Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 44


Dekat tak kunjung didapat, beberapa hal perlu dibiarkan misterius, walaupun hati begitu sangat menginginkan sepertinya pria itu perlu merubah dinamikanya. Sungguh, cinta adalah salah satu elemen kehidupan yang memiliki banyak jebakan. Salah satunya adalah kedekatan.


Pria itu pikir sedikit memaksa dengan kedekatan yang penuh dengan perhatian akan membuat cinta itu semakin dalam. Nihil, nyatanya semakin erat pria itu menggenggam, Rania semakin menjauh dari bayangannya. Sedikit misterius membiarkan ia berjalan sendiri, dan biarkan gadis itu yang akan menemuinya.


"Welcome to the game!!"


Kesibukan keduanya membuat Rania maupun Rayyan melupakan sejenak permasalahan di antara mereka. Sudah beberapa hari ini baik Rania maupun Rayyan bak orang asing yang tidak saling mengenal, tak ada satupun pesan di ponselnya. Rania pun mulai sedikit tenang menjalani harinya, setidaknya dirinya tidak harus terlibat hubungan tanpa status dengan pemilik rumah sakit itu.


Desas desus yang beredar, bahwa pemilik rumah sakit itu akan segera melepas masa lajangnya. Rania pun sedikit bernapas lega, itu artinya dirinya tidak harus lagi terlibat skandal cinta terlarang yang melesakkan. Walaupun merasa ada yang hilang dengan perhatiannya, namun setidaknya ia berjalan lebih tenang.


"Duh ... beruntung banget sih yang mau jadi istrinya Dokter Rayyan," celetuk Asa dan Jeje tengah bergosip.


Rania sendiri tidak menanggapi apapun itu, karena dirinya merasa tidak perlu harus membicarakan pria itu yang sejatinya pernah menjeratnya dalam hidupnya.


"Ra, diem aja, sariawan?" tanya Tama yang nampak sudah care kembali setelah beberapa minggu seolah mendiamkannya. Terutama semenjak pria itu melihat Dokter Rayyan menggendongnya.


"Lagi mode serius, mau ujian nanti 'kan?"


"Sumpah gue deg degan," jawab Rania harap-harap cemas.


Jam 3 sore, Rania janjian dengan konsulen penguji. Gadis itu duduk di depan poli, menunggu kedatangan dokter penguji. Rania sudah menyiapkan kertas ujian dan pulpen di tangannya. Tegang, namun tetap berusaha tenang. Menurut informasi ujiannya nanti dengan sistem simulasi, ia pun sudah yakin dan percaya diri ketika tiba-tiba konsulen datang, beliau meneliti penampilan Rania dari atas sampai bawah dengan mengerutkan keningnya.


"Kamu mau ujian, 'kan?" tanya Dokter menggeleng kecil. Rania mengangguk yakin.


"Yakin udah siap?" tanya Dokter menyorot dengan seksama.


Di situ Rania mulai bingung karena tidak merasa ada sesuatu yang salah.


"Kamu ga bawa stetoskop, mau periksa pasien pakai apa, Dek?!" tunjuk Dokter Hanum cukup menohok.


"Hah? Stetoskop? Wah, ujian pasien beneran dong!" batin Rania sigap. Ia langsung izin balik ke ruang jaga untuk mengambil stetoskop. Lalu menghadap dokter lagi dengan perasaan yang campur aduk.


"Yuk, temenin saya visite, Dek!" ajak Dokter Hanum berjalan mendahului.


Saat mereka naik ke bangsal, tak sengaja di koridor bertemu dengan Dokter Rayyan. Kedua dokter senior itu saling menyapa dan berbincang sebentar, melirik Rania dingin, namun tersenyum lembut dengan Dokter Hanum. Rania berdiri di belakang Dokter Hanum bak orang bodoh yang dengan malasnya harus mendengarkan gurauan singkat mereka.


