Terjebak Takdir Cinta Presdir

Terjebak Takdir Cinta Presdir
MUSIM KE-3 : Episode 4


Setelah menyelesaikan pekerjaan nya, Shina sudah me-reservasi tempat di Restauran bintang lima. Restauran yang akan menjadi tempat pertemuan Reghata dan juga Gavin.


Duduk anggun dengan raut wajah dingin, sambil menyeruput segelas teh di cangkir mewah. Kesal dan geram terhadap Gavin. Sudah kesekian kalinya Reghata melirik arloji di lengan kiri nya. Hampir setengah jam Gavin belum juga datang.


Bisa-bisa nya kamu membuatku menunggu, jika sampai aku selesai menghabiskan teh ini...kau juga belum datang, awas aja jika bertemu lagi....


Reghata menggerutu di dalam hatinya.


Tiba-tiba saja pintu ruangan private itu terbuka. Masuklah seorang pria dengan setelan jas merah, dengan senyuman nya yang menawan. Tanpa ada rasa bersalah Gavin tersenyum cerah. Sedangkan yang di senyumin, hanya memasang wajah datar. Amarah sudah meledak-ledak di dalam dirinya. Tetpi Reghata masih bisa mengontrol nya.


Cihh.....dia tersenyum, tanpa merasa bersalah.....kau memang berbeda sekali dari Marvin, entah apa keputusan yang aku ambil ini sudah benar.....


Gavin pun duduk tepat dihadapan Reghata. Dengan wajah nya yang tampan-tampan tengil itu. Tak menunggu lama para pelayan langsung datang membawakan menu-menu makanan terbaik mereka. Tanpa Reghata dan Gavin memesan ternyata mereka sudah mempersiapkan terlebih dulu.


Selagi menyantap makanan masing-masing. Awalnya suasanya hening, tidak ada sepatah katapun. Hanya suara gelentingan sendok dan garpu saja yang beradu dengan piring kaca mewah itu. Sampai pada akhirnya Reghata lah yang membuka percakapan pertama.


"Bagaimana dengan perusahaan mu? Apa ayahmu benar-benar memberi tanggung jawab seluruh perusahaan kepadamu?" tanya Reghata.


Pandangan dan tangan masih fokus pada makanan nya. Reghata bertanya sambil menyuap sedikit demi sedikit makanan dengan anggun dan elegan.


"Hmm.....Tentu saja....." jawab Gavin.


Singkat dan padat. Gavin tersenyum tipis sama seperti Reghata yang masih fokus terhadap makanan nya. Begitu pun Marvin menjawab tanpa mentap wanita cantik di hadapannya itu.


"Bagaimana dengan Marvin?" tanya Reghata selanjutnya.


Kini ia menyeka mulutnya menggunakan tisu dengan perlahan. Sudah menyelesaikan makanan yang masih tersisa banyak di piringnya.


Gavin mengerinyit meliht Reghata yang sudah menyelesaikan santapan nya. Padahal masih tersisa sangat banyak makanan di piringnya.


Apa dia sedang diet? Badan nya sudah kurus begitu, untuk apa lagi dia diet. Gavin sinis melirik Reghata kemudian kembali ke makanan nya.


"Marvin tidak ingin melanjutkan perusahaan ayah....dia memilih mengembangkan bisnis Hotel dan Resort yang dia dirikan sendiri...." Gavin telah selesai makan. Dia menyeka ujung bibir nya. Kemudian duduk santai bersandar di sandaran kursi.


"Oh....lumayan lah, ternyata dia masih mempunyai sisi baik dalam dirinya" Reghata mendengus kesal.


Melipat tangan nya di depan dada, ikut duduk bersandar seperti Gavin. Tetapi wajah nya berpaling menatap ke arah luar jendela. Dari sorot mata dan raut wajah Reghata. Gavin bisa melihat kekesalan dan kemarahan yang luar biasa dari wanita cantik itu.


Dia terlihat marah dan kesal. Sepertinya Marvin benar-benar mengatakan ingin membatalkan pernikahan mereka.....


"Jadi apa yang ingin kamu bicarakan padaku?" tanya Gavin.


Mengingatkan Reghata kembali tentang tujuan pertemuan mereka ini. Reghata menatap Gavin yang juga sedang menatap nya. Dari sorot mata nya Reghata seperti sedang memohon pertolongan dari Gavin.


Gavin tersenyum tipis dari balik raut wajah datar nya. Mengerti apa maksud dari pertemuan mereka ini. Kata-kata yang akan keluar dari mulut Reghata. Sudah bisa di tebak oleh Gavin.


"Hmm.....Bisakah kamu menolongku?" lirih Reghata pelan. Dengan wajah murung tertunduk. Tidak seperti dirinya.


