Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 73


"Dih ... manja banget, kaya ibu-ibu di rumah sakit yang baru melahirkan," protes Rania tepat sekali.


"Pengen dimanja dan disayang, salah ya?" tanya pria itu mrengut.


"Nggak sih, lucu aja kaya bocah, padahal 'kan aslinya udah tua. Hehehe."


"Siapa bilang aku tua, aku baru tiga puluh satu tahun. Dewasa sayang, dewasa!" sanggah Rayyan tak terima.


"Iya iya yang dewasa, buka mulutnya, bisa nggak? Sakit ya?" Rania meneliti sudut bibir pria itu yang mulai terlihat membiru.


"Sakit lah, namanya juga kena pukul masak enak, terkecuali pukulan cinta dari kamu, pasti enak," jawabnya ngalor ngidul tak jelas.


Perempuan itu menyuapi Rayyan dengan telaten. Satu porsi berdua, dengan perasaan berbunga-bunga, rasa makanan itu seribu kali lebih nikmat. Pria itu terus mengunyah sembari mengulum senyum, memperhatikan wajah ayu pujaan hatinya yang mendadak salah tingkah.


"Kenapa sih, kok lihatin aku terus, pindah pandangan sana!" tegur Rania salting sendiri.


"Nggak bisa ke lain hati, udah mentok di kamu, Ra. Jadi kapan aku bisa ke rumah orang tua kamu? Besok gimana?"


"Jalani aja dulu, aku masih sibuk," tolak Rania bimbang.


"Ya pedekate dulu sama calon mertua, biar besoknya lancar, pingin kenalan sama orang tua kamu, mau ngucapin terima kasih.'


"Terima kasih buat apa, ketemu aja belum."


"Harus berterima kasih pada Papa Al dan Mama Inggit, telah melahirkan bidadari surganya Rayyan yang cantik banget, nggak sabar 'kan aku jadinya pengen meminangmu. Ya Allah ... gemes banget!" Rayyan mencubit pipi gadis itu dengan gemasnya.


"Ish, sakit lah, jangan diginiin!" kesal Rania manyun.


"Jangan gitu, Ra, kamu bikin otak aku berekspektasi lebih."


"Habisin Mas, aku mau udah."


Rania beranjak ke kamar mandi, menggosok giginya lalu mengaplikasikan krim di wajahnya. Sementara Rayyan hanya diam, memperhatikan gerak gerik gadis itu.


"Udah mau tidur? Nggak nugas?" tanya pria itu menginterupsi.


"Ada sih, tapi lagi nggak semangat, kamu pulang ya, aku mau istirahat," usir Rania lembut.


"Nggak mau Ra, aku bobok sini ya, aku tidur di bawah deh nggak pa-pa, asal jangan suruh aku pulang," ujar pria itu menego.


Rania melirik tak percaya, nyatanya pria itu pernah dengan sembrononya main menginap saja di kosan yang dulu.


"Ya Allah ... lihatinnya gitu banget, sumpah aku nggak akan macem-macem. Satu macam aja. Hehe!"


"Tuh kan nggak bisa dipercaya, kamu memang meresahkan Mas!"


"Janji deh, janji. Bila perlu kamu ikat tangan dan kaki aku biar nggak nakal. Masa pacar sendiri dinakalin, seharusnya kan disayang."


"Bedalah ... kemarin 'kan pacar orang. Hehehe!"


"Ish ... dasar domes!"


"Biar domes asal sayang, rela lah semerdeka kamu mau manggil apa? Yang penting aku dan kamu menjadi satu."


"Mana bantalnya, selimut sekalian aku numpang rebahan, sebagai gantinya nanti aku yang bayar sewa kostnya. Deal 'kan?"


"Nggak deal, aku pengennya kamu pulang, nanti aku lagi bobok digrepe-*****, nackal."


"Astaghfirullah, nggak sayang, nggak beneran, udah tidur Dek Rania sayang."


"Awas ya kalau ingkar janji, aku beneran marah besoknya!" ancam Rania sembari beranjak ke atas ranjang.


Dengan hati setengah gamang, perempuan itu mulai merebahkan tubuhnya di tempat peraduannya. Sama halnya dengan Rayyan, pria itu juga menempati posisinya yang beralaskan tikar.


Hening, keduanya sama-sama menatap langit-langit kamar. Entah apa yang bersarang dalam otaknya, yang jelas hanya mereka dan Tuhan yang tahu.


"Ra, udah tidur?" tanya Rayyan masih dengan posisi yang sama.


"Belum, bentar lagi. Kamu nggak tidur?"


"Nggak bisa merem, aku cium kening kamu boleh nggak, pengen nyapa tubuh kamu, siapa tahu aku bisa cepat tertidur," pintanya sungguh meresahkan.


"Nggak boleh! Tidur Mas!' ujar perempuan itu semakin tidak tenang.


"Ra, aku gerah, aku boleh buka baju nggak sekalian buka celana panjang aku, aku nggak biasa tidur gini, kamu kan paham sayang."


Astaga! Ini orang banyak maunya.


"Eh, jangan! Nggak boleh, Mas, yang benar saja." Rania tidak jadi tidur, melainkan langsung bangkit waspada.


"Jangan berani-beraninya buka baju, apalagi buka celana, pokoknya nggak boleh!" peringatnya tegas.


"Kenapa, aku nggak bisa tidur, Ra, sumpah jangan parnoan!"


"Ya udah pulang aja sana, ini di rumah aku, jadi ikut aturan aku!" kekeh Rania serius.


"Yaudah iya iya, aku nggak jadi buka baju, night, mimpi indah!" ucap pria itu kembali merebah seraya memejamkan matanya.


Rania meneliti pria itu yang menutup mata dengan lengannya. Ada rasa kasihan, namun ia juga takut pria itu berulah.


Perempuan itu turun dari ranjang, ia sama sekali tidak bisa memejamkan matanya barang sejenak pun. Tiba-tiba vibrasi handphonenya memekik panggilan vidio dari Mama Inggit, membuat perempuan itu shock seketika.


"Mama!" gumam Rania panik seraya menatap Rayyan yang masih tenang tiduran di tempatnya.