
Diam-diam Rania menikmati sentuhan manja ditengkuknya. Walaupun masih sedikit bete, nampaknya kebutuhan biologis pria itu tidak bisa dianggap angin lalu. Suaminya itu pasti akan membuatnya tidak bisa tidur tenang malam ini.
"Bukannya Mas capek ya? Baru saja olahraga?" tanya Rania seraya menahan geli. Ray terus merusuh.
"Capek aku hilang kalau udah dapat penawarnya," ucap pria itu dengan napas berat. Netranya berkabut gairah dengan wajah memelas.
Seakan mengizinkan, Rania menutup matanya memberikan izin untuk menyentuh dirinya. Pria itu tersenyum lalu mengikis jarak, mengecup sekilas sebelum akhirnya menyeruak masuk mempertemukan indera perasa mereka.
Napasnya memburu dengan tatapan begitu menginginkan. Mencumbu leher jenjangnya dan memberikan sentuhan hangat di sana. Sementara kedua tangannya sibuk melepas pakaian istrinya hingga menyisakan kemolekan yang nampak indah di depan mata.
Baru dua hari tidak mengunjunginya serasa begitu lama, hingga rasa itu tak tahan ingin ia curahkan sebegitu dalam. Menyelusuri penuh penghayatan, lalu memberikan banyak tanda sayang di sana.
******* panjang saling bersautan membuat keduanya dibuai perasaan yang begitu menggila. Mengarungi sungai madu pernikahan untuk yang ke sekian kalinya. Sepertinya pria itu kalap, seakan malam ini tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang berharga menyirami dahaga yang membentang n0alurinya. Hingga perempuan itu pasrah, menerima setiap hujaman cinta darinya.
Berkali-kali pria itu mengulang adegan yang sama. Tanpa sadar, telah membuat perempuan itu terkulai tak bersemangat. Tertidur hingga pagi menjelang. Ray begitu bersemangat menyambut pagi ini dengan binar cerah di wajahnya. Membiarkan istrinya tetap tidur tenang, karena sadar semalam telah membuatnya lelah semalaman.
Rania sendiri sampai lupa kalau pagi ini sudah membuat janji untuk pergi dengan teman-temanya. Karena begitu lelah, ia merasa perlu untuk beristirahat lebih lama. Ia baru sadar setelah matahari sudah meninggi dari peraduanya.
"Loh, jam berapa ini?" Perempuan itu terkesiap mendapati dirinya masih di atas ranjang padahal suasana luar nampak sudah cerah.
Tubuhnya terasa pegal di sana sini, ngilu, sakit, nyeri, kompleks terasa menjadi satu. Untuk bergerak saja Rania malas, lelah, dan lesu. Semakin bertambah kesal tidak menemukan suaminya di sana. Suaminya pasti sengaja membuatnya susah berjalan. Dan sialnya Rania begitu menikmati sentuhan itu semalam. Pria itu terlalu pintar menguasai permainan hingga membuatnya lupa.
"Sudah bangun?" sapa Ray menyambangi kamarnya. Menemukan istrinya yang masih setia menempati ranjang dengan muka acak-acakan tetapi tetap terlihat cantik bagi pria itu.
"Kamu kenapa nggak bangunin aku, Mas?" kesal perempuan itu mrengut.
"Tidurmu terlalu nyenyak, aku takut mengganggumu," ujar pria itu mendekati ranjang, lalu bergerak mendekat mencium pipinya.
"Ayo mandi, aku antar kamu hari ini ke mana pun kamu pergi. Atau menyusul ke tempat liburan teman-temanmu?" tawar pria itu sungguh-sungguh.
"Tubuhku pegel semua, ini terlalu sakit, kamu nakal sekali. Sengaja banget gagalin acara aku dengan buat aku kaya gini," ujar Rania mrengut. Kembali merebah lemas.
"Maaf, Dek, aku terlalu lapar. Kamu hampir membuatku gila, jangan salahkan aku bila tak bisa berhenti, tapi nyatanya kamu cukup menikmati setiap gaya yang kuberi."
"Tauk ah, sakit Mas! Duh ... kerasa banget buat gerak, ini mah terancam di kamar seharian."
