
Rens melangkah dengan lunglai, kaki nya begitu bergetar. Jantungnya nya pun berdetak dengan hebatnya, keringat dingin membasahi tubuhnya. Dengan Nafas tersengal Rens mempercepat larinya hingga Akhirnya.....
Brukk.....Srahhss
Dia terduduk dengan lutut menumpu diatas pasir. Cardigan panjang dan celana nya kotor akibat pasir. Kaki nya sudah tak kuat lagi untuk berlari...
Seketika tangisan nya pecah dengan wajah yang menunduk. Dia menggenggam kuat ujung cardigan yang dipakai nya.
Nathan yang melihat istrinya terjatuh pun langsung lari menghampirinya. Begitu pun Tara berlari mendekati Rens, namun langkah nya terhenti saat melihat Nathan yang sudah sigap duluan. Dia sedikit memundurkan langkah nya...
Sedangkan diujung sana Sheila terlihat sedikit iri kepada Rens. Sakit sedikit hati nya saat melihat Tara yang begitu antusias terhadap Rens....
" Sayang.....kamu ngga papa kan " ucap Nathan cemas, matanya berkaca melihat Rens yang begitu terlihat menyedihkan.
Rens tak menjawab dan terus terisak dalam tunduk nya....
" Sayang.....jangan diam aja ayo berdiri " ucap nya lagi.
Nathan pun memegang dagu Rens dan menegak kan nya. Begitu terkejutnya dirinya saat melihat Rens menangis. Bahkan matanya yang sembab, hidungnya yang memerah, bibir nya pucat dia tahu jika Rens telah menangis sedari tadi.
Nathan menoleh kearah Tara dengan Tajam, seakan meminta jawaban atas kondisi sang istri. Namun Tara tak memberikan jawaban dia hanya diam menatap Rens yang masih menangis.
Sheila mendekat kearah mereka bertiga, dia begitu penasaran dengan apa yang terjadi pada Rens. Bagaimana bisa Tara dan juga Rens berada disana......
" Apa yang terjadi ? bagaimana bisa kalian kesini ? " Tanya Sheila pada Tara dengan setengah berbisik.
Tara pun tersadar jika disana bukan hanya mereka bertiga tetapi ada Sheila juga saat itu. Dia menatap sendu kearah Sheila yang bertanya. Tatapan wajah nya seakan tak percaya dengan kebenaran jika Sheila adalah mantan tunangan dari Nathan....
" Tar.... " ucap Sheila lagi sembari ia melambaikan tangan nya didepan wajah Tara.
Tara pun menggapai tangan Sheila, lalu pamit untuk pergi membawa Sheila pergi dari sana. Dia sangat mengerti jika saat ini Rens dan Nathan membutuh kan waktu berdua untuk bicara...
Sheila terkejut dan dia tidak bisa apa-apa saat Tara menarik tangan nya. Dia hanya mengikuti saja Tara membawanya pergi. Sedikit rasa penasaran menghampiri hatinya...
.
.
.
Kepergian Tara dan Sheila...
Rens menatap wajah suaminya yang kini berada tepat dihadapan nya. Matanya kembali berkaca dan mengeluarkan cairan bening.
Nathan masih dengan perasaan cemas nya, dia menatap kedua bola mata istrinya itu dengan sangat dalam. Dicarinya suatu alasan dibalik tatapan mata sendu berkaca itu.
Hatinya serasa ditusuk jarum-jarum kecil melihat sosok wanita yang dicintai nya itu menangis. Nathan menarik tubuh Rens hingga kedekapan nya. Dipeluknya dengan erat istrinya yang terduduk dihamparan pasir putih itu.
Rens terus menangis hingga terisak-isak, nafasnya juga tak karuan karna hidungnya yang tersumbat karna menangis.
Nathan mengelus-elus kepala Rens dengan lembut tak lupa ia menghujani pucuk kepala istrinya itu dengan kecupan lembut.
Malam itu dipinggir pantai dengan suara deburan ombak serta lampu-lampu hias yang ada disepanjang pantai. Nathan mendekap istrinya itu dengan sangat hangat diatas hamparan pasir putih.
" Sayang berhentilah menangis, katakan padaku kenapa kau menangis? dan apa yang membawa mu hingga kesini? " Tanya Nathan dengan nada suara serak nya dan pelan.
" hiks....hiks....kau jahat Nathan .... " Akhirnya Rens pun membuka mulut nya dan berbicara.
Rens memukul pelan dada bidang Nathan, seraya ia terus mengatakan Nathan Jahat.
" Kau itu sangat jahat ....jahat...jahat hikss hikss " masih terisak.
" Baiklah iya aku jahat...tapi katakan aku jahat kenapa ? " Nathan mencoba menahan tangan Rens.
" kenapa kau tidak jujur padaku jika kau pergi bersama nya? kamu jahat Nathan, kamu sengaja sembunyiin ini semua dari aku kan "
" Jujur apa? maksudmu Sheila? bukan kah aku sudah mengatakan jika aku akan berangkat bersama GM baru " Ralat nathan.
