Terjebak Takdir Cinta Presdir

Terjebak Takdir Cinta Presdir
MUSIM KE-3 : Episode 10


Sepeninggal Reghata dan Shina.....


Gavin duduk dengan memangku kaki kiri di atas kaki kanan di sofa. Sambil menyeruput teh nya Gavin sedari tadi sedang memainkan ponselnya.


"Siapkan mobil Reyy....." Titah nya kepada asisten nya itu.


"Mau kemana? Ini hari libur bro..." Decak Reyy dengan raut wajah masam.


"Kalau ini hari libur kenapa kau kemari? Sudah jangan banyak tanya, lakukan saja perintahku....atau kau mau aku gantikan?" Raut wajah Gavin benar-benar seperti mengancam.


"Baiklah, tunggu disini aku akan menghubungi mu jika sudah di lobby......" Reyy menghela nafas panjang. Dengan langkah berat dia pergi melalukan apa yang diperintahkan oleh Gavin. Bagaimana pun Gavin adalah atasan nya.


***


Diperjalanan....


Dengan pakaian casual rapi baju kaos putih celana jeans hitam serta jas santai berwarna biru muda. Mau kemana gerangan Gavin? Reyy terus menerus melirik bos nya itu dari kaca sepion tengah.


"Mau kem---" belum selesai bicara sudah dipotong oleh Gavin.


"Belok kiri...." Gavin menunjuk arah kiri menggunakan lirikan mata saja.


"Baiklah...." angguk Reyy yang langsung memutar setir kemudi ke arah yang di tunjuk Gavin.


Reyy mengedarkan pandangan nya sekeliling jalanan. Dia sadar jika dia tahu jalan yang mereka tuju ini kemana. Ke rumah utama Reghata. Tempat tinggal Nathan dan Rens mertua Gavin.


"Bukan kah ini jalan ke---" Reyy melirik Gavin.


Gavin hanya mengangguk sambil menutup mata dan menyandarkan tubuhnya. Tangan nya melipat di depan dada yang naik turun karna nafas nya yang berat.


"Jangan beritahu Re....aku harap mulutmu itu bisa di tutup dengan baik, atau mau aku menjahit nya biar tidak bisa terbuka lagi....." Cetus Gavin.


"Tidak-tidak aku akan menutup mulutku rapat-rapat....." Reyy menelan salivanya menatap kembali arah depan. Kejam sekali pikirnya.


Tidak lama kemudian sampai lah mereka di depan sebuah rumah mewah nan megah berwarna putih elegan. Rumah utama keluarga Efron.


"Tunggu saja di mobil...." Ucap Gavin seraya membenarkan jas nya dan turun dari mobil.


Ia berjalan dengan gagah nya menuju pintu rumah yang ukuran nya sangat dua kali lipat dari pintu umum biasanya. Meskipun terlihat santai, tapi sebenar nya Gavin sangat lah gugup. Bertemu dengan kedua mertua nya, apalagi mengingat pernikahan nya yang sama sekali tidak mendapat restu dari Rens ibu mertuanya.


Gavin menekan tombol bel. Tidak berselang lama seorang pelayan membuka kan pintu dan mempersilahkan Gavin untuk masuk.


"Untuk apa orang tidak tahu malu ini datang kesini?" Suara seorang wanita menggelegar di setiap sudut ruangan santai itu. Menyambut kedatangan Gavin dengan cacian halus.


Gavin menoleh kearah sumber suara tersebut. Dengan sopan dia membungkuk sedikit dan memberi salam. Nampak Rens dan Nathan tengah duduk santai menyantap cemilan dan menyeduh teh.


"Selamat pagi paman....bibi...." Ucap Gavin sopan.


Rens tak menjawab malah membuang muka ke arah lain. Sedangkan Nathan tersenyum ramah kepada Gavin. Ia mengisyaratkan Gavin untuk bergabung duduk di sebelah nya. Gavin pun menuruti perintah ayah mertuanya itu.


"Untuk apa kau kesini? Jangan harap untuk mendapatkan restu ku, jika kau kesini untuk itu.....buang jauh-jauh harapan mu...." Ucap Rens ketus.


"Pertama-tama saya ingin minta maaf kepada paman dan bibi mengenai pernikahan kami yang di latari sebuah kebohongan.....tapi saya berjanji akan membahagiakan Reghata, saya juga berjanji tidak akan pernah menyakiti hatinya......"


Dengan membuang jauh-jauh rasa malu dan harga dirinya. Gavin menunduk dengan lutut bertumpu di lantai tepat dihadapan Rens dan Nathan. Kelembutan dan setia mengalah pasti akan bisa mencairkan hati yang keras.


"....Saya tidak meminta paman dan bibi untuk memaafkan saya, tapi saya berharap paman dan bibi tidak marah kepada Reghata....tetap lah memperlakukan dia seperti anak paman dan bibi, jangan memusuhinya hanya karna rasa ketidak sukaan kalian padaku...." Lanjut Gavin dengan kepala yang menunduk.


