
" Kenapa nomernya masih tidak bisa dihubungi "
Aku begitu frustasi dan bingung selanjut nya harus berbuat apa. Tetapi aku langsung teringat pada Tara. Aku mencoba menghubungi nomer Tara....
Tut....tut....tut
Pada deringan ketiga panggilan ku sudah tersambung.
" Hallo Rens.... " sapa Tara disebrang sana.
" hikks...hikss....Tar kamu bisa jemput aku? " ucap ku dengan isakan tangis ku.
" Rens....kamu nangis? Kenapa? Aku bisa kok jemput kamu, kamu dimana sekarang... " ucap Tara.
Aku bisa mendengar nada suara nya yang bergetar karna cemas terhadapku, saat ia mendengar isakan tangisku.
" Na...nanti aku ceritai ke kamu !! Sekarang bisa ngga kamu jemput aku diapartemen, pliss hiks " ucap ku dengan nada memohon.
" Baiklah aku segera kesana, kamu tunggu yah " sahut Tara sebelum panggilan benar-benar terputus.
Segera aku beranjak dari duduk ku lalu aku berjalan masuk kedalam kamar ku. Didalam kamar aku mengganti pakaianku dan bersiap untuk pergi.
.
.
.
Tak berselang lama, ponselku pun berbunyi tanda pesan masuk. Ternyata itu adalah pesan dari Tara....
\=\=\=\=\=
To Renesmee
Aku sudah berada dilobby, cepat lah turun.....
\=\=\=\=\=
Setelah membaca pesan tersebut, aku langsung buru-buru menemui Tara yang tengah menunggu dilobby. Kini aku telah mengenakan celana levis hitam, baju kaos berwarna putih, dan tak lupa blazer panjang merah serta kaca mata hitam.
Aku tak mau orang lain melihat jika mataku bengkak karna menangis. Aku turun menggunakan lift kelobby utama dan menjumpai Tara disana.
Dari wajahnya aku bisa melihat dengan jelas jika saat ini dirinya begitu cemas terhadap ku. Tak menunggu lama Tara langsung membawa ku masuk kedalam mobil nya.
Didalam mobil Tara aku melepas kan kaca mataku, setidak nya disini aku tidak perlu cemas ada orang yang melihat ku menangis kecuali Tara.
" Kamu kenapa? Cerita sama aku " Tara menatap ku dengan cemas.
Aku tak sanggup untuk menjawab pertanyaan dari Tara, mulutku terasa kelu dan aku semakin terisak. Kesesakan yang sekarang ini kurasakan membuat ku benar-benar lemah dan takut akan kenyataan pahit yang akan kudengar dari mulut Nathan.
Melihat diriku yang semakin terisak bahkan hampir tidak bisa bernafas, Tara memeluk ku dengan kedalam dekapan nya. Sembari ia mengelus-elus lembut rambutku.
Setelah beberapa menit menangis didekapan Tara, aku merasa sedikit nyaman dan nafas ku sudah mulai teratur kembali.
Aku melepaskan pelukan Tara, lalu kembali keposisi awal ku dan membuang muka kearah lain. Tak sanggup rasanya untuk mendengar pertanyaan yang akan Tara utarakan.
Tara kembali mengelus kepalaku dengan lembut, lalu dibalikan nya tubuh ku menghadap padanya. Dengan cepat aku mengusap air mata yang membasahi pipiku itu dengan punggung tanganku sendiri.
" Ada apa dengan mu Rens.....jika kamu tak mau beritahu aku, bagaimana aku bisa membantumu ? " tanya Tara dengan raut wajah putus asanya melihatku yang diam tak berkata.
Dia mengusap kasar wajah nya lalu membuang muka kearah lain. Begitu pun dengan diriku yang kembali menghadap kedepan.
" Apa si brengsek itu menyakitimu lagi.... " tanya nya dengan penuh emosi, dengan wajah yang masih memaling tak mau menatap ku.
" ......jawab Rens " Tara menaikan sedikit nada bicara nya.
Aku tak mau Tara menjadi salah paham terhadap Nathan. Disaat seperti ini pun aku masih sempat untuk memikirkan Nathan. Masih ada sedikit rasa kepercayaan didalam diriku terhadap Nathan dan yakin jika Nathan masih bisa menjaga kepercayaan ku.
" Tidak Tar, Nathan tidak menyakiti lu " jawab ku dengan nada lirih.
" cihh.....bahkan diaaat seperti ini kamu masih membelanya!! " Tara terkekeh mendengar jawaban dari diriku.
Aku menoleh kearah nya, bisa kulihat jika kali ini Tara benar-benar marah. Tangan nya mengepal kuat, meskipun wajahnya masih memaling.
" Aku yakin dia masih akan menepati janji nya padaku, hiks " ucap ku lagi.
Tanpa sadar cairan bening itu keluar dengan sendirinya lagi dari sudut mataku. Aku menyandarkan kepalaku sejenak dan menutup mataku agar tidak terus mengeluarkan air mata.
" Seberapa cintanya sih kamu padanya hah? Sampai-sampai kau bersedia menanggung sakit hatimu demi dia.... " Tara marah serta membentak ku.
" ......aku sudah berjanji akan membawa mu pergi jauh dari nya, jika dia menyakitimu lagi " lanjut Tara, wajah nya datar menoleh ku.
Aku terkejut mendengar ucapan nya, dari sorot matanya Tara seperti bersungguh-sungguh.
Lalu dia mengencangkan sabuk pengaman nya dan sabuk pengaman ku. Sedangkan aku hanya diam, dan melihat dia mulai menancapkan gas meninggal kan lobby apartemen.
