
Dua hari sudah berlalu.
Reghata merawat Gavin dengan sangat telaten. Dokter juga sudah memperbolehkan Gavin untuk pulang dan menjalani perawatan jalan saja.
Sore itu cuaca semakin dingin, sudah hampir menyambut musim dingin yang sebenarnya. Gavin duduk memangku kaki nya di sofa sambil membaca sebuah kertas.
Reghata berdiri di ambang pintu kamar, menatap lurus ke depan. Sungguh ciptaan tuhan yang sempurna pikir Reghata. Dia sangat bersyukur bisa dicintai pria yang baik seperti Gavin. Sempat terlintas dibenak Reghata, betapa dia sangat menyesal. Kenapa tidak dari dulu dia sadar jika ada seorang pria yang sangat mencintai dirinya.
"Aku juga mencintaimu Gavin, hari ini aku akan mengungkapkan nya padamu...."
Reghata pun menghampiri Gavin dan duduk disebelahnya. Postur tubuh yang sempurna, wajah yang tampan, sifat yang baik. Ahh.....Reghata tak bisa berhenti memuji suaminya itu.
"Vin, " panggil Reghata.
"Hmm, ada apa Re?" sahut Gavin seadanya, matanya masih tertuju pada kertas yang ada ditangan nya.
"Apa kau mau minum sesuatu?" tanya Reghata dengan nada lembut.
Gavin mengerinyit heran, dia langsung menoleh kearah Reghata. Ditatap nya sang istri dengan sangat lekat. Tumben sekali, Reghata yang sangat cuek dan tidak perduli. Menawarkan nya sebuah minuman.
"Boleh...." ucap Gavin tersenyum.
"Baiklah tunggu disini sebentar...." Reghata beranjak dari duduk nya. Dengan semangat empat lima, dia berjalan menuju dapur. Membuatkan sesuatu untuk suami tercintanya.
Setelah selesai, Reghata langsung menyuguhkan minuman itu kepada Gavin. Segelas minuman teh ginseng merah yang hangat. Akan sangat cocok diminum dicuaca dingin seperti sekarang.
"Apa ini?" tanya Gavin menatap Reghata dengan penuh selidik. Ingat terakhir kali Reghata memberikan nya makanan yang aneh.
"Ini ginseng merah....lihat sendiri" ucap Reghata.
"Tidak kau masukan yang macam-macam kan Re..." ucap Gavin memeriksa kedalam gelas tersebut.
"Ingat terakhir kali kau mengerjai ku..." sahut Gavin sembari menyeruput minuman tersebut.
Reghata terdiam, dia mulai merasa tidak enak. Dia terdengar sangat jahat sekali. "Maafkan aku...."
"Hahaha....aku bercanda sayang, kenapa kau menganggap ucapan ku serius? Bisa tidak? Jangan terlalu kaku padaku? Kita sudah suami istri Re..."
Reghata menatap lekat wajah Gavin. Dia tersenyum tanpa sadar air matanya menetes.
"Kenapa kau menangis Re? Apa perkataan ku menyakiti hatimu?" Gavin terlihat panik melihat air mata istrinya itu terjatuh.
Reghata langsung memeluk Gavin dengan sangat erat membuat yang dipeluk hampir tidak bisa bernafas. Reghata menangis sampai terisak. Gavin semakin panik dan kebingungan.
"Re? Jangan menangis, aku minta maaf jika perkataan ku telah menyakiti hatimu!" Gavin mengelus-elus kepala Reghata dengan lembut. Berharap sang istri berhenti menangis.
"Maafkan aku Vin, selama ini aku sudah sangat jahat padamu....hiks hiks hiks"
"Andai aku tahu dari dulu jika kau mencintaiku, mungkin akan lebih indah kedepannya untuk kita...."
"Maafkan aku juga yang baru bisa membalas dan mengatakan jika aku--"
Reghata terdiam sejenak menarik nafas panjang-panjang untuk mengatakan sesuatu yang beberapa hari ini di tahan nya. Akhirnya kali ini waktunya sangat tepat untuk mengatakan jika dirinya....
"Ak-....aku mencintaimu Gavin, sangat mencintaimu, sampai-sampai dada ini terasa sesak jika harus menahan nya terus menerus....hiks hiks hiks" Reghata berteriak sembari semakin mengeratkan pelukan nya.
Lega rasanya. Reghata telah mengatakan apa yang dia rasakan terhadap Gavin. Akan tetapi Reghata ada yang salah. Mengapa Gavin hanya diam saja sedari tadi. Apa dia tidak suka mendengar apa yang Reghata katakan?
...Note : Jangan lupa like 🌹🌹...