
"Adek, minum obat ya, biar cepat turun demamnya," bujuk Rania.
Gadis kecil itu menggeleng serta menutup mulutnya. Rania membantu mengonpres lalu memberikan pijatan kecil hingga anak itu tertidur. Jo sendiri duduk di dekatnya.
"Jo, sorry aku pulang dulu, semoga lekas sembuh ya?" pamit Rania setelah memastikan ponakan Jo tertidur.
"Makasih banget ya Ra, jadi ngrepotin. Ayo aku antar sampai depan," ujar Jo tersenyum lega.
Rania mengangguk dengan senyuman, berjalan saling beriringan hingga ke pintu depan.
"Ra," panggil Jo menghentikan Rania yang hendak beranjak.
"Iya Jo kenapa?"
"Aku mau minta maaf atas kejadian yang pernah ada. Aku sangat menyesal waktu itu tidak menempatkan kamu d prioritas waktu itu. Aku sadar aku salah, tolong neri kesempatan untukku sekali lagi, untuk menebus kesalahan aku padamu."
"Aku sudah memaafkan kamu, Jo, tidak ada yang perlu disesali toh semua telah terjadi. Mungkin memang jalan cerita kita memang harus berakhir."
"Tetapi Ra, aku ngerasa kita perlu mencobanya sekali lagi. Andai kamu memberikan kesempatan itu, aku akan menjaga cinta kita yang pernah aku siakan," ucapnya dengan nada sendu.
"Maaf, Jo, aku sudah bertunangan," jawab Rania jujur.
"Yang menikah saja bisa cerai, apa lagi kamu masih sebatas tunangan, sangat mungkin kan untuk berpisah," jawab Jo seakan mempermudah.
Rania hanya merespon dengan senyuman, lalu pamit ke apartemennya. Gadis itu menghembuskan napas lega, akhirnya bisa tidur juga untuk malam ini. Sungguh di luar ekspektasi, bisa-bisanya Jo bertetanggaan dengan dirinya.
"Rayyan lagi apa ya, sudah tidur belum," gumam Rania sembari merebah. Mendadak ia teringat dengan kekasihnya yang posesif, apa kabar kalau tahu Rania bertetangga dengan Jo.
Baru saja Rania ingin menelepon, handphone miliknya berkerlip dengan layar menampilkan panggilan vidio dari dr. Ray. Gadis itu tersenyum semangat sembari menggeser tombol hijaunya.
"Malam adek sayang, aku nggak bisa bobok," keluh Rayyan di ujung telepon. Mukanya terlihat kusut termangu di atas bantal.
"Aku baru mau bobok, habis nolongin tetangga baru yang sakit," jawab Rania serasa tak nyaman.
"Owh ya, sakit apa? Serius kah? Dokter Rania baik sekali."
"Demam Mas, keponakannya Jo," jawab Rania takut-takut.
"What! Jo mantan kamu?" terlihat jelas Rayyan terkejut di ujung telepon.
"Hmm, jangan mikir yang aneh-aneh dan macem-macem, aku udah di rumah."
"Maksud kamu apa nih yang, aku masih gagal fokus. Jo ada hubungi kamu lagi?"
"Kok bisa? Aku akan ke sana!"
Panggilan ditutup dan Rayyan langsung melesat ke apartemen calon istrinya. Kebetulan hunian itu tidak terlalu jauh. Kurang dari sepuluh menit, bahkan lebih cepat karena ia memakai motor. Pria itu sudah masuk tanpa permisi. Langsung menerobos masuk ke kamar dan meneliti Rania dengan posesif.
"Mas, kamu udah di sini?" tanya Rania terkesiap mendapati pria itu hanya memakai kaus pendek dengan celana di atas lutut sudah berada di kamarnya.
"Ya, tentu saja aku tidak akan membiarkan kamu bertemu dengannya. Apa lagi sampai hanya berdua."
"Aku cuma sebentar kok Mas, dia ke sini minta tolong aku karena keponakannya sakit. Ya udah aku bantu."
"Lebay banget sih, kenapa harus ke kamu coba, kenapa nggak ke rumah sakit aja." Rayyan terlihat kesal.
Nggak bisa dibiarin nih, Jo ngapain mendadak tinggal di sekitar sini. batin Rayyan waswas.
"Eits ... mau ngapain? Jangan dibuka! Kalau bugil jangan di kamar aku!" tegas Rania mengomel.
"Apa sih, aku nggak mau macem-macem, aku 'kan biasa tidur gini."
Rayyan melempar tubuhnya di kasur. Rania sampai menjerit kaget karena ulahnya yang rusuh.
"Mas, kamu jangan tidur di ranjang dong, bikin gagal fokus," protes Rania kesal.
"Aku kangen tidur berdua dengan kamu, Dek, pengen peluk-peluk!"
"Astaghfirullah ... kita nikah aja lah liburan besok," ujar Rania serius.
"Beneran? Alhamdulillah ... akhirnya di acc, bisa-bisa aku DP dulu kalau kelamaan. Hahaha."
"Serem amad ngomongnya, pakai nggak!" tekan Rania meninggikan suaranya.
"Nggak mau, nggak biasa pakai sumpek."
"Ih nyebelin! Tidur tepat lain!"
"Nggak mau Dek, pengen peluk kamu," jawabnya seraya mengikis jarak.
Rayyan langsung membaringkan tubuhnya, menjadikan paha Rania sebagai bantalan. Menenggelamkan wajahnya di perutnya dengan kedua tangan memeluk posesif.
"Beneran kita nikah saja, besok ya?" ucapnya seraya memeluk Rania dengan sayang.
Gadis itu membuai manja, mengelus kepalanya perlahan hingga ia terlelap damai dengan begitu nyaman.