Terjebak Takdir Cinta Presdir

Terjebak Takdir Cinta Presdir
MUSIM KE-3 : Episode 6


Note : Sebelumnya Author mau minta maaf sebelum nya karna ada kesalahan. Untuk hitungan hari pernikahan Reghata. Jika sebelum nya Author tulis nya tiga hari terus di episode 4 dan 5 malah ke tulis sepuluh hari..๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


Maaf kan atas ketidak fokusan Author yah readers....๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ˜…


Happy Readings๐ŸŒน๐ŸŒน


***


Tiga hari kemudian....


Tepat nya di hari pernikahan Reghata dan juga Marvin, atau lebih tepatnya Reghata dan Gavin. Sengaja Reghata tidak memberitahukan kepada semua orang. Mengenai pergantian mempelai pengantin pria nya.


Media dan masa juga tidak tahu siapa yang menjadi calon suami Reghata di antara Matvin dan Gavin. Dan itu sangat menguntungkan untuk Reghata. Tidak akan ada yang tahu tentang penukaran mempelai pria ini. Hanya keluarga terdekat saja yang mengetahui nya.


Altar pernikahan yang diadakan di rooftop salah satu hotel bintang lima milik Marvin. Sangat mewah, megah, dan klasik. Warna putih menjadi tema pesta pernikahan itu. Semua para tamu undangan sudah bersiap dan duduk di tempat yang sudah disediakan.


Teman-teman media juga sudah bersiap. Merekam setiap moment dari awal hingga akhir yang ada di pesta pernikahan Reghata ini.


Keluarga juga sudah berkumpul dan duduk di kursi paling depan. Sangat lengkap, ada Rens dan Nathan. Kevin yang duduk bersebelahan dengan Tara dan Sheila. Sedangkan dibelakang mereka ada Anna dan Arsen.


Mereka semua tidak sabar menunggu mempelai wanita dan pria nya datang. Rens mengusap jari jemarinya merasa begitu gugup nya. Matanya tak bisa berhenti menatap pintu yang berada tidak jauh dari posisi nya duduk. Pintu yang dimana Reghata sang putri akan keluar.


Nathan yang melihat kegugupan dari sang istri itu pun. Langsung menggenggam erat tangan Rens. Berusaha untuk membuatnya rileks dan tenang.


"Tenanglah sayang, tidak usah gugup seperti itu.....yang mau menikah Reghata atau dirimu?" ucap Nathan menggoda sang istri.


"Kamu ini....aku beneran gugup tau gak....anak kesayangan kita akan segera menikah, bagaimana aku bisa tenang coba...." sahut Rens dengan raut wajah manyun nya.


"Hmm....iya aku tahu...." Nathan mengalah. Dari pada nanti panjang cerita jika dia terus menjawab perkataan Rens. Yang tidak akan ada habis nya itu.


Rens sesekali melirik ke arah Anna. Begitu pun dengan Anna. Pandangan mata mereka bertemu satu sama lain.


Dari sorot mata Anna, nampak terdapat kesedihan dan rasa bersalah yang begitu mendalam. Sedangkan dari sorot mata Rens sangat bertolak belakang dari Anna.


Rens begitu membenci Anna. Sorot matanya di penuhi dengan rasa benci dan dendam yang sangat besar. Tergambar jelas dari sorot matanya yang begitu tajam.


Semenjak setelah kecelakaan tragis yang mengakibatkan kematian Mia. Rens menyalahkan semua itu kepada Kevin dan juga Anna. Kehilangan sahabat tercintanya. Membuat Rens membenci kedua orang itu sampai sekarang. Jika bukan karna janji nya terhadap Alm Mia. Untuk menjodohkan anak-anak mereka ketika sudah besar. Rens tidak akan sudi menikahkan Reghata dengan anak yang memiliki darah Kevin di dalam tubuhnya itu. Tetapi mau di apa? Janji adalah janji yang harus ia tepati. Marvin juga anak Mia, sahabat nya yang melahirkan Marvin. Karna itu dia menjodohkan Marvin dan juga Reghata.


Padahal kecelakaan itu bukanlah salah Kevin maupun Anna. Tetapi salah Arsen yang dibutakan dengan ambisi cinta yang dia rasakan waktu itu. Tetapi Rens tetap tidak mau tahu atau mendengar penjelasan dari Kevin. Tetap Kevin dan Anna lah yang bersalah bagi Rens. Tidak akan ada maaf untuk keduanya....


Tidak lama setelah itu. Terdengar suara piano yang sudah dimainkan. Untuk menyambut kedatangan mempelai pria pertama. Setelah itu mempelai wanitanya.


Semua orang tidak ada yang curiga karna Reghata dan juga Gavin sengaja mengenakan topeng di wajah mereka. Hanya ada satu orang yang sudah mulai curiga. Yaitu Anna.


Sebagai ibu yang sudah melahirkan Gavin. Anna bisa mengenali sorot mata Gavin. Ketika pandangan mereka bertemu. Tapi itu tidak mungkin. Anna mencoba meyakinkan dirinya. Tidak mungkin yang menjadi mempelai pria di depan sana adalah Gavin anak nya. Melainkan adalah Marvin.


"Ada apa An? Apa ada sesuatu yang salah?" Arsen menyentuh pundak sang istri. Ketika ia melihat Anna terbengong menatap mempelai pria yang ia tahu itu adalah Marvin.