" Stephanie.....Kau tidak jujur jika kau sudah tahu dia adalah Stephanie hiks hiks " ucap Rens lirih.
Rens mendorong tubuh Nathan hingga membuat Mereka terduduk diatas pasir.....
Deg....deg....deg
Demi apa, Nathan seperti tertancap pisau belati didadanya . Dia terkejut dengan ucapan Rens....
" Dia sudah tahu......aku menyesal tak memberitahu nya lebih awal!! " Bathin Nathan.
Nathan kembali beranjak dari duduk nya, dia mendekati Rens lagi. Di tariknya kembali Rens yang masih terisak duduk dipasir itu.
Awalnya Rens menolak, namun apa daya kekuatan Nathan lebih besar. Nathan mendekapnya semakin erat. Tak terasa cairan bening keluar begitu saja melaui sudut matanya yang memanas.
" Maaf kan aku sayang....aku minta maaf karna tak memberitahu mu dari awal " ucap Nathan dengan suara serak nya.
" ....maaf kan aku " lanjutnya.
" Apa kau pernah sekalipun memikirkan bagaimana perasaan ku? " Rens menaikan nada bicaranya yang sangau karna menangis.
" ......atau jangan-jangan kamu hanya pura-pura kah terhadapku!! semua ucapan mu itu palsu iyaa " lanjut nya.
Nathan tersentak mendengar ucapan Rens, dia melonggarkan dekapan nya dan memegang pundak Rens. Kini mereka saling berhadapan.
Raut wajah Rens berubah seketika, kemarahan nya mbuat dirinya makin kecewa pada Nathan. Kekecewaan nampak jelas diwajah nya....
" Sayang, kenapa kamu bicara seperti itu? percayalah semua perasaan ku padamu itu tulus dari hatiku " Nathan berucap dengan tatapan sendu nya.
" ....mungkin awalnya aku memang mengharapkan Stephanie kembali tapi sekarang aku sadar perasaan ku pada nya hanya sekedar perasaan bersalah!! Sedangkan kepadamu sangat lah tulus, aku telah jatuh cinta padamu Renesmee " lanjut Nathan dengan melas nya.
Deg....
Dia memutar bola matanya, ditariknya nafas dalam-dalam. Air matanya yang tadi menetes sudah hilang kini hanya matanya saja yang berkaca.
" Kamu kira hatiku ini mainan kah? Jika aku hanya pelarian saja maka biarkan aku pergi, aku janji tidak akan mengganggu hidup mu lagi Nathan.... " ucap nya dengan memaksa kuat.
" .....aku yang akan mengalah jika kau masih terus mengharapkan tentang Stephanie " lanjut Rens. Dia memalingkan wajah nya kearah lain menahan tangisnya.
Nathan Tersentak kembali mendengar kata-kata itu dari mulut Rens. Dia tak menyangka dan tidak percaya jika kebodohan nya akan membuat Rens pergi meninggal kan nya.
" Sayang....dengarkan aku kali ini !! aku sangat mencintai mu aku ngga akan pernah melepaskan mu " ucap Nathan dengan air mata yang telah menetes dikedua pipinya.
" Kamu begitu Egois Nathan, kau tak ingin melepasku tapi kau selalu menyakiti hatiku!! Sudah cukup penderitaan yang aku hadapi terus menerus, aku capek tau " Bentak Rens.
Rens begitu tak tega melihat Nathan, pria angkuh dan arogan yang dicintai nya sedang memelas memohon dihadapan nya.
Ingin sekali dia memeluk Nathan saat ini juga, namun diurungkan nya niatnya itu. Dia harus kuat saat ini.....
" Its Fake, aku tahu dengan jelas jika selamanya kamu tidak akan pernah bisa mencintai orang lain selain Stephanie " Rens kembali memalingkan wajah nya setelah berucap.
" .....kau itu tidak akan pernah tulus mencintaiku!! kamu hanya pria egois dan jahat aku membencimu Nathan.... hiks hiks hiks " tak bisa menahan nya akhirnya Rens kembali menangis sejadi-jadinya.
Nathan hanya bisa diam dan menunduk mendengar semua makian Rens terhadapnya. Karna semua itu benar dia memang bukan lah orang baik melainkan orang yang sangat jahat. Bahkan dia selalu saja membuat Rens tersakiti.....
Rens beranjak dari duduk nya, dia berdiri dan melangkah kearah deburan ombak yang besar itu. Nathan terkejut melihatnya....
" Kamu mau ngapain ? " Tanya Nathan setengah berteriak.
Rens menoleh dengan tatapan lirih nya, dia kembali melangkah dengan sempoyongan kearah laut. Nathan ikut berdiri dari duduk nya.
" Apa tunggu aku mati ? baru kamu bisa mencintaiku dengan tulus seperti kamu mencintai Stephanie " Rens tersenyum dengan tatapan sendunya.
