
Setelah bedrest beberapa hari, perempuan itu kembali bertugas menyelesaikan kewajibannya yang belum rampung. Hari ini terakhir di stase radiologi. Di mana mereka akan ujian menghadap konsulen. Kurang lebih lima minggu akhirnya terbayar sudah satu hari ini sebagai penentu. Tak terasa kebersamaan mereka berakhirnya dengan banyak kenangan bersama.
Usai menyelesaikan ujian, anak-anak dan dokter pembimbing menyempatkan foto bersama sebagai kenang-kenangan sebelum berpisah. Perjalanan masih panjang untuk menjadikan dokter sesungguhnya. Setidaknya satu tahun ini sudah Rania kerjakan dengan penuh semangat dan perjuangan. Hingga ia terdampar menjadi nyonya muda Wirawan. Tak pernah menyangka, ditempatkan di Medika malah berujung dipertemukan dengan jodoh.
Usai acara foto, teman-teman sepakat untuk merayakan bersama di sebuah kafe sebelum mereka berpisah dipindah tugas di stase selanjutnya. Yang tidak lagi satu rumah sakit, bahkan dikirim ke luar Jakarta termasuk Rania.
"Kita makan di mana nih?" tanya Jeje menawarkan usulan.
"Yang cozy yang nyaman. Kafe yang ada rooftopnya aja, santai sambil makan enak," ujarnya semangat empat lima.
"Anomali bagaimana?"
"Keren tuh, setuju," timpal Asa mengiyakan.
"Gue izin suami bentar ya, kalian pada berangkat dulu nanti gue nyusul. Doi suka rewel kalau aku tiba-tiba ke mana cuma bilang lewat ponsel," pamit Rania pada teman-temannya yang mulai paham.
Apalagi semenjak kejadian kemarin, Rayyan super protective sampai-sampai tidak memperbolehkan pulang sendiri selain pakai supir. Perempuan itu menuju ruangan pria itu yang ternyata baru saja ada dokter Amel dari sana.
"Siang Dok?" sapa Rania kalem.
Dokter Amel hanya menatap sinis tanpa membalas. Sepertinya perempuan itu kesal dengan dirinya, bahkan terlihat tidak begitu suka. Apanya yang salah, entahlah.
"Mas!" seru Rania setelah mendorong pintu yang tidak tertutup sempurna itu.
"Hai sayang, gimana ujiannya? Lancar?" tanya Ray menyapa senang.
"Udah clear, alhamdulillah lancar. Aku ada acara sama teman-teman, cuma makan bareng di akhir stase. Boleh ya? Kafe biasa aja, nanti kamu bisa jemput, kalau masih sibuk aku minta Pak Karman buat jemput," ujar Rania pamit.
"Mau bilang nggak boleh, kamu pasti ngambek. Ya udah boleh, nanti aku jemput. Ingat ya tetap jaga batasan, aku nggak suka kamu terlalu dekat dengan lawan jenis," pesan Ray mutlak.
"Hmm, siap Dok!" jawab Rania kalem.
"Berangkat sekarang ya, soalnya ditunggu Jeje."
"Eh ya, kamu pindah stase, masih di Jakarta kan?" tanya Ray harap-harap cemas.
"Belum ngomong ya, kayaknya nggak," jawab Rania lirih.
"Beneran? Di mana? Tetep deket kan?"
"Bahas nanti, panjang ceritanya. Aku udah ditungguin teman-teman."
Rania menyalim suaminya yang mendadak galau, lalu melesat begitu saja setelah menyematkan tanda sayang di pipi.
"Axel, jadwal aku apa lagi ya?" tanya Ray memastikan.
"Kosong Pak, lusa sepertinya ada undangan ke luar kota untuk ATLS khusus dokter bedah."
"Astaghfirullah ... aku sampai lupa," ujar Ray mendadak sibuk.
"Oke, makasih," jawabnya santai.
