Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 72


"Mas, nggak boleh gitu, pulang dulu besok juga ketemu di rumah sakit," bujuk Rania yang saat ini sudah tidak malu-malu lagi.


"Kamu sendirian, mana aku tenang, kalau tiba-tiba Jo ke sini terus nekat gimana?" Rayyan jelas takut terjadi sesuatu dengan kekasihnya. Pria itu tidak mau beranjak sedikit pun, ia benar-benar khawatir.


"Insya Allah nggak, semoga nggak, sejauh ini aku mengenal Jo baik, kayaknya nggak bakalan senekat itu deh. Lagian ini kost perempuan, kita nggak boleh satu kamar gini. Kamu pulang ya, besok main lagi!" bujuk Rania gemas.


"Nggak mau, cowok itu bisa nekat kalau udah cinta, apapun pasti dia lakuin, aku nggak mau pulang, kecuali sama kamu."


"Kok kamu ngomongnya gitu, maksudnya apa, Mas?" tanya Rania penuh selidik. Ia masih harus banyak mendalami karakter pria di depannya itu yang sekarang sudah sah menjadi kekasihnya.


"Nggak pa-pa Ra, aku hanya khawatir saja, kamu mikir apa sih?"


Rania tak lagi menanggapi, biar bagaimanapun ia memang harus pandai membentengi diri dengan semua jenis lelaki. Biar kata sayang, mereka bisa saja berubah pikiran atau berganti haluan. Benar juga, rasa cinta bisa membuat seseorang melakukan segalanya, dari serangkaian peristiwa yang pernah terjadi pada dirinya, Rania memang perlu berhati-hati.


Perempuan itu sibuk sendiri, bergerak ke lemari dan keluar dari kamar. Rayyan sampai mengekor di belakangnya. Perempuan itu menuju samping tempatnya dapur umum kost.


"Ngapain ngikutin, udah tunggu di kamar aja, aku mau buat mie instan, laper," usir gadis itu tak setuju.


Rayyan melongok isi dapur yang ternyata ada beberapa orang juga di sana. Nampaknya penghuni kost yang lainnya, karena merasa tidak nyaman ia pun akhirnya mengiyakan dan kembali ke kamar.


Kost Rania itu terdiri dari dua lantai berderet, kebetulan Rania berada di lantai satu. Ada kamar mandi umum untuk berjaga-jaga bila kamar mandi kamar mati. Ada dapur umum siapapun boleh pakai dan antri. Untuk barang-barangnya ada lokernya sendiri dan semua ada namanya. Jadi punya Rania akan ditaruh di loker Rania, kecuali alat tempur dapur yang bisa saling pakai dan wajib mencuci setelah digunakan.


Rania sendiri jarang sekali terjun ke dapur. Ia lebih suka jajan makanan jadi, atau seringnya makan di rumah sakit pas jam kerja. Ia juga belum lama tinggal di kost Melati ini sehingga dengan penghuni kost lainnya yang kebanyakan mahasiswa dan juga orang-orang yang sudah kerja, Rania belum banyak yang kenal dan tidak begitu akrab. Hanya beberapa saja, yang kebetulan sering ketemu.


"Hai, penghuni baru ya? Gue Shasa, lo tadi yang ribut-ribut di depan, 'kan?" tanya seorang cewek yang tengah nimbrung di dapur.


"Sorry ya, bikin kalian nggak nyaman, diluar prediksi. Gue, Rania, baru mau sebulan sih tinggal di sini," jawabnya dengan senyum ramah. Mereka berjabat tangan saling beramah tamah.


"Owh, jarang ketemu ya, lo kerja di mana? Atau masih kuliah?"


"Kebetulan sedang koas di rumah sakit tak jauh dari sini."


"Owh gitu, calon dokter ya? Pantes jarang lihat, jam terbangnya tinggi, hehe."


Mereka nampak asyik mengobrol sembari memasak mie.


"Hah! Itu mantan aku kali, ngajak balikan tapi aku nggak mau. Hehe, malah curhat."


"Nggak pa-pa lagi, kamar gue yang paling pojok nomor lima belas, gue duluan ya, udah mateng nih."


"Oke, silahkan, gue bentaran lagi!" jawab Rania sambil menyiapkan mangkuknya.


Tiba-tiba sebuah tangan kekar memeluknya dari belakang, membuat ia reflek memukul dengan spatula karena kaget. Rania menjerit spontan.


"Adoh sayang, sakit!" keluh Rayyan mengaduh.


"Astaga! Bikin kaget aja sih, sorry aku refleks," sesal gadis itu nyengir.


Sementara Rayyan masih mengusap kepalanya yang sepertinya benjol. Untung saja cuma memukul sekali, dan entah mengapa Rania ingin ngakak setelahnya.


"Makanya jangan ngagetin, lagian ini tempat umum kok main peluk-peluk aja sih, syukurin! Haha!" Rania tak tahan rasanya ingin tertawa melihat muka tampan kekasihnya yang semakin hancur. Sudah bonyok masih kena timpuk.


"Jahat banget ya Allah ... aku diketawain, apa hmm ... aku mesumin lagi ya!" ancamnya mengikis jarak.


"Jangan! Ini tempat umum, kalau tetiba ada orang gimana, menjauh dariku, Mas! Aku pukul lagi nanti pakai panci. Haha."


Rasanya Rania puas sekali hari ini, bisa balas dendam membuat pria yang selalu bersikap aneh itu kesal dan berhasil menggetok kepalanya. Walaupun tak sengaja sebenarnya.


"Ngapain lihatin, mau?" tawar Rania saat sudah berada di kamar. Satu porsi mie instan teman makan malam ini yang sangat sederhana namun cukup menggugah selera.


"Kok bikinnya cuma satu, sengaja ya biar makan bareng satu mangkuk, biar romantis 'kan?" ujarnya percaya diri.


"Ih, geer, mana ada gitu, aku tuh nggak punya tempat lainnya, cuma bawa perabotan sedikit buat di sini. Jadi bukannya biar romantis, tapi memang mangkuknya adanya satu, lagian kerajinan amad aku bawa banyak-banyak."


"Iya juga sih, sebentar lagi juga mau pindah 'kan?"


"Makan Mas, jangan ngomong terus, nanti aku habisin."


"Suapin sayang ....!"