"Hah? Enggak apa-apa kok, aku hanya sedang mencari-cari keberadaan Gavin? Kenapa sedari tadi dia belum datang juga?" Anna terkejut dan berkata dengan gugupnya.


"Mungkin sebentar lagi dia datang....kamu gak usah khawatir yah..." Arsen tersenyum sambil mengusap peluh dikening istrinya itu.


"Tapi...."


Arsen menggelengkan kepalanya membuat Anna terhenti bicara. "Kamu tenang aja yah...." Anna pun mengangguk setuju.


Meskipun raut wajah nya masih begitu cemas. Ia tetap menuruti ucapan sang suami.


Masih tidak ada yang curiga karna ketika menyebutkan nama Gavin. Sengaja disebutkan dengan nada sura yang rendah. Hingga tidak tetlalu berbeda dengan menyebut Marvin Louis atau Gavin Louis.


Reghata meneteskan air matanya menatap orang tuanya yang terlihat sangat bahagia. Ada perasaan sedih dan bersalah dalam dirinya. Karna sudah membohongi sang ibu.


Maafkan aku Mommy.....


Tapi ini semua demi harga diri keluarga kita.....


Aku harap kamu akan bisa menerima pernikahan ini Mommy.....


Sedangkan Gavin. Dia juga menatap sang ayah Kevin dan sang ibu Anna. Perasaan bersalah juga dia rasakan. Tapi mau bagaimana lagi. Kakak yang paling dia sayangi dan juga wanita pujaan nya itu memerlukan bantuan nya. Meskipun dia juga merasa senang karna bisa menikahi Reghata. Tetapi pernikahan seperti ini tidak lah benar. Gavin merasa kecewa sendiri terhadap dirinya sendiri. Telah membohongi semua orang.


Sedangkan dari sudut pintu yang berbeda. Nampak seorang pria dengan setelan jas kasual berwarna biru tua. Sedang berdiri dengan raut wajah bahagia di wajah tampan nya.


Seutas senyuman tergambar dari sudut bibir nya. Melihat pernikahan sang adik yang berjalan dengan lancar. Meskipun dengan berlatar belakang kebohongan tapi Marvin juga merasa bahagia.


Walaupun di dalam hatinya yang paling dalam. Tersirat rasa bersalah yang begitu besar. Membohongi semua orang bukan lah hal yang dapat dibenarkan. Tetapi inilah jalan yang terbaik. Untuk dirinya, Gavin, dan Reghata.


Jikalau dirinya yang menikahi Reghata. Wanita itu pasti akan sangat terluka karna Marvin tidak mencintainya. Meskipun jika ada yang bilang 'Tidak apa-apa, cinta akan tumbuh dengan berjalan nya waktu'. Tapi Marvin tidak berjanji bisa mencintai Reghata.


Dia telah berjanji pada dirinya sendiri. Tidak akan pernah mencintai wanita yang sama. Yang juga dicintai oleh adiknya Gavin.


Tap...tap...tap


Suara hentakan kaki dari arah belakang Marvin. Terdengar grasah grusuh berlari.


"Aku tidak akan membiarkan kamu menikah Gavin---" geram seorang wanita.


Seketika tangan nya di tarik oleh Marvin masuk kembali kedalam ruangan. "Apa yang akan kau lakukan?" Marvin menyentakan wanita itu kedinding.


"Lepaskan aku....." decak wanita itu geram. Matanya berkaca-kaca menahan amarah nya.


"....ini semua pasti ulahmu, kamu kan yang sudah menghasut Gavin untuk menikahi Regha....keterlaluan kamu Vin...." lanjutnya mendorong keras tubuh Marvin dari hadapan nya.


"Ini bukan urusanmu....sebaiknya kamu tidak hadir di pesta itu, lupakan Gavin dan mulai lah hidup baru...."


"Aku tidak akan pernah melepaskan Gavin begitu saja...." wanita itu mencengkram kerah kemeja Marvin dengan sorot mata tajam nya.


"Kamu bisa apa? Sekarang dia adalah kakak iparmu...."


Perkataan yang keluar dari mulut Gavin seketika membuat langkah wanita itu berhenti di ambang pintu. Air matanya kini menetes, tangan nya mengepal sempurna. Menyesali keadaan yang telah terjadi.


Gavin lelaki yang begitu ia cintai selama ini. Kini telah menikah dengan kakak nya sendiri. Apa yang harus dia lakukan? Selama ini dia menunggu kepastian hubungan dari Gavin. Tapi tak kunjung ada kata-kata yang keluar dari mulut Gavin tentang hubungan mereka.


Apakah cinta yang aku rasakan ini, hanya cinta yang bertepuk sebelah tangan? Kenapa kamu tidak mengatakan nya padaku, jika kamu mencintai kakak ku.....


Wanita itu terdiam menatap keluar sana. Dimana Gavin dan Reghata tengah berdiri. Sakit hati yang dia rasakan membuat ego didalam dirinya tumbuh. Dengan langkah mantap dia melangkah mendekati kerumunan orang di pernikahan itu.


"Araa.....Araa....." teriak Marvin beberapa kali memanggil-manggil nama wanita cantik itu.


TBC.


Note : Jangan lupa like, koment, & vote nya, biar aku makin semangat untuk up.๐ŸŒน๐ŸŒน Happy Readings๐ŸŒน๐ŸŒน