Siang ini masih ada jadwal operasi yang menunggu. Fokus bekerja hingga menjelang sore. Saatnya menjemput istri yang tengah bersama teman-temannya.
"Ray, nanti malam ada acara nggak?" tanya Raka tiba-tiba menghampiri.
"Eh, Bro, belum sih, kenapa? Please jangan ngajak jalan, gue lagi lumayan repot."
"Owh ... ngajak dobel date ternyata, sekarang gue lagi mau jemput istri, lagi asyik ngumpul dia, baru ujian."
"Iya, mumpung belum LDRan kan harus punya momen, makan bareng seru pastinya."
"Beneran? Wah tadi sempet nyinggung ini sih, belum tahu di tempatin di rumah sakit mana? Semoga masih di area Jakarta."
"Belum apa-apa udah galau duluan, ya udah ya gue duluan. Nanti malam kabar-kabar!"
Sementara Rania dan teman-temannya masih asyik menghabiskan waktu bersantai. Setelah ujian tuh memang paling asyik gini, merefresh otak dengan ketawa ketiwi berlagak tak punya dosa.
"Ra, gue dapet ini!" pekik Jeje girang mendapati pesan WA dokter Raka yang mengajaknya ketemuan nanti malam.
"Wah ... sukses tuh kayaknya, besok cocok buka agen biro jodoh."
"Kelar stase kayaknya ada yang nyebar undangan. Gue kesalip beneran."
"Aminin dulu deh, walaupun nggak tahu endingnya bakalan kaya gimana."
"Harus itu mah, doi baik kali, kalau keluarga setuju kenapa nggak, iya nggak sih!"
"Belum ke tahap sana, masih penjajakan aja baru kemarin, gue brlum hafal."
"Iya sih, bener-bener harus cermat luar dalam, nggak cuma tunjuk dan asal aja. Mengenal banyak cowok boleh lah, namanya juga penjajakan, yang paling baik diantara yang paling spesial harus jadi prioritas kandidat masa depan."
"Ngehalu mah emang bebas, eh suami gue udah datang!" seru Rania melihat Ray menghampiri.
"Cie ... yang dijemput Mas bojo," ledek Asa mengerling.
"Ehem cie ... yang makin lengket sama Kenzo. Ea!" balas Rania kepo.
Udah bukan rahasia umum lagi, kalau dari awal stase sampai sekarang kelar di radiologi duo teman itu terlihat dekat satu sama lain. Bahkan mereka sering kepergok mojok berdua berkedok tugas.
"Seneng nggak sih, di akhir stase pada dapat jodoh!"
"Gue mana? Ya ampun ... nasibnya mblo, mblo!" Tama mendrama.
"Nanti juga pasti ketemu di waktu yang tepat pada masanya. Jangan khawatir Tam," ucap Rania menyemangati.
"Ah, penyemangatku istrinya orang!" celetuk Tama heboh sendiri.
"Njir! Terang-terangan lo, ada pawangnya noh!" tunjuk Kenzo pada Rayyan yang baru datang. Pria itu hanya nyengir tanpa berdosa. Kadang, cinta memang singgah di tempat yang tidak seharusnya.
"Gaes, gue duluan ya? Sampai jumpa di stase selanjutnya bagi yang masih bareng. Kalaupun pisah semoga bertemu dengan suasana bahagia dan kesuksesan. Aamiin."
"Ayo Mas, pulang!"
Mereka meninggalkan kafe dan langsung pulang.
"Mas, kenapa murung gitu? Aku ada salah?" tanya Rania bingung.
"Beneran keluar dari rumah sakit induk?" tanya Ray memastikan.
"Iya, jangan sedih gitu dong, nggak lama kok, cuma lima minggu," jawab Rania takut-takut melihat tampang suaminya yang sudah horor duluan.
"Lima minggu itu lama, Dek, duh ... ujiannya banyak banget!" keluh Ray murung. Sehari saja nelangsa apalagi berminggu-minggu, bagaimana ceritanya.