
*****
POV Author~
Malam itu Rens duduk bersandar disofa yang berada diruang santai. Sedangkan Nathan harhs menyelesaikan beberapa berkas diruang kerja nya.
Rens duduk sembari memeluk kedua lututnya diatas sofa. Fikiran nya masih melayang memikirkan sosok Sheila.
Deg....
Seketika jantungnya berdebar dengan sangat cepat, tenggorokan nya mengering, tangan dan kaki nya dingin seperti es.
Tiba-tiba saja dia teringat oleh bingkai foto stephanie dan Nathan yang berada dimeja kerja Nathan.
"Stephanie......Sheila? Gaun pengantin merah? lautan? kecelakaan? hilang ingatan? Apa jangan-jangan!! tidak mungkin" ucap Rens sembari iya mengingat perkataan Tara dan cerita Nathan mengenai kecelakaan yang menewaskan Stephanie.
"Bukan kah mayat nya belum ditemukan, ya tuhan apa ini sebuah kebetulan?"
"...Tidak, ini bukan lah kebetulan !! pantas saja jika aku pernah melihatnya, yah aku melihat sheila dibinglai foto itu!! SHEILA ADALAH STEPHANIE"
Tanpa sadar air matanya pun menetes seketika, bagaimana dengan nasib nya? jika Stephanie kembali dan merebut Nathan darinya? begitu fikirnya.
"Hiks....hiks...hiks....kenapa? kenapa disaat hubungan ku dan Nathan sudah mulai membaik, kenapa cobaan kembali secepat ini? tuhan kau begitu tidak adil padaku" Tangisan Rens pecah.
Dadanya begitu sesak, ketakutan, kecemasan, kembali menghampiri dirinya. Bagaimana jika Nathan bertemu dengan Sheila dan tahu jika dia adalah Stephanie yang pernah ada didalam hidupnya.
Sungguh dia benar-benar tak percaya dengan kebetulan ini, sampai sempat terlintas difikiran nya. Kenapa dia menolong Stephanie saat itu, saat mereka berlibur divilla Tara.
Namun ditepis nya fikiran jahat itu, dia sadar dirinya bukan lah sosok wanita jahat seperti itu.
Dia bingung harus melakukan apa, apa seharusnya dia mengatakan yang sebenarnya pada Nathan? atau bagaimana? dia sangat bingung.
Dia juga tidak bisa bahagia diatas penderitaan Stephanie yang lolos dari maut.
Dia merasa kasihan pada Stephanie yang selama ini pasti tersiksa karna tidak bisa mengingat identitas dan kejadian yang menimpanya.
"Hiks....hiks....hiks....aku harus seperti apa? mah pah beri Rens kekuatan dan ketabahan menghadapi ini semua...."
"...bukan nya Rens egois...tapi Rens sangat takut jika harus kehilangan Nathan!! Karna sekarang Rens begitu sangat mencintai Nathan...huuaaaaa...hiks..hiks...hiks" Tangisan nya semakin pecah.
Dadanya berdebar sangat cepat, hingga membuat dirinya sesak.
.
.
.
Disisi lain, didalam ruang kerja Nathan...
Nathan mengetik beberapa berkas dilaptopnya, setelah selesai dia pun mengirim nya melalui email kepada Kevin.
Nathan menyandarkan sejenak kepala dikursi kerjanya. Dipijet nya keningnya dengan menggunakan jemarinya.
Hari ini begitu melelahkan baginya, bukan hanya tubuh nya yang lelah karna bekerja. Tetapi juga pikiran nya yang lelah karna tidak bisa behenti memikirkan sosok Sheila yang begitu mengejut kan nya.
Penat sekali yang dia rasakan saat ini, dia menghela nafas dengan panjang. Setelah itu dia mengeluarkan bingkai foto dirinya dan juga Stephanie yang sudah ia simpan dilaci meja kerjanya tersebut.
Dipandanginya dengan seksama, bagaimana bisa ada seseorang begitu sangat mirip didunia.
"Aku harus menyelidikinya.....aku yakin jika dia adalah Stephanie, tapi bagaimana bisa dia mengenal Louis Wilton?" gumam Nathan, kembali ia memasukan bingkai foto tersebut kedalam laci.
"Kenapa baru sekarang....kau muncul dihidup ku? kenapa disaat aku sudah mulai mencintai Renesmee......Sialan AAAGHH" Nathan mengusap wajah nya dengan sangat kasar.