Liburan gagal dan Ray menang banyak hari ini. Namun, semuanya sepadan dengan perlakuan manisnya yang siap memanjakan. Menggendong ke kamar mandi, bahkan menyuapi istrinya untuk mengisi energi. Rania tidak ke mana-mana, bahkan menjadi penghuni kamar hingga sore menyapa.
"Mas, aku pengen jalan ke mana. Nggak enak banget seharian cuma jadi penghuni kamar," rengek perempuan itu bergelayut manja.
"Ya ayo ... kamu pengennya ke mana? Emang udah enakan buat jalan?" tanya Ray serius. Menarik istrinya hingga terduduk di pangkuannya.
"Masih lumayan sih, walau udah agak mendingan. Kamu sih, mintanya dobel-dobel, kan jadinya aku nggak karuan."
"Impas dong, Dek, sebagai gantinya dua hari absen. Kamu nggak ngerasain sih, nggak enak banget kalau tiba-tiba pengen malah dianggurin. Pusing sampai ke ubun-ubun."
"Aku minta maaf, beneran aku tidak sebrengsek itu. Kalaupun aku mau berbuat seperti itu, kenapa juga harus nyuruh orang, rugi banget kan? Mending aku tiduri sendiri."
"Ihk ... kamu tuh emang nakal, dan semeresahkan itu dari dulu, sebel!" Rania menimpuk dada bidangnya.
"Jangan sayang, sakit ...." Ray menangkap tangannya, lalu mengikis jarak. Menarik tengkuk istrinya dan kembali mempertemukan bibir mereka.
"Mas ....!" sela Rania memisahkan diri. Napas keduanya memburu.
"Kenapa? Merangsang ya?" bisik Ray nakal. Tangan kanannya memainkan tubuh bagian depan istrinya membuat perempuan itu tanpa sadar melenguh kecil.
"Jangan, aku pengen keluar!" kata Rania sambil menjatuhkan dagunya di pundaknya. Tangannya menahan tangan Ray yang nakal.
"Mau jalan ke mana? Nyusul teman kamu?" tanya Ray serius.
"Pengen, pasti seru banget liburan mereka."
"Oke sayang, kita jalan-jalan ya?"
"Siap-siap dulu," ujarnya bergegas.
Tak tega melihat istrinya yang cemberut, akhirnya Ray menyiasati dengan mengajaknya menyusul ke tempat liburan teman-temannya.
"Gendong sampai mobil, nggak mau tahu!" rengek Rania manja.
"Dek, ini pakaian kamu apa nggak terlalu pendek? Ganti sayang, paha kamu terekspos gitu, sayang banget orang lain lihat ini. Ganti ya?" pinta Ray tak setuju.
Rania memang memakai dress terusan di atas lutut, cantik namun agaknya terlalu pendek bagi Ray yang mendadak protektif.
"Ayo ganti sayang, kalau nggak aku nggak mau jalan!" ujar Ray merajuk.
Rania menukar pakaiannya dengan celana longgar panjang. Hampir tertutup dengan kaos panjang. Kadang memang penampilan itu bisa membuat orang berfantasi atas tubuh orang lain. Ray tidak mau itu terjadi pada istrinya.
"Ini lebih cantik, yang tadi dipakai di rumah aja. Nggak pakai baju lebih menarik sih kalau di kamar, aku pasti suka," celetuk Ray menggoda. Sebagai hadiah karena telah meledeknya cubitan gemas di pinggangnya.
"Sayang jangan, kamu suka banget KDRT. Nyubit, nimpuk, mukul! Ya ampun ... tangan kamu rusuh banget, nanti aku bales!" ujar Ray gemas. Menangkap kedua tangan istrinya lalu menariknya ke atas. Sedikit mendorong menghimpit dinding. Tersenyum devil lalu mencumbu sesuka hati hingga Rania menjerit tertahan.
"Mas ... geli ... engghh ....!"
Ray terkekeh melihat istrinya sedikit lusuh akibat serangan darinya.
"Ya ampun ... Mas, kita jadi pergi nggak sih!
" Jadi, masih cantik kok!"