Tanpa sadar air mata nya menetes tapi cepat-cepat ia mengusapnya. Gavin harus tegar dan tidak boleh lemah. Karena sekarang kebahagiaan Reghata ada di tangan nya.


Nathan meraih pundak Gavin dan kembali menyuruh nya duduk di sofa. Rens melirik dengan tatapan malas mendengar ucapan sang suami kepada menantu nya itu. Menantu yang tidak pernah ia harapkan.


"Aku memang tidak menyukaimu....kamu dan ibumu sama buruknya dasar anak haram, aku hanya berharap semoga Reghata tidak menyesal karna sudah menikah denganmu....." Rens menatap tajam Gavin.


Gavin menelan salivanya. Mendengar perkataan Rens membuat sesuatu di dalam dirinya lemas. Dia langsung terbayang raut wajah sang ibu yang bahkan tidak ada hubungan nya dengan ini semua. Tapi kenapa wanita paruh baya di depan nya itu sangat membenci ibunya. Ingin rasanya Gavin berkata.....


Aku bukan anak haram bibi, dan ibuku bukanlah wanita yang buruk....


Tolong jangan menghina ibuku lagi, hina lah aku tapi jangan dia....


Tapi kata-kata itu hanya bisa ia lontarkan di dalam hatinya saja. Gavin tidak mengatakan nya langsung kepada Rens. Ia tidak mau hubungan nya dengan ibu mertuanya itu semakin memburuk, jika dirinya melawan perkataan Rens. Karena itu Gavin memilih diam tak menjawab.


Rens pun beranjak dan meninggalkan Nathan dan juga Gavin. Muak rasanya dia melihat wajah Gavin. Kebencian nya masih begitu besar.


Sedangkan Nathan malah menyentuh pundak Gavin. Tersenyum ramah kepada menantunya itu. "Jangan dengarkan perkataan bibi mu itu, sebenarnya dia adalah orang yang sangat penyayang.....aku yakin suatu hari nanti hati nya akan luluh dan bersedia menerima pernikahan kalian....."


Nathan mencoba untuk membuat Gavin tidak tersinggung dengan perkataan Rens istrinya. Gavin tersenyum singkat walupun terpaksa.


"....dan juga jangan panggil kami dengan sebutan paman dan bibi lagi, karna kamu sekarang adalah menantu kami jadi panggil kami dengan sebutan yang sama dengan Reghata" lanjut Nathan.


Gavin mengangguk. "Kalau begitu aku permisi, ada urusan mendadak di kantor....." Gavin beranjak kemudian membungkuk sopan kepada Nathan.


"Pergilah, tapi ingat tolong jaga putri kesayangan ku itu, jangan sampai dia menangis karena mu.....jika tidak kau akan mendapatkan hadiah dariku...." Ucap Nathan tersenyum kepada Gavin.


"Aku pasti akan menjaganya dengan baik dan tidak akan pernah membuatnya menangis...." Gavin berlalu pergi meninggalkan Nathan. Yang menatap sendu kepergian nya.


Didalam mobil.....


Gavin menyandarkan tubuhnya sambil memijit pelipisnya yang menegang. Perkataan Rens masih terngiang di kepalanya. Se-benci itu kah Rens kepada dirinya dan sang ibu.


Perasaan bimbang pun menghampirinya. Gavin mulai menimbang-nimbang akan kah dia bertahan dengan semua cacian itu? Dapatkah dia membahagiakan Reghata? Semua pikiran buruk berputar-putar di dalam kepalanya.


"Huh....apa yang sedang ku pikirkan? Aku tidak boleh berpikiran seperti itu..." Gavin menghela nafas panjang. Membuyarkan semua pemikiran buruk yang dia sedang dia pikirkan.


"Dimana Reghata?" Tanya nya melirik Reyy yang sedang fokus mengemudi.


"Nona Reghata sekarang berada di kantor nya...."


”APA? Di kantor?" Gavin berteriak seketika. Reyy terkejut.


"I-iya bos, nona Reghata ada di kantornya......" Reyy terbata-bata karna gugup.


"Putar arah, ke kantor Reghata....." Ucap Kevin kembali memijit pelipis dan menyandarkan tubuhnya.


Apa yang sedang dia lakukan di kantor?


Ini hari libur, apa dia sengaja ingin menghindari ku....


Heh.....lihat saja sampai dimana kamu akan terus menghindari ku Re.....


Gavin menyeringai menatap keluar jendela. Kembali teringat akan raut wajah Reghata pagi tadi.


TBC.


Note : Jangan lupa like, koment, dan votenya🙏🙏


Biar tambah semangat untuk up nya, Thankyou Happy Readings🌹🌹