Dia pun merogoh sakunya dan menghubungi Alex, kenapa dia tidak menghubungi Kevin? Karna dia tahu jika Kevin akan marahinya dan tidak akan mau membantunya, karna dia sangat yakin Stephanie sudah meninggal terlebih pasti dia juga tidak ingin jika Nathan menyakiti Rens lagi.
Tiba-tiba saja saat Nathan keluar dan berjalan melewati lorong yang mengarah keruang santai.
Dia begitu terkejut mendengar tangisan dan isakan seorang wanita, yang tak lain adalah Rens.
Nathan pun langsung berlari menghampiri Rens yang tengah menangis diatas sofa sembari menumpu dagu dilututnya.
Langsung dipeluknya Rens seketika dan mendekap erat Rens didadanya.
"Hei...sayang!! Are you okay? kenapa kau menangis seperti ini?" ucal Nathan sembari mengusap rambut istrinya dengan lembut.
Lalu ia tengadah kan wajah Rens dan menatap kedua matanya dengan begitu lekat. Seakan dia sedang mencari sebuah jawaban dari Tangisan istrinya tersebut.
Diusapnya dengan lembut air mata Rens yang membasahi kedua pipi cubby nya.
"Sayang.....sayang tenanglah, katakan padaku ada apa?" Nathan berucap sembari tersenyum, dia berusaha untuk menenangkan Rens.
Namun bukan malah membuat Rens tenang, melainkan membuat tangisan nya semakin pecah.
Rens kembali menenggelamkan wajahnya dan memeluk tubuh suami nya tersebut dengan begitu eratnya. Seakan dia sangat takut jika suami nya itu pergi....
"hiks....hiks....hiks....." isakkan tangis Rens semakin menjadi, membuat Nathan semakin panik.
"Apa yang terjadi padanya?" bathin Nathan.
Nathan kembali menengadahkan wajah Rens, kini Rens menatap Nathan dengan begitu lekatnya.
"Sayang sudah yah jangan nangis lagi, ada aku disini!! katakan padaku apa yang membuat mu seperti ini? dan apa yang sedang mengganggu hatimu sayang" Nathan kembali tersenyum agar Rens tenang.
"Nathan......apa yang harus kulakukan!! apakah aku sanggup jika hubungan kita kembali jauh lagi, dan apakah aku akan sanggup kehilangan senyuman indah diwajahmu ini? Apa aku begitu egois, hanya memikjrkan diri sendiri....hiks" Gumam Rens dalam hari, senyuman Nathan kini sudah menjadi candunya.
Dia begitu takut kehilangan Nathan, disaat dirinya sudah sangat mencintai Nathan.
"Nathan......hiks" Rens memanggil Nathan dengan suara bergetar.
"Iya sayang....katakan ada apa?"
"Bisa kah....kau...kau berjanji untuk tidak akan pernah meninggal kan ku?....hiks...hiks...hiks" ucap nya lirih, seakan mulutnya susah untuk berbicara.
Deg.....
Jantung Nathan serasa berhenti berdetak. Seakan panah busur menembus jantungnya, sangat perih rasanya hatinya saat mendengar ucapan Rens.
Hatinya ikut teriris sakit rasanya, melihat Rens berkata seperti itu dengan isak tangis dan air mata yang menetes begitu deras dari kedua matanya.
Nathan hanya diam dan tak tahu harus berkata apa.
"Kenapa? kenapa dia berkata seperti itu? apa dia tahu mengenai Stephanie? apa dia juga menyadari jika Stephanie belum meninggal!! Yatuhan.....kenapa hatiku begitu sakit melihatnya seperti ini" Bathin Nathan
Rens merenggang kan pelukan Nathan, dan menatap nya sendu.
"Nathan...jawablah kenapa kau diam?" Tanya Rens lagi, kini nada bicara dan raut wajhnya menjadi datar.
"Iya sayang.....aku janji aku ngga akan tinggalin kamu!! jadi sudah yah, jangan nangis lagi okay" Ucap Nathan menatap Rens dan tersenyum.
Dia pun kembali memeluk Rens dengan begitu erat sembari ia mengusap rambut istrinya itu dengan lembutnya. Begitu pun Rens yang membalas dekapan Nathan dengan erat.
"Maafkan aku Rens, aku tahu ini begitu sulit untukmu!!" Bathin Nathan.
"Apakah aku sangat egois.....Aku sangat takut jika harus kehilangan Nathan, aku ngga sanggup" Bathin Rens.
Next gak nih~