Gavin menyipitkan matanya. Wanita cantik itu benar-benar seperti orang yang putus asa. "Aku pasti akan menolongmu, jika aku bisa melakukan nya....katakan saja."


Katakanlah Re....


Dengan hati yang ragu-ragu. Antara mau mengatakan nya atau tidak. Jika dia mengatakan nya, pasti harga dirinya turun di depan Gavin. Tapi jika dia tidak mengatakan nya. Di pasti akan membut malu keluarga nya. Mommy dan Daddy nya yang selama ini menyayangi dan mempercayai nya. Tak sanggup Reghata untuk membuat kedua orang itu kecewa. Apabila pernikahan nya di batalkan dalam kurun waktu sedekat ini. Apa yang akan orang-orang katakan tentang keluarganya kelak.


Ayo Reghata, kesampingkan harga diri.....


Ini adalah keputusan yang tepat, hanya Gavin yang bisa menolongmu....


"Apa tawaranmu waktu itu masih berlaku?" tanya nya gugup. Wajah nya memerah menahan rasa malu. Ia juga masih berpaling belum siap menatap Gavin.


Gavin tersenyum cerah sekilas. Apakah dia salah telah berpikir ini adalah kesempatan bagus untuk nya?


Menikahlah denganku Re....Aku pasti akan membuatmu sangat bahagia....


"Tidak....aku sudah berubah pikiran, tawaran itu sudah tidak berlaku lagi" jawab Gavin santai dengan wajah polos tak berdosa.


Reghata mengerinyit heran. Menoleh tajam ke arah Gavin. Pria ini? Rasanya ingin sekali aku menjambak rambutnya.....


"Secepat itu kau berubah pikiran?" masih bertanya dengan sedikit pelan. Menahan kekesalan yang teramat dalam.


"Hmm..." Gavin mengangguk sembari beranjak dari duduk nya. Ketika hendak melangkah tangan nya di tahan oleh Reghata.


"Menikahlah denganku....gantikan Marvin menjadi calon pengantin pria untuk ku......" ucap nya dengan mata yang berkaca.


Gavin tak tega melihat air mata yang hampir menetes dari pelupuk mata wanita pujaan nya itu. Jangan menangis Re....


"Baiklah....karna kamu yang meminta nya sendiri, aku bersedia menikahi mu....aku akan datang ke apartemen mu malam ini, karna aku harus pergi sekarang ada meeting penting...."


Gavin tersenyum melepaskan perlahan tangan Reghata yang menggenggam tangan nya. Lalu berlalu keluar dari ruangan itu. Di luar ruangan dengan langkah berat dia meninggalkan Reghata di saat seperti ini.


Maafkan aku Re....


Kamu harus bisa kuat, Reghata yang aku kenal tidak akan mudah meneteskan air matanya yang berharga....jadi bertahanlah, aku pasti akan membantumu....


Ingin rasanya dia duduk lebih lama di ruangan itu. Memberikan sandaran hangat untuk wanita cantik itu menangis dan mengusap air matanya yang menetes. Tapi Gavin mengurungkan niatnya itu. Membiarkan Reghata mengeluarkan segala kekalutan di dalam dirinya. Membiarkan nya menangis sendiri untuk yang terakhir kalinya. Karna selanjutnya Gavin akan memastikan tidak ada air mata sedih yang akan menetes lagi. Hanya akan ada air mata bahagia.


Sepeninggal Gavin.....


Air mata yang sudah ditahan nya sedari tadi. Kini menetes dengan sendirinya. Tanpa isakan dan raungan yang keluar dari mulutnya. Air mata Reghata terus menetes membasahi raut wajah datar nya. Isakan dan raungan semua ditahan di dalam dirinya. Tidak ingin membuat dirinya menjadi lemah.


Tok...tok...tok


Pintu di ketuk dari luar oleh Shina. Shina pun masuk ke dalam ruangan tempat Reghata sekarang berada. Dia terkejut dengan keadaan sang bos.


Diam menatap lurus kedepan dengan raut wajah dingin dan air mata yang terus menetes tanpa henti. Membuat Shina sedikit sesak. Dia sangat tahu bagaimana Reghata orang nya. Dia tidak akan menampakan kesedihan nya dan memilih mengubur rasa sedih itu di dalam dirinya. Meskipun air matanya terus menetes, dia tetap akan keukeh tidak ingin terisak dan meraung. Sungguh wanita yang kuat dan tangguh.


Mengingatkan kita semua kepada Renesmee. Gadis manja yang tidak bisa melakukan apa-apa hanya tau menangis, tapi demi Nathan dia mau berubah menjadi wanita tangguh. Untuk merawat sang suami yang terbaring lemah koma karna kejadian na'as yang mengerikan itu.


TBC.


Note : Jangan lupa untuk like dan vote, biar aku tambah semangat untuk up nya. Happy Readings🌹🌹🌹