
Rania berdiam diri menahan amarah yang bergemuruh hebat. Jo benar-benar pergi meninggalkan dirinya, tanpa peduli perasaannya saat ini. Dalam sehari, dua pria yang katanya sayang itu sama-sama pergi dan menyisakan luka tanpa perasaan.
Sakit, itulah yang Rania rasakan saat ini. Karma, mungkin saja, karena mencampakan seseorang dan sekarang ia mulai terdampak imbas dari permainannya sendiri. Tak terasa sudut matanya basah, ia lelah lebih tepatnya. Mungkin memang menyudahi keduanya adalah pilihan yang paling tepat saat ini.
Rania pulang dengan hampa, meyelami hatinya yang penuh nestapa. Rasanya bagai di ambang harapan kepalsuan yang tak berujung. Benar kata mama, fokus dulu kuliah, biarlah urusan asmara nanti saja.
Hal yang tidak jauh berbeda dengan Rayyan sebenarnya, pria itu datang seorang diri dengan percaya diri menyambangi rumah orang tuanya.
"Sayang, Rania mana? Kenapa kamu datang sendiri, kamu bohongin Mama lagi, jangan-jangan benar memang kalian itu tidak pernah serius," todong Bu Wira ketika Rayyan hanya datang seorang diri.
"Maaf, Ma, Rania mendadak ada urusan dan sepertinya tidak bisa ditunda, Rania titip salam dan maaf sama Mama karena lagi-lagi belum bisa datang malam ini."
"Yah ... Mama udah seneng banget gini, malah zonk, ya udah deh nggak pa-pa, maklum saja mungkin memang belum saatnya berbicara yang lebih serius."
"Ray, Rania itu anaknya siapa? Siapa tahu Mama kenal orang tuanya," ujar Pak Wira mulai sidak.
"Ray belum jelas betul Pa, kita juga baru kenal di rumah sakit, udah ya Pa, Ma, kita makan malam saja," ujar Rayyan mencoba mengalihkan perhatian orang tuanya.
"Kalau udah serius, kenapa nggak datangi saja orang tuanya, Ray, Papa siap antar kamu, lho!" seloroh Pak Wira menimpali.
"Ray sih serius Pa, tapi Rania mau selesain koas dulu, biar nggak repot katanya," jawab Rayyan terpaksa berkata demikian. Entahlah, tak ada jawaban lain yang dirasa lebih pas.
Pria itu tidak ingin banyak berharap lagi, biarlah semuanya mengalir bagai air. Cinta tahu ke mana akan pulang, sekeras apapun berjuang jika memang tidak ditakdirkan sejalan, mungkin hanya akan menjadi kenangan.
***
"Baru pulang, Ra?"
"Iya, Eyang, maaf sedikit terlambat." Gadis itu baru saja sampai rumah dengan wajah sendu.
"Tadi ada orang yang nganter motor kamu ke rumah, terus ada Rayyan juga, eyang pikir kamu jalan sama dia, nggak ya?"
"Bukan Eyang, jalan sama teman-teman aja kok," ujarnya mendadak merasa bersalah mendapati kabar Rayyan menjemputnya.
"Maaf Kak Ray, aku udah bikin mama kamu kecewa, aku tidak ingin melukai kamu lagi, mungkin memang jalannya begini," batin Rania sendu.
Kata-kata Rayyan yang mengatakan lupakan saja apa yang telah terjadi jelas melukai perasaan Rania. Bukan dia yang memulai, kenapa pria bisa semudah itu berkata tanpa memikirkan rasanya sakit hati yang mendengarnya.
Rania perlu menata hatinya terlebih dahulu, tidak ingin melangkah lebih jauh lagi dari pada galau sendiri. Lelah hayati membawa perempuan itu menyambangi mimpi malam itu.
Seperti biasa, setiap seminggu dua kali ada roling jaga malam, dan hari ini Rania kembali tugas. Ia sudah membawa perlengkapan dari rumah untuk keperluan nanti malam dan esok hari. Ia juga menyiapkan bekal sarapan untuk Rayyan seperti biasanya.
"Eyang, Rania mau ambil kost di dekat rumah sakit, mungkin besok Rania pindah ya, soalnya terlalu jauh Rania capek," keluh perempuan itu pamit pada eyang pagi itu.
"Ya udah eyang, Rania berangkat ya, Rania pakai taksi."
"Hati-hati sayang, biar nanti packingnya dibantuin si embak."
Rania berangkat lebih pagi dari jadwal yang tertulis, seperti biasa pagi-pagi menyelinap masuk ke ruang Dokter Rayyan yang seperti biasa masih kosong. Rania menaruh sarapan itu di meja, setelahnya seperti biasa follow up pasien yang hari lalu ditangani. Gadis itu cukup terkejut ketika menyambangi kamar rawat Yumna menemukan Jovan tertidur di sana. Pria itu belum bangun, wajar sih hari masih pagi dan pria itu mungkin menunggu dari semalam.
"Pagi kak Yumna, bagaimana kabarnya hari ini?" tanya Rania mulai sibuk memeriksa pasien pagi ini.
"Pagi Dokter? Sudah lebih baik," jawabnya sumringah. Rania mulai memeriksa dan mewawancari Yumna.
"Itu siapa?" tanya Rania menunjuk Jo yang masih terlelap.
"Owh, dia cowok aku, Dok, kami baru saja jadian semalam, aku senang sekali akhirnya kita bisa bareng-bareng terus. Dokter lihat sendiri 'kan? Aku semakin sehat."
"Iya, syukurlah sudah lebih baik. Semoga lekas sehat dan cepat pulang ya," ucap Rania menahan segala amarah yang mulai muncul di dada.
"Ra, pagi sekali up date pasiennya?" tanya Jo tiba-tiba terbangun.
"Kalian kenal?" Yumna nampak bingung.
Rania langsung keluar begitu selesai membuat SOAP. Jo sendiri mengejar gadis itu dalam keadaan masih setengah sayu, suasana masih pagi koridor masih sepi saat keduanya berlari saling kejar di Koridor rumah sakit.
"Ra, tunggu Ra!" pekik Jo sembari menarik tangannya.
"Lepasin Jo, kamu bukan siapa-siapa aku lagi!" tolak Rania kesal bukan main.
"Kamu ngomong apa sih, dengerin dulu, aku hanya mengiyakan karena aku tidak tega melihatnya sakit, please aku masih sayang kamu."
"Owh ya, sayang dari mana? Ninggalin gitu aja ceweknya sendirian di restoran."
"Bukannya aku udah izin, dan kamu mengiyakan aku pergi? Kenapa jadi nyalahin aku?"
"Oke, aku yang salah, dan aku minta maaf, kita emang udah nggak sejalan."
"Kamu ngomong apa sih Ra? Please jangan gini."
"Mungkin kita hanya lelah, dan perlu menyelami hati kita masing-masing, kita break dulu aja, Jo."
"Sampai kapan?"
"Aku nggak tahu, sorry aku lagi tugas," ujarnya meninggalkan Jo begitu saja yang nampak bingung.