" Nathan....lebih baik aku pergi bersama kedua orang tuaku, itu yang terbaik untuk kita berdua!! Aku tidak akan tersakiti olehmu lagi dan kamu bisa leluasa kembali bersama Stephanie yang kamu telah kamu temukan.... " Bathin Nathan.
" Sayang berhenti.....apa maksudmu!! jangan macam-macam ini sudah malam, kau bisa mati membeku disana " ucap Nathan meneriaku Rens.
Rens semakin memantap kan langkah nya menuju deburan ombak besar itu. Tak sempat Nathan mengejar Rens, Rens telah lenyap disapu ombak besar...
" RENESMEE..... " teriak Nathan berlari mengejar Rens.
Nathan panik dan gelagapan, trauma nya kembali melanda. Dia terduduk dipasir lembab yang basah karna air laut.
Dipeganginya kepalanya yang sakit, dada nya sesak nafas nya pun tersengal. Ingatan kejadian saat itu masuk difikiran nya lagi.
Namun semua itu dilawan nya, dia memandang kearah ombak yang menyapu Renesmee. Dipaksanya untuk berdiri dan akhir nya dia berlari dan melompat kedalam ombak tersebut.
Dingin nya air lau malam kala itu seperti menusuk pori-pori kulit nya. Jantungnya memacu dengan begitu cepat. Ditelusurinya sekeliling. Pokoknya yang ada difikiran nya sekarang hanyalah Renesmee dia tak mau kehilangan seseorang yang dicintai nya untuk kedua kalinya....
" Rens....aku akan menebus kesalahan ku padamu!! jika kali ini aku diberi kesempatan untuk menolong mu aku akan berjanji sehidup sematiku aku akan mencintaimu seorang dan membuatmu bahagia ..... " Bathin Nathan.
Dikegelapan dia terus berenang mencari keberadaan Renesmee, sampai akhirnya dia menyentuh sesuatu yang panjang. Dia sadar jika itu adalah cardigan milik Renesmee. Digapai nya ujung cardigan itu, dan benar saja dia berhasil menggapai tubuh Rens dan membawanya kepinggir pantai.
Dengan langkah lunglai Nathan menggendong tubuh Rens yang lemas dan dingin itu. Lalu direbahkan nya dihamparan pasir putih yang kering dari air laut.
Dibukanya cardigan Rens dan menelentangkan tubuhnya. Dengan sigap Nathan langsung memberi pertolongan pertama untuk seseorang yang tenggelam.
Dia menaruh kedua tangan nya didada milik Rens dan memompa nya beberapa kali. Air matanya mengalir begitu deras nya hingga berjatuhan dipipi Rens.
" Rens....aku mohon bertahanlah!! maaf kan aku....maaf kan kebodohan ku ini!! aku berjanji aku akan membuat mu bahagia aku janji hiks hiks hiks " ucap Nathan disusul dengan tangisan nya.
Sesekali ia meniup mulut Rens dengan memencet hidungnya. Dia terus memompa dada Rens. Hingga beberapa kali ia mengulang nya namun tidak ada tanda tanda dari Rens.
Nathan Berhenti melakukan nya dipeluknya tubuh Rens yang terbaring lemas itu. Wajah sendunya memucat, bibir nya yang merah menjadi membiru.
" Tidak Rens....Tidak......jangan tinggalkan aku!! aku mohon sayang bangunlah "
Tangisan Nathan semakin pecah, dia benar-benar merasa terpukul saat itu. Dia memohon-mohon beberapa kali untuk Rens bangun.
" Sayang jangan tinggalkan aku....aku akan menebus semua kesalahan ku aku janji sayang bangun lah " Nathan terhs mendekap tubuh istdinya yang masih lemas dan dingin itu.
Namun tiba-tiba saja, tubuh Rens bergetar lalu dia memuntahkan air yang begitu banyak dari mulutnya.
" uhuk uhuk uhuk..... " Rens terbatuk-batuk akibat air tersebut.
" Sayang....sayang syukurlah kamu bangun " Nathan memegangi wajah istri nya itu.
Nampak kelegaan tergambar jelas diwajah nya. Dia begitu bersyukur tuhan masih memberinya kesempatan untuk menebus kesalahan nya kepada Renesmee.
" Nathan....hiks " ucap Rens lirih dan langsung memeluk Nathan.
" Sayang.... aku janji mulai sekarang aku akan berusaha membuat mu bahagia dan tidak akan menyakitimu lagi!! jadi jangan pernah berfikiran untuk meninggalkan ku ok " ucap Nathan. Rens pun mengangguk lalu kembali menenggelamkan wajah nya dibalik dada bidang Nathan.
Nathan pun membalas pelukan Rens, lalu mendekapnya dengan begitu erat nya.
Saat itu deburan ombak, angin laut yang deras , lampu-lampu hias, serta hamparan pasir putih dipinggiran pantai itu seakan menjadi saksi janji cinta Nathan pada Rens.
.
.
.
.
Bersambung.....besok lagi yah dear thankyou untuk hari ini!! semoga kita semua selalu diberi kesehatan yah
Happy Reading guys.....🤗🤗🤗