
"Oh iya ....hai Sheila apa kabar....sorry sorry aku baru ngenalin hehehe" ucap Rens merasa tidak enak padanya karna sudah lupa.
"Hehehe ngga apa-apa santai aja "Sheila tersenyum pada Rens, dan Rens pun membalasnya.
"kamu kesini mau ngapain? kok buru-buru gitu" tanya Rens, heran melihatnya ada dikampus.
"Oh iya aku kesini mau jemput Tara, soalnya aku dipanggil sama Tuan Louis ke kantor jadi sekalian aja mau bareng Tara." ucap Sheila lembut menjelaskan.
"Ohh gitu....." jawab Rens singkat.
"kalau begitu aku duluan yah.....sampai jumpa lagi" ucap Sheila, sembari menyodorkan tangan nya.
"Baiklah, sampai jumpa lagi" Rens membalas jabatan tangan Sheila.
Sheila pun berlalu pergi meninggalkan dirinya. Rens kembali berjalan menuju pintu gerbang. Sembari berjalan, entah mengapa dia terus saja memikirkan sosok Sheila yang begitu familiar dia lihat. Memang betul jika Rens dan Sheila pernah bertemu di Villa Tara tapi seperti ada sesuatu yang sangat mengganjal di hatinya.
Saat sesampainya di pintu gerbang, betapa terkejut nya diri Rens saat melihat sosok yang selama beberapa hari ini sangat dia rindukan dan juga sangat dia benci. Perasaan benci lebih besar dari perasaan rindu Rens padanya.
Benar sekali, sosok itu adalah Nathan. Rens memandang nya dengan sinis dan heran.
"Untuk apa dia datang kesini....sumpah muak banget aku liatnya..." gumamnya di dalam hati.
Nathan menoleh kearah Rens, namun dia malah memalingkan wajah kearah lain. Rens tidak ingin melihat wajahnya.
Hatinya kembali sakit saat melihat wajah Nathan, mengingatkan dirinya akan bingkai foto dimeja kerja Nathan.
Nathan tersenyum dan berjalan menghampiri Rens. Tetapi dengan segera dia menghindar dan berjalan melewati nya.
Taksi yang sudah dia pesan pun datang diwaktu yang tepat. Rens mendengar jika Nathan memanggil namanya, Namun Rens memilih tidak menghiraukan nya dan tetap masuk kedalam Taksi tersebut.
Diperjalanan Nathan beberapa kali menghubungi ponsel Rens, tetapi dia tidak ingin mengangkatnya. Rens tidak ingin bertemu dengan nya bahkan mendengar suara nya sekali pun.
Sesampainya di Apartemen Rens langsung buru-buru masuk kedalam lift, saat lift akan menutup tiba-tiba saja tangan seseorang menahan pintu, tangan itu adalah tangan Nathan.
Rens terkejut, lalu dia masuk kedalam lift dan berdiri tepat disebelah nya. Rens sedikit merinding saat itu, karna merasa suasana nya begitu dingin. Sesekali dia mencuri pandang kearah Nathan, bisa terlihat sekarang ini dia terlihat sangat kesal. Tatapan nya lurus kedepan, mulut nya terkatup diam. Saat dia menoleh dan menatap Rens dengan begitu tajam, Rens langsung memalingkan wajahnya.
Rens bisa merasakan tatapan matanya menembus jantung. Dada nya serasa sesak, jantungnya pun berdegup dengan sangat cepat, Keringat dingin seperti nya sudah membasahi seluruh tubuhnya. Rens memang marah kepadanya, tetapi dia tidak pernah berfikir akan ada situasi seperti ini.
"Ya tuhan....kali ini aku sangat-sangat takut!! apa yang harus aku lakukan, bahkan kakiku seakan mati rasa" batin Rens.
Ting.....
Pintu lift pun terbuka, dengan cepat Rens langsung berlari menuju kamar nya untuk menghindari Nathan.
Saat sudah berada didalam kamar tak lupa Rens pun mengunci pintu. Rens memilih untuk beristirahat sejenak merebah kan tubuhnya diatas ranjang.
Dia menatap kearah jam di dinding, sudah menunjukan pukul 6.30 sore lebih tepat nya senja. Rens beranjak dari ranjang dan berjalan masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
POV Nathan~
Sudah tiga hari dirinya berada disini, Seoul korea selatan. Kalau bukan untuk sesuatu hal yang penting dia tidak akan bersedia menunggu seperti ini.
