
"Huh....jadi kamu suruh aku kesini....buat bersihin ini semua?" pria yang baru saja datang itu kini berdiri dibalik pantry yang sangat berantakan di dapur Gavin.
"Iya..." Gavin tersenyum lebar. "Bersihin ini semua sampai rapi dan benar-benar bersih.....lemburan kali ini dua kali lipat" sambil menatap layar ponselnya.
"Apa yang kamu lakukan dengan dapur ini? Berantakan seperti habis ada perang saja....." menatap ngeri ke arah pantry yang kotor. kulit buah berserakan, alat pencacah yang kotor serta sendok,pisau,garpu dan wadah-wadah bekas terpakai tidak di cuci.
Huh.....
Suara helaan nafas malas dari pria itu. Pria itu tak lain adalah Rey. Rey, pria berparas tampan itu adalah asisten pribadi sekaligus sekertaris Gavin. Rey juga merupakan sahabat Gavin semenjak duduk dibangku kuliah dulu. Rey mempunyai sifat baik hati, suka menolong, jika di jam kerja Rey berbicara dengan formal, tapi jika di luar jam kerja dia akan berbicara non-formal terhadap Gavin. Layak nya berbicara pada sahabat sendiri. Tetapi sayang nya Rey type lelaki 'Bad Boy' yang suka bermain dengan dunia malam. Mabuk-mabukan dan bermain dengan wanita berbeda-beda setiap malam nya.
Dengan raga yang setengah sadar akibat pengaruh minuman keras. Rey bergerak membersihkan dapur Gavin dengan perlahan. Sesekali ia membasuh wajah atau lebih tepatnya menyiprat-nyipratkan air ke mata nya. Agar tersadar dari mabuk nya.
Sedangkan Gavin masih dengan posisi yang sama. Bersandar di ambang pintu. Dengan tangan kanan bermain ponsel dan yang kiri masuk ke saku celana.
Suasana hening. Hanya terdengar suara dari Rey yang sedang bersih-bersih saja. Tetapi tiba-tiba saja. Gavin berteriak girang membuat Rey terlonjak kaget.
"YEESSSS......" teriak Gavin girang mengusap-usap layar ponsel nya sambil tersenyum lebar.
"Aku tau kamu pasti menyukai nya.....hahaha" lanjutnya tertawa.
Rey menatap sinis Gavin. Dia seperti orang gila saja. Berteriak, senyum-senyum sambil tertawa seperti orang kesurupan. Begitulah kira-kira sorot mata Rey yang menatap sinis Gavin.
"Apa? Kenapa melihatku seperti itu?" Gavin menatap tajam Rey yang melototi nya. Rey tersadar dan langsung geleng-geleng. Kemudian melanjutkan pekerjaan nya yang terhenti.
"Dasar gila...." gerutunya pelan sambil menaruh gelas dan sendok-sendok ke wastafel cucian piring. Dengan sedikit hentakan karna kesal.
"Hei....itu barang-barang mahal, kalau pecah aku akan memotong gajih mu...." Gavin melotot ke arah Rey. Dengan kata-kata yang sangat pedas dan ancaman sadis.
Rey menghela nafas nya panjang, berbalik tersenyum paksa ke arah Rey. "Baik bos.....saya akan lebih berhati-hati" ucap nya dengan penuh penekanan.
Gavin terkekeh menyeringai. "Bagus-bagus.....kalau begitu cepat selesai kan, aku mau tidur dulu" berlalu pergi meninggalkan Rey.
".....oh iya, jangan lupa tutup pintu dengan rapat jika kau pulang nanti." Gavin kembali mengintip dari balik daun pintu. Tersenyum lebar sangat menawan. Suasana hatinya sedang senang hari ini.
"Huhh.....rasanya ingin sekali aku menonjok wajah gila nya itu....." Rey mengepalkan tangan ke arah Gavin yang berlalu pergi meninggalkan nya.
***
Di dalam kamar nya....
Gavin merebahkan tubuhnya di atas ranjang king size nya. Kamar bernuansa gelap dengan interior yang klasik itu terlihat elegant. Berang-barang nya juga tidak terlalu banyak. Hanya ada sofa, meja dengan kaca besar, lemari, home theater, serta balkon yang terdapat mini bar disana.
Terkadang jika dirinya merasa bosan. Gavin menghubungi Marvin atau Rey untuk menemaninya minum. Mabuk-mabukan pergi klub memang dia suka.Tetapi Gavin tidak seperti Rey yang suka bermain wanita. Karna hatinya sudah terkunci, hanya ada satu nama yang terlukis indah disana. Yaitu 'Reghata'.