" Kita mau kemana Tar.... "
" Bukan kah tadi aku sudah bilang, aku akan membawa mu jauh dari nya " ucap Tara.
" ...kamu tenang aja, bagaimana jika kita pergi keluar negri aku akan berjanji membuatmu bahagia Rens " lanjut Tara sembari ia mengelus kepalaku menggunakan tangan kirinya sedangkan yang kanan masih memegang setir kemudi.
Sontak aku langsung menoleh kearah nya, aku melihat keseriusan dimata nya. Apakah dia sebegitu nya mencintai diriku? Andai saja Nathan mencintaiku seperti Tara, mungkin aku akan menjadi orang yang sangat bahagia didunia ini .....
" Tar.... " ucapku dengan nada lirih.
" yah.... " sahut nya singkat tanpa menoleh ku.
" Aku tak ingin pergi dari ini semua, aku harus menghadapinya meskipun pahit yang akan ku terima kedepan nya..... "
" Maksudmu apa? " tanya Tara.
" Sheila adalah Stephanie ..... " jawabku lirih.
Aku menundukan kepalaku dan menutup mataku. Kutarik nafasku dalam-dalam beberapa kali. Lalu aku menoleh kearah nya.
" Stephanie? Siapa ? Aku tak mengerti maksudmu " sahut Tara yang masih fokus menyetir.
" Mantan tunangan Nathan empat tahun lalu, mereka mengalami kecelakaan dihari pernikahan mereka, dan Stephanie jatuh kelaut hingga sampai sekarang jasad nya tak pernah ditemukan.... " ucap ku dengan sangat sesak, sembari aku memandang lurus kedepan.
Shhiiittttttt.........
Tara membanting setir kekanan lalu mengerem mendadak kearah pinggir. Setelah benar-benar behenti Tara pun menoleh kearah ku dengan wajh yang terkejut nya....
" ingat kan terakhir kalinya kita menemukan Sheila terdamlar dibebatuan dekat villa dan mengenakan gaun pengantin merah....bahkan dia mengalami amnesia karna kecelakaan itu " jelas ku kembali, walaupun sangat sesak aku tetap memaksa untuk terus berbicara.
Tara diam sejenak, entah dia sedang memikir kan apa aku tidak tahu.
" Pantas saja.... " ucap Tara disela-sela lamunan nya.
" Pantas apa Tar? " Aku pun meneluk bahu Tara, sontak dirinya langsung menoleh kearahku.
" Sheila sempat memberi tahuku, pertemuan pertama mereka dimeeting Nathan sempat memanggil nya dengan sebutan Stephanie... "
" .....dia juga mengatakan jika tatapan Nathan padanya sangatlah aneh " lanjut Tara.
Seperti tersambar petir disiang bolong, hati ku sangat sakit mendengar ucapan Tara. Sesak sekali rasanya dadaku saat ini. Air mata pun tidak dapat terbendung lagi, aku begitu tak percaya mendengar nya.....
" Ka...kapan mereka bertemu ? " tanya ku lagi, dengan suara ku yang bergetar Saking aku terlalu menahan sesak didada.
" Tiga hari yang lalu..... " jawab Tara.
" Tiga hari ? " aku mengerinyitkan dahiku dan menatap Tara dengan terheran-heran.
Ya tuhan....Ternyata mereka telab bertemu tiga hari yang lalu. Aku yakin sekarang jika Nathan saat ini telah mengetahui dan sadar jika Sheila adalah Stephanie. Dengan wataknya seperti itu ,tidak mungkin jika dia tidak berusaha mencari tahu sebenarnya.
Dadaku seperti ditusuk-tusuk, sangat sesak sekali. Aku memegangi dadaku dengan kedua tangan ku. Sedangkan Tara kembali panik melihat keadaanku.
Dia kembali berusaha memeluk ku,tetapi aku menolak nya dengan menggeleng. Aku lebih memilih untuk memalingkan wajah ku dan menangis tanpa terlihat oleh nya.
" Baiklah.....jadi sekarang apa yang akan kau lakukan " tanya Tara.
Sebenar nya aku masih takut dan bingung. Namun saat ini yang kuperlukan hanya bertemu dengan Nathan dan mendengar penjelasan dari nya. Aku pun memutuskan untuk.....
" Bisa kah aku meminta permintaan terakhirku padamu? " ucap ku dengan memohon, air mata terus mengalir membasahi kedua pipiku.
Tara pun mengusap lembut air mata dikedua pipi ku menggunakan punggung tangan nya. Dia tersenyum padaku....
" Jangan kan terakhir....selamanya kau boleh meminta apapun dariku " ucap nya.
Tidak ada seseorang sebaik Tara padaku, meskipun aku tidak membalas perasaan nya. Dia tetap tulus kepadaku, Maafkan aku Tar...yang tidak bisa membalas cintamu...
" Thank you Tar.....antarkan aku bertemu dengan Nathan dan juga Sheila " ucap ku kembali memohon.
" Apa kau yakin ? "
" Aku yakin Tar, aku harus menghadapi kenyataan nya "
Aku menarik nafas dalam-dalam....
" Baiklah, kita berangkat sekarang!! Tapi apa kau sudah makan siang? " masih sempat Tara memperhatikan ku saat ini.
" Aku sudah makan, terima kasih sudah bertanya " jawab ku tersenyum.
Tara pun mengencangkan sabuk pengaman nya, begitu pun dengan diriku. Setelah itu dia mulai menancap gas menuju tempat dimana Nathan dan juga Sheila berada, yaitu Villa milik dirinya sendiri.
Next ditunggu up selanjutnya.....