
Nathan menggenggam tangan ku dengan begitu eratnya. Matanya yang bernetra coklat dengan bulu mata lentik, menatap ku dengan sangat lekat.
"Maksudmu dia sudah meninggal? jangan bercanda Nathan..." Aku kembali bertanya, rasanya sangat tidak etis jika Nathan harus berbohong demi hubukan kami membaik.
"Aku tidak berbohong sayang, Stephanie meninggal dihari pernikahan kami" ucap Nathan sembari memalingkan wajahnya kearah lain.
Mungkin ia tidak mau jika diriku melihat kesedihan nya yang nampak sangat jelas.
"Hari pernikahan kalian?" tanya ku dengan raut wajah yang makin penasaran.
"Iya....dia mengalami kecelakaan mobil yang sangat tragis,terlebih saat itu akulah yang mengemudi mobil tersebut.." Ucap nya lagi dengan nada lirih.
Kini Nathan beranjak dari duduk nya, lalu berjalan meninggalkan ku yang masih terpaku mendengar ucapan nya.
Sesaat aku tersadar jika Nathan sudah tidak ada lagi disampingku. Aku pun menoleh kekiri dan kekanan, mencari-cari sosok nya yang ternyata berada dibalkon.
Aku pun menghampiri nya dan berdiri tepat disampingnya. Nathan menatap langit biru yang masih berawan karna bekas hujan.
"Kami mengalami kecelakaan yang sangat mengerikan, bahkan rasanya aku tak sanggup untuk mengingatnya..." Aku mendengar suara nya yang sedikit bergetar, kurasa dia telah menangis.
"..jika bukan karna aku mungkin dia pasti masih hidup sampai sekarang, aku terlalu keras kepala saat itu seharusnya aku menuruti apa kata mamih dan tidak memaksa diri untuk mengemudi dihari pernikahan ku.....hiks...hiks...hiks" lanjutnya sembari ia terduduk dan menangis menutupi wajahnya.
Aku terkejut saat itu, Nathan yang terlihat kejam dan arogant bersikap seperti ini. Dia seperti seseorang pasien psikiater, dia menjadi kehilangan kendali.
Badan nya bergetar, keringat dingin mengucur deras diseluruh tubuhnya, dia terus menangis sambil menutup wajahnya.
Aku yang melihatnya ikut merasa sedih dan terpukul. Ingin rasanya aku memeluk nya saat ini.
"Ini semua salah ku.....aku memang pria brengsek...Nathan kamu brengsek" Nathan memaki-maki dirinya sendiri.
Dia mulai memukul-mukul kepalanya dan menghantup kan nya kepagar balkon hingga beberapa kali.
Sontak aku pun langsung ikut duduk disebelah nya, lalu aku menggapai tangan nya yang terus memukul kepalanya sendiri.
Aku pegangi kepalanya dan menengadah kan wajahnya hingga bertatap dengan ku. Perlahan aku usap air matanya yang terus mengalir.
"Aku ini pria yang jahat, aku pembunuh Rens!! aku sudah membunuh Stephanie...hikss....hikss..."
"Hei....hei sudah itu bukan salah mu, memang sudah takdir nya seperti ini" Aku mencoba menenangkan dirinya.
"terakhir kali dia bilang jika dia takut pada laut karna dia tidak bisa berenang.....tapi apa akhirnya tabrakan itu menyebabkan mobil kami jatuh kelaut"
"AAAAA......aku telah membunuh Stephanie dengan egoku saat itu, aku tak pantas bahagia diatas kematian nya" dia kembali merocos macam-macam yang aku tidak mengerti.
Nafas nya terdengar tidak beraturan dan juga detak jantung nya berdetak dengan cepat nya, wajahnya pun memerah karna menangis.
Aku memeluk nya dengan erat dan menyenderkan kepalan nya didekapan dadaku. Nathan semakin terisak-isak dalam tangis nya.
"Sudah sayang.....tenanglah itu bukan salah mu ok"
"Ngga....itu memang salah ku!! aku saja tidak bisa menyelamatkan nya, dia pasti begitu kedinginan dan ketakutan saat itu.....hikks hikks"
"....aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri mengingat kejadian itu"
"Nathan.....sudah kubilang jangan salah kan dirimu sendiri, aku jadi ikut sedih melihatmu seperti ini...hiks...hiks...hiks"
Akhirnya air mata yang aku tahan-tahan sedari tadi pun menetes membasahi kedua pipiku.
Aku semakin memper erat dekapan ku kepada Nathan, aku tak mau dia menyakiti dirinya sendiri karna merasa bersalah pada kematian Stephanie.
"Aku pantas untuk tidak bahagia, bahkan aku pantas jika setiap malam aku harus bermimpi buruk untuk mengingat kematian nya..."
Deg....
Hatiku pun tersentak, saat mendengar perkataan Nathan. Ternyata selama empat tahun ini dia tidak pernah tidur dengan nyenyak karna merasa bersalah pada Stephanie.
