin membuat istrinya tidak merasa nyaman.


Perempuan itu mengangguk, "Boleh Mas, udah mulai enak, pelan-pelan saja, ini sakit," jawabnya jujur.


Pria itu menyunggingkan senyum, kembali meraup bibirnya, tak membiarkan tangan nakalnya menganggur, kembali menjamah sesuatu yang kenyal hingga membuat rileks di antara keduanya.


Suara des@h mereka saling bersahut, menimbulkan efek yang saling memberi kepuasan di antara keduanya. Pengalaman paling baru, yang memberikan kesan luwes dan pastinya akan selalu membuat keduanya candu.


Dengan rasa bahagia yang meluap-luap, perlahan pria itu mendorong semakin dalam, mencoba menjelajahi permainan dengan petualangan paling nikmat yang mampu menggetarkan jiwa dan raga, menghanyutkan, mengalir di seluruh pembuluh nadinya. Mencapai pusara arus puncak kenikmatan dalam hentakan yang senada.


Suara ******* dari mulut mungil itu menandakan gadisnya telah menggapai sesuatu yang paling dahsyat pada dirinya. Pria itu terus bergerak lembut, menciptakan suasana yang semakin menggelora, melenakan, dan memimpikannya. Setelah istrinya merengguk madu kenikmatan barulah pria itu menyelesaikan misinya yang sudah lama tertahan. Melegalkan syahwatnya yang membara. Bak medan magnet yang saling tarik menarik hingga akhirnya saling melengkapi dan menyatu sempurna.


"Rania ....!" Dalam samar pria itu terus menggumamkan namannya. Merasakan perasaan yang begitu senang, membuncah, bahagia, membumbung menjadi satu.


Mengarungi sungai kenikmatan dengan pengalaman paling dahsyat dan nikmat. Lagi memabukkan menggetarkan seluruh pembuluh nadinya yang tidak akan pernah puas untuk menjelajahi semakin dalam. Sampai pada akhirnya lahar itu pecah bersama dengan erangan yang keluar dari mulutnya.


"Rania sayang I love you more." Rayyan menjatuhkan wajahnya diantara lekuk lehernya dengan napas lega dan perasaan bahagia luar biasa.


Diciuminya kening istrinya, pipi kanan dan kiri lalu sekilas bibirnya, sebelum akhirnya berbaring di sampingnya dengan tanpa bosan menatap wajah istrinya yang bersemu merah jambu. Semakin membuatnya gemas saja.


"Kamu sampai keringatan gini sayang, luar biasa, mantap, bentar aku ambil tisu dulu," seloroh pria itu mengerling nakal.


"Ih ....!" geli Rania menatap wajah suaminya yang tersenyum puas. Gadis itu menarik selimutnya, menyembunyikan wajahnya di sana.


"Jangan ditutup, cantiknya istriku kalau lagi on. Haha, nanti lagi ya?" goda pria itu berbangga diri.


"Eh, jujur banget sih, jeda dulu, nggak capek apa?" keluh mantan gadis itu mengatur degup jantungnya yang masih memburu.


"Nggak, masih semangat!" Pria itu tersenyum sembari mengelap peluh di dahi istrinya, menatapnya penuh perasaan, sementara Rania hanya diam dengan memejamkan matanya, malu. Suaminya seresek itu.


Rayyan gemas sendiri, ia terus menciumi puncak kepalanya dan menghujani ciuman di pipi kirinya.


"Sakit?" bisik pria itu nakal di belakang telinganya, sedikit menggigit hingga mampu membuat tubuh istrinya kembali meremang.


"Sedikit," jawab Rania membuang muka, perempuan itu menggangguk.


"Tapi suka kan, banyak nikmatnya," seloroh pria itu mengulum senyum. Kembali mengusak tengkuknya dengan lembut.