
Keduanya saling menatap dalam diam, Ray dengan tatapan berkabut sementara Rania dengan netra berkaca-kaca.
"Kamu tahu kan, aku paling nggak bisa lihat kamu nangis," ucap pria itu sembari menyusut air mata istrinya dengan ibu jarinya lalu mengecup dengan penuh perasaan.
Rania terdiam, tidak merespon apa pun, capek hati dan juga body. Berharap pulang bisa istirahat di peraduan mimpi, nyatanya mendapat kejutan tak terduga seperti ini.
Ray menjadi merasa bersalah melihat istrinya yang hanya diam, kalau sudah begini tentu saja ia harus berinisiatif sendiri dengan ide yang ada. Karena biar bagaimanapun, rindunya itu sudah tidak bisa ditahan.
Ray ikut berbaring, menindih Rania dengan wajah terjatuh tepat di dadanya. Menenggelamkan mukanya di sana dengan kedua tangan memeluk posesif. Matanya terpejam seakan begitu menikmati tempat ternyamannya.
"Berat Mas," keluh perempuan itu merasa kurang nyaman. Tubuh Ray yang proporsional dengan bobot tubuh lumayan sepenuhnya menindih, jelas Rania protes.
Pria itu mendongak, sedikit bangkit dengan menjadikan kedua tangannya sebagai tumpuan. Mengungkung perempuan itu dengan tatapan yang sulit dibaca.
"Aku mau ke kamar mandi," ujar Rania merasa tubuhnya perlu dibersihkan.
Ray bangkit lalu mengambil sikap duduk. Sementara Rania langsung melesat ke kamar mandi. Tak berselang lama pintu diketuk, rupanya Jeje dan juga Dokter Raka punya agenda lain keluar dari kost. Ya tentu saja itu lebih aman untuk pasangan yang belum halal.
"Duluan aja, istriku lagi mandi," ujar Ray menyahut di ambang pintu.
"Oke, good luck," ucap pria itu tersenyum sembari mengamati keduanya dengan binar bahagia.
Suara derit pintu yang terdengar mencuri atensi seseorang yang masih fokus menatap ke luar. Bergegas tangannya menutup pintu, lalu memperhatikan Rania yang tengah memilih baju.
"Pakai yang simple aja, Dek, aku mau ngajak adek keluar," ujar Ray datar.
"Ke mana? Tapi aku capek, Mas," keluh Rania spontan.
"Ikut aja, nanti capeknya nggak berasa," ujar Ray tersenyum.
Pria itu perlu ngetreet istrinya agar tercipta suasana romantis kembali setelah percekcokan panas yang beberapa menit terjadi.
Pria itu tidak benar-benar marah, ia hanya begitu cemburu dan takut kehilangan. Makanya ia akan bertanduk jika miliknya terusik.
Ray membawa istrinya makan malam romantis di sebuah restauran yang cukup menawan di kota itu. Setelah membuat istrinya begitu tenang dengan perut nyaman, barulah pria itu menjalankan misinya yang sudah menggebu.
"Kita langsung pulang?" tanya Rania kaku.
"Kamu pengennya langsung pulang?" tanya Ray tersenyum.
"Terserah Mas aja, aku manut asal Mas Ray bahagia."
"Hmm ... aku suka istri yang penurut," ujar pria itu meraih tangannya. Membawanya dalam kecupan, sementara tangan lainnya sibuk menyetir.
"Aku bersih-bersih dulu Mas," pamit Rania seakan paham dengan apa yang akan terjadi.
"Aku juga," jawab Ray bergegas.
Rayyan lebih dulu membersihkan tubuhnya, baru Rania yang akhirnya bergantian. Perempuan itu sudah mandi jadi hanya menyiapkan sedikit pemanis sebelum menjalankan ibadah bersama.
"Sepertinya malam ini kamu harus lebih agresif," ucap Ray tiba-tiba melingkarkan tangannya pada perut istrinya. Mencium bahunya yang terbuka.
"Aku bakalan maafin kamu, sekaligus menghukum kamu yang cukup nakal," bisik pria itu memutar tubuh Rania hingga menghadapnya.
Ray tanpa ragu langsung mempertemukan bibir mereka. Membuat lidah mereka saling beradu. Dengan perasaan gairah yang membara rindu. Hingga napas istrinya terengah-engah memerlukan pasokan oksigen. Membawa tubuh itu ke ranjang tanpa melepas pagutan mereka.
Bagai kumbang lapar yang siap menghisap seluruh madunya tanpa sisa. Menyusuri lembut tubuh istrinya yang terbebas dari sehelai kain pun. Menghinggapi dengan penuh minat dan perasaan bersalah.
"Aku minta maaf, Sayang. Ke depannya, bisakah lebih menjaga batasan?" bisik Ray seduktif. Bibirnya menemui setiap lekuk tubuhnya yang polos.
Rania tidak menjawab, ia hanya mengangguk dengan mata terpejam. Mulutnya sibuk meracau penuh des@han. Membuat adrenalin pria itu semakin tertantang untuk mengeksekusi malam ini tanpa ampun.
Sengaja tidak terburu-buru, selain membuat perempuannya rileks, Ray harus memastikan istrinya menyerahkan seluruh jiwa raganya tanpa paksaan. Mereka harus menemukan kenyamanan, agar tidak menyakitinya. Apalagi perasaannya baru saja terguncang.
"Adek siap?" tanya Ray mendongak setelah bibirnya berpetualang di tubuh bagian bawahnya. Membuat perempuan itu menjerit tertahan dengan goyangan maut indera perasanya.
"Please ... engh .... " Rania menggeram tak karuan saat pria itu berhenti sejenak. Ray begitu pintar hingga wanitanya merasa begitu membutuhkan semakin menuntut.
"Bentar lagi, aku ingin memanjakan dirimu, sampai kamu benar-benar tak bisa menghindar sedikit pun."
"Mas ...."
"Iya sayang, aku nggak akan berhenti semalaman sampai adek sendiri yang menyerah."
"Semerdeka kamu aja, Mas, aku milikmu seutuhnya," gumam Rania lirih di tengah rasa yang begitu luar biasa.
Dua minggu melebur rindu menjadi satu, melewati malam indah itu dengan deburan hasrat yang menggebu.
"Terima kasih sayang, aku mencintaimu," bisik Ray sembari mengecup bahunya yang polos.
"Kamu nggak pakai pengaman? Kenapa di keluarin di dalam? Ini kan aku masih tanggal rawan," keluh perempuan itu mengadu.
"Nggak pa-pa ... kalaupun jadi ya berarti itu rezeki. Aku sih berharapnya yes," jawab pria itu dengan begitu santai dan tenang.
Rania hanya terdiam, sibuk menata degup jantung dan napas yang masih memburu naik turun. Tubuhnya begitu lelah, ia tertidur setelah suaminya merasa terpuaskan. Sampai ia lupa untuk belajar, padahal besok ada presentasi.