Pagi ini sekitar pukul 9, dia sudah selesai bersiap-siap dan sarapan begitu pun dengan Alex...
Entah mengapa pagi ini dia begitu bersemangat, apa karena hari ini Nathan akan kembali pulang dan bertemu dengan wanita itu.
Namun ada sesuatu yang mengganjal hatinya, mengapa dalam tiga hari ini Rens tidak menghubungi nya. Sejak terakhir kalinya Nathan mengirimi wanita itu pesan di malam hari.
Nathan juga tidak sempat untuk menelpon Kevin menanyakan kabar wanita nya, karna beberapa hari ini dia terbilang sangat sibuk.
"Tuan....kita sudah sampai" Ucap Alex.
Suara Alex membuyarkan lamunan Nathan, dia pun bergegas keluar dari mobil setelah Alex membukakan dirinya pintu mobil.
Nathan berjalan masuk ke dalam gedung yang selama tiga hari ini menjadi tempat yang paling sering dia kunjungi.
Dari kejauhan nampak detektif Jung sedang berdiri menunggu kedatangan nya, Nathan pun menghampirinya dan segera duduk disofa yang telah disediakan.
Sembari menunggu Detektif Jung mengambil sebuah surat yang selama tiga hari ini menjadi tujuan Nathan menunggu, yaitu surat pencocokan DNA. Dia memeriksa kembali berkas-berkas yang sudah ada.
Tak lama berselang Detektif Jung pun memberikan secarik amplop berwarna putih. Tidak membuang waktu lama ,Nathan pun langsung membuka nya dan membaca nya dengan seksama.
Mata nya melotot seketika, betapa terkejut dirinya saat membaca keterangan disurat itu. Sungguh Nathan tidak percaya disitu tertuliskan cocok 99%.
"Tuan sebaiknya anda melihat foto ini juga....memang 100% saya sangat yakin itu adalah dirinya".
Detektif Jung menyodorkan foto sebuah keluarga. Nathan benar-benar yakin saat ini.
"Aku akan membawa semua bukti ini....." ucap Nathan.
"....Alex cepat masukan semua berkas bukti ini kedalam satu map, jangan sampai ada yang tertinggal satu pun" lanjut nya menegaskan.
"Baik Tuan...." Alex berkata sembari menyusun rapi berkas-berkas bukti itu kedalam sebuah map yang Nathan perintahkan.
"Detektif Jung kemari....." Nathan menyentikan jarinya mengisyaratkan Detektif Jung untuk mendekat.
"Ba-baik tuan....apa ada lagi yang anda butuhkan" tanya Detektif Jung gugup sembari sedikit menunduk.
"Ini bayaran untuk mu karna sudah bekerja keras....dan yang ini untuk bonus nya karna kamu bersedia tutup mulut" ucap Nathan sembari mengeluarkan 2 cek yang berbeda dan memberikan nya kepada Detektif Jung.
"....dan ingat apa yang akan terjadi jika kau berani mengkhianati diriku hahaha" Lanjut nya menegaskan pada detektif Jung jika dia berani mengkhianati Nathan, mungkin dia tidak akan segan untuk membunuhnya.
Tangan nya gemeteran menerima 2 cek tersebut yang jumlahnya tidak lah kecil.
Tak terasa matahari sudah semakin tinggi dan terik, menandakan sudah tepat tengah hari.
Alex mengemudikan mobil kembali ke hotel. Sesampainya dihotel Nathan langsung memerintah kan Alex untuk menyiapkan penerbangan jam 3 nanti.
Masih ada waktu beberapa jam sebelum penerbangan, dia memutuskan untuk makan siang direstauran bintang lima dihotel tersebut.
Sembari menyantap makanannya, fikiran Nathan benar-benar tidak bisa tenang. Dia terus-terus san memikirkan tentang Kevin.
"Kevin.....apa aku harus memberitahumu semua ini? atau aku harus terus menyimpan nya? aku tidak lah sejahat itu, tapi aku takut jika kau tahu kebenaran nya kau akan pergi meninggalkan aku" Bathin nya.
Nathan benar-benar bingung harus seperti apa. Jika Dia terus-terus san menyembunyikan kebenaran nya, pastinya dia akan menjadi orang paling jahat dimata Kevin. Dia akan mengira Nathan sengaja merahasiakan semua darinya demi kepentingan diri sendiri. Sungguh Nathan tak mau Kevin berfikir seperti itu padanya....
Bersambung.....