Dari mereka kecil. Gavin memang suka dengan Reghata. Awalnya hanya cinta monyet. Tetapi berlanjut hingga dia dewasa. Hanya Reghata wanita yang mampu membuat hatinya berdebar-debar. Semakin bertambah umurnya, semakin bertambah pula rasa suka nya pada wanita cantik itu. Hingga sekarang rasa suka itu berubah menjadi rasa cinta dan ingin memiliki dia seutuh nya.
Namun kini dia tahu jika sang kakak sebenarnya tidak mencintai Reghata. Dan berniat untuk membatalkan perjodohan ini. Hati Gavin merasa lega. Entah itu jahat atau tidak, tapi Gavin memang merasa seperti itu. Masih ada kesempatan untuk nya mendapatkan hati Reghata dan menjadikan miliknya seutuhnya.
Gavin menatap layar ponselnya. Senyumnya mengembang melihat foto Reghata. Wanita itu ternyata mengirimi Gavin foto. Karna itu Gavin menjadi kegirangan waktu di dapur tadi.
Gavin tidak percaya Reghata mengiriminya pesan singkat saat itu. Lalu beberapa saat kemudian sebelum sempat dia membalas. Masuklah sebuah gambar yang dikirimkan padanya. Saat dibuka, Gavin terkejut dan semakin kegirangan. Wajah cantik menawan berpose selfie memegang buket bunga dan botol jus yang sudah habis. Tentu saja hati Gavin jadi berbunga-bunga.
Saat sedang asyik menatapi foto Reghata. Tiba-tiba saja ponselnya berdering ada panggilan masuk. Yang ternyata dari Marvin sang kakak. Gavin terkejut dan langsing mengangkatnya.
"Hallo....kamu dimana? Gila yah seminggu sudah kamu menghilang tanpa kabar....Mamah Anna selalu menanyakan kabar mu" geram sampai tanpa sadar dia membentak sang kakak.
"Maaf....katakan padanya aku baik-baik saja, hanya terjadi sedikit masalah.....mengenai Re, tolong kamu bantu aku...." suara Marvin terdengar lemah dan pelan, seperti sedang menahan sakit.
"Hmm...baiklah....tapi ada apa dengan suaramu? Kenapa kau seperti sedang menahan sakit? Dimana kamu biar aku jemput sekarang...."
"Aku tidak apa-apa.....gak usah khawatir, aku juga sudah menghubungi ayah...."
"Baiklah....cepatlah kembali, pernikahan mu tiga hari lagi" suara Gavin pelan dan lirih, menyebutkan tentang pernikahan Marvin dan Reghata membuat hatinya perih.
"Aku sudah membatalkan nya.....aku juga sudah memberitahunya...."
"APA? Gila yah....kamu gak mikir gimana perasaan nya dia? Gimana perasaan semua orang?" nada suara Gavin meninggi seperti kesal. Tetapi sebenarnya dalam hati dia senang mendengarnya.
"Karna itu tolong kamu membantuku....."
Panggilan pun terputus seketika.
"Hallo....hallo.....Marvin....Marvin?.....Shitt....." Gavin melempar ponselnya di sisi sebelah kirinya. Memijit pelipisnya yang menegang.
Apa yang harus dia lakukan sekarang? Meskipun dia tahu jika Reghata juga tidak mencintai Marvin. Tapi dia juga wanita, mendengar pembatalan pernikahan dari Marvin. Pasti sangat menyakiti hatinya sebagai wanita. Walaupun dari luar nya Reghata wanita keras kepala dan kuat, tpi di dalam nya terdapat sosok yang rapuh. Serapuh seperti jiwa setiap seorang wanita.
Dia pun beranjak. Duduk diatas ranjang, meraih kunci mobil yang ada diatas nakas. Ketika hendak turun dari ranjang. Tiba-tiba ponselnya bergetar ada pesan masuk.
Gavin pun meraih ponsel dan membaca isi pesan tersebut. Yang ternyata dari Reghata. Baru saja dia ingin menemui wanita itu. Tapi sekarang malah dia yang menghubungi Gavin duluan.
Isi pesan nya.
~Besok bertemu di Restauran xxxx, jam makan siang. Pastikan jangan membuatku menunggu lama, ada sesuatu yang ingin ku bicarakan padamu~
Senyum lebar pun tercipta di wajah tampan lelaki itu. Wanita nya ingin bertemu. Sebuah kesempatan yang jarang sekali dia pikir. Bakal tidur nyenyak lagi Gavin malam ini. Walaupun sebenarnya dia juga penasaran, apa yang ingin di bicarakan oleh Reghata.
TBC.
Note : Jangan lupa untuk like dan vote, biar aku tambah semangat untuk up nya. Happy Readings🌹🌹🌹