Hatiku sedikit sakit mendengar penderitaan yang dialami Nathan, aku jelas-jelas tidak tahu jika dibalik sikap kejam nya. Ada sosok yang begitu rapuh, sosok yang menyembunyikan kesakitan nya sendiri tanpa diketahui orang lain.
"Sayang tenang yah....ini bukan lah kesalahan mu, Stephanie juga pasti merasa sangat sedih jika melihat dirimu seperti ini"
"Dia pasti sangat ketakutan dan kedinginan sebab dia sangat takut pada laut, sedangkan aku tidak bisa berbuat apa-apa saat itu"
Hatiku kembali sakit mendengar nya menyesal akan hari itu. Bukan nya aku sangat egois tapi aku juga manusia, aku masih memiliki sebuah hati.
Aku bersyukur karna kejadian itu bisa mempertemukan aku dengan Nathan, namun disisi lain aku tak bisa bahagia diatas kematian Stephanie yang begitu membuat hidup Nathan suram. Penuh dengan rasa bersalah.
Tiba-tiba saja Nathan mengalami sesak, dia memegangi dadanya sendiri. Aku panik dan tidak tahu harus seperti apa.
"Aaggh.....sakit sekali" Nathan mengerang kesakitan.
"Nathan.....apa yang terjadi?" Aku sangat cemas saat ini.
"Sakit Rens, dadaku sangat sakit"
"....Aghhh, Rens" dia kembali mengerang.
Aku semakin bingung, wajah Nathan juga semakin pucat.
"Nathan.....bagaimana ini? aku harus apa? aku tidak mengerti" aku semakin panik, dan kening ku berkeringat.
Aku pun menyenderkan kepala Nathan dipagar balkon, lalu aku berdiri hendak mengambil ponsel ku untuntuk menelpon Kevin.
Namun saat aku hendak melangkah, tiba-tiba saja tangan ku ditahan oleh Nathan. Aku pun menoleh kearahnya, nampak wajah nya yang memucat, matanya juga sangat sayu.
"Jangan pergi....." ucap nya lirih.
"Aku harus meminta bantuan....." aku kembali hendak melangkah, namun Nathan masih menahan tanganku...
"Tetap lah disini....dan peluk diriku" ucapnya dengan nada lemah. Matanya pun mulai menutup, pegangan tangan nya terlepas, tangan nya terhampas kelantai.
"Nathan.....Nathan sadarlah" Aku langsung memeluk nya kembali.
"Aku masih sadar sayang.....tetap lah seperti ini sebentar saja" Nathan kembali membuka matanya dengan perlahan, aku bisa merasakan tubuhnya yang melemas.
Disaat seperti ini masih sempat dia tersenyum padaku, aku mengerti maksudnya. Dia tersenyum padaku untuk membuat ku sedikit tenang dan tidak panik.
Dia pun bersender di dadaku dan menutup matanya. Begitu pun aku yang mendekap nya dengan begitu erat.
Mungkin saat ini dia sangat membutuh kan seseorang untuk bersandar, mengingat bagaimana setiap malam dia selalu tidak pernah tidur nyenyak. Pada siapa dia bisa bersandar, pasti dia menyimpan nya sendiri.
Deg....
Tiba-tiba saja terlintas dibenak ku, kejadian saat dihari pernikahan kami. Saat mobil pengantin kami melewati sebuah tebing curam yang disamping kirinya adalah laut lepas.
Saat itu Nathan juga seperti ini, bahkan lebih parah. Apa disana adalah tempat dimana kecelakaan mereka berdua.
Dan juga perkataan Mamih Barbara teringat kembali dikepalaku....
Flashback on
"Mamih....kenapa mamih menangis?" tanya Rens cemas.
"hmm....Mamih titip Nathan yah!! Mamih harap Nathan bisa kembali seperti dulu lagi dan melupakan kenangan buruknya?" ucap Barbara menangis lalu tersenyum padanya.
"Seperti dulu? Kenangan buruk? Maksud Mamih apa Rens tidak mengerti?" tanya Rens bingung serta penasaran.
"hmm...nanti kau pasti akan tau sendiri jika tiba saat nya" ucap Barbara tersenyum seraya berlalu meninggalkan Rens yang masih terpaku diam.
Flashback off
Aku menghela nafas dengan panjang, ternyata inilah maksud dari perkataan Mamih saat itu.
Mamih meminta ku untuk menjaga Nathan, dan berharap Nathan akan bisa kembali seperti dulu. Mamih juga berkata Nathan harus bisa melupakan kenangan buruk itu.
Tenang saja Nathan, aku pasti akan terus berada disampingmu. Aku yakin kamu pasti bisa keluar dari keterpurukan mu ini.
Aku akan membuat mu kembali merasakan apa itu kebahagiaan dan melupakan kejadian buruk itu, dengan seiring berjalan nya waktu.
Kita berdua pasti akan melewati semua ini bersama, AKU MENCINTAI MU NATHAN!!