"Titip ya Dok, jangan galak-galak!" bisiknya tepat saat pria itu beranjak.


Tanpa menoleh Rania sedikit pun, bahkan bersikap seolah tidak mengenalnya. Entah mengapa pemandangan itu menjadikan Rania sedikit terganggu dan semakin mengusik hati kecilnya.


Rania mengikuti langkah dokter penguji masuk ke salah satu ruangan. Beliau menyapa pasien dan menanyakan kondisi pada hari itu, selanjutnya memperkenalkan Rania.


"Bu, perkenalkan, ini asisten saya, hari ini akan memeriksa kondisi Ibu dan bertanya riwayat penyakit Ibu."


"Bismillah," batin Rania memulai pemeriksaan.


Sementara Rania sibuk tanya-tanya, dokter penguji itu memperhatikan sambil mengobrol dengan anggota keluarga pasien, sesekali beliau minta Rania melakukan pemeriksaan tertentu. Setelah selesai, mereka keluar ruangan.


"Bikin status pasien yang lengkap, saya kasih waktu satu jam. Langsung temui saya di poli saat sudah selesai," titah Dokter Hanum cermat.


"Siap, Dok," jawab Rania mengangguk sigap


Rania kembali ke ruang jaga untuk mengerjakan tugas tersebut.


Cemas, itulah yang dirasakan Rania saat itu, sedikit bingung nentuin diagnosisnya apa, ia tidak menemukan ada gejala spesifik pada pasien. Finally dengan modal yakin, Rania pilih satu yang paling mendekati. Masih ada sisa waktu, Rania review sedikit materi terkait diagnosis pasien yang telah ia buat.


Gadis itu menuju ke poli setor jawaban, lanjut tanya jawab. Terbantai habis, dokter penguji bertanya terus menerus sampai dek koasnya nggak bisa jawab.


Dokter Hanum pun malah terkekeh pelan. Ia sama sekali tidak marah, padahal Rania sudah harap-harap cemas takut stase itu tidak lulus.


"Tuh, yang tadi kamu gak bisa jawab, belajar lagi yang bener, lusa setor jawabannya ya ke saya," ujar Dokter Hanum menggeleng kecil.


Rania sedikit speechless, merasa ada kesempatan, padahal ia sudah waswas karena menurut informasi dari teman-teman lainya Dokter Hanum termasuk killer dan horor.


"Beneran Dok, masih ada kesempatan? Terima kasih Dok, Saya belajar yang bener! Makasih banget Dokter!" ucap Rania berbinar.


Besoknya lagi waktu Rania setor jawaban, pengujinya tersenyum kalem, entahlah apanya yang salah lagi, tapi ekspresinya malah poker face saat tanda tangan di buku ujian Rania, terus gadis itu langsung disuruh pulang begitu saja.


Rania keluar ruangan dengan sedikit bingung, tapi juga lega karena bisa melewati stase ini walau harus dengan drama yang panjang.


"Gimana?" tanya Jeje teman seprofesi yang sudah menunggu update.


"Masih deg degan tapi insya Allah lulus," jawabnya sambil tersenyum tipis.


"Pengumuman masih lama, slow dulu lah. Ngadem dulu ayok!"


"Ke mana?" pekik Rania saat Jeje menarik tangannya dengan semangat.


Jeje membawa Rania naik ke rooftop rumah sakit yang ternyata di sana sudah ada kelompoknya. Kenzo, Asa, dan Tama. Mereka mengabadikan kebersamaan mereka dengan berfoto ria. Kebetulan salah satu teman koas mereka, si bijak Tama adalah vlogger dan fotografer lumayan have fun sejenak ngadem pikiran.


Sayangnya kebahagiaan itu hanya mampir sebentar, karena pembagian stase berikutnya di stase bedah dan Rania dibuat horor sekaligus waspada spot lanjutan mendapi Dokter Rayyan adalah pembimbing sekaligus penguji dirinya.


Poor you Rania Isyana