Terjebak Takdir Cinta Presdir

Terjebak Takdir Cinta Presdir
Mimpi Jadi Kenyataan...


****


Sampailah mereka malam hari diapartemen Nathan, sekitar pukul 23.00 atau 11 malam.


Dengan langkah berat menahan tubuhnya yang mulai berat itu. Rens merasa tulang nya begitu remuk dan lelah karna perjalanan jauh seharian ini.


Rens melangkah masuk kedalam kamarnya untuk mebersihkan diri dan istirahat. Karna saat dijalan tadi, mereka telah singgah dikedai untuk makan malam.


Rens membersihkan diri didalam kamar mandi. Entah kenapa tiba-tiba terlintas dibenak nya kenangan tentang Nathan saat dipantai tadi.


Matanya mulai berkaca-kaca, air mata yang sedari tadi ditahan nya saat bersama Sheila. Karna tak ingin memperlihatkan pada Sheila jika dia sedih teringat sosok Nathan kala itu....


Kini dibawah guyuran air hangat dari shower, Rens menangis terisak-isak. Meringkuk memeluk kedua lututnya. Isakan nya terdengar hingga kedalam kamar nya, mungkin saja dalam tidur nya Nathan mendengar tangisan perih dari istrinya itu.


Dia sampai melupakan baby dalam perut nya saat ini. Dilampiaskan semua tangisan nya dikala itu juga....


Sungguh kejam sekali tuhan padanya....!!!


.


.


Dua puluh menit dia mandi sembari menuntaskan tangisan nya. Dia pun keluar dari kamar mandi telah mengenakan piyama tidur nya.


Nyut-nyut dikepala nya akibat menangis membuatnya mengantuk, serta matanya yang sembab dan hidung yang merah. Jika Nathan sadar sudah sangat jelas pasti dia akan memarahi Rens karna menangis begitu lama terlebih dibawah guyuran air.


Rens meringkuk keranjang disebelah Nathan. Dia menggapai tangan Nathan dan mencium punggung tangan nya.


" Sayang....bagaimana harimu? Maafkan aku pulang selarut ini "


Ucap Rens dengan suara yang sedikit parau.


" Jangan marah yah....tadi aku bertemu dengan Sheila dan Tara "


" ....mereka menitipkan salam untuk mu "


" ....beneran, tadi aku mengunjungi pabrik ikan tuna disana!! "


Rens terdiam sejenak, dipusutnya pucuk kepala Nathan dan mengecup keningnya. Tanpa sadar air matanya kembali menetes sehingga terjatuh tepat diwajah Nathan.


Rens langsung memalingkan wajah nya, dan menutup mulut nya menahan isakan nya. Sesak sekali dadanya saat ini, entah mengapa malam ini hati nya begitu perih terasa...


Ingin sekali ia menyandarkan tubuh dan kepala nya didada Nathan saat ini, namun itu tak bisa dilakukan nya. Itu pasti akan menyakiti Nathan.


" Maafkan aku sayang, aku tak bisa menahan nya lagi "


" ....Pantai itu sangat-sangat membuat hati ku perih!! Aku sangat merindukan mu hiks hiks hisk "


" ....rindu suara mu, senyum mu, tawamu, perlakuan manis mu, bahkan omelan mu, aku merindukan semua nya "


" ....aku tahu aku begitu egois, tapi aku benar-benar merindukan mu!! Aku mohon cepat lah sadar "


" ....aku hampir tak sanggup lagi menjalani ini semua....pliss....sadar Nathan "


" ....Sadar lah....aku sangat membutuhkan dirimu huaaa hiks hikss "


Dada nya begitu sesak sampai sangat sulit untuk nya bernafas. Rens pun tak mau berlama-lama memandangi wajah Nathan, yang membuatnya semakin sesak.


Dia merebahkan tubuhnya dan memalingkan tubuhnya membelakangi Nathan. Dia mematikan lampu dikamarnya.


Tangisan nya tak bisa berhenti, hingga akhirnya dia terlelap sendiri karna pusing yang dirasanya.....


Tanpa disadari dari sudut mata Nathan, keluar cairan bening. Mungkin saat ini Nathan bisa merasakan perih dan derita yang dirasakan istrinya itu.....


Malam itu sangat haru, Rens tidur dengan membelakangi Nathan hingga pagi.....


****


Dipagi harinya, posisi tidur Rens kini berpindah menghadap Nathan tanpa sadar nya....


Hari yang begitu cerah, cahaya matahari bersinar masuk disela-sela jendela balkon nya. Menghangat kan seluruh ruangan, namun Rens masih belum juga terbangun dari mimpi indahnya.


Sepertinya dia sedang memimpikan sesuatu bersama dengan Nathan, hingga membuatnya enggan untuk bangun.


Dia bermimpi sedang berjalan disebuah taman bunga matahari bersama Nathan, dengan bergandengan tangan. Rona bahagia terpancar dikedua wajah mereka.


Nathan mengecup kening Rens dan menatap nya dengan tatapan teduh. Sebaliknya Rens malah meneteskan air mata bahagia nya.....


" Sayang....aku tau kamu pasti akan sadar dan kembali padaku "


Ucap Rens memeluk tubuh suami nya itu, tubuh yang sangat dirindukan nya.


Ucap nya kembali lalu menatap wajah tampan Nathan yang bercahaya itu.


" Aku juga mencintai mu Sayang... "


Nathan menyahut sembari ingin melangkah pergi menjauh, namun Rens langsung menahan tangan Nathan.


" Sayang kamu mau kemana? "


Tanya nya dengan raut cemas, kemana Nathan akan pergi?


" Kamu tidak boleh meninggal kan ku lagi.....aku mohon sayang hiks hiks "


Rens menumpahkan air matanya lagi, baru saja Nathan kembali padanya. Bagaimana bisa dia akan pergi lagi.....


" Jangan menangis sayang....aku akan selalu ada untuk mu, aku tidak akan meninggalkan dirimu lagi.... "


Ucap Nathan, kemudian dia mengecup kening Rens dan menyentuh wajah istrinya dengan kedua telapak tangan nya. Sembari menghapus air mata yang terus mengalir itu....


Rens menggeliat dalam tidurnya, mimpi itu terasa nyata. Sentuhan tangan Nathan diwajahnya dan senyuman Nathan begitu nyata dirasanya.


Dia pun mulai mengerjapkan matanya perlahan bangun dari mimpi indah itu. Sinar matahari menyilaukan matanya hingga dia belum bisa membuka mata...


Namun tiba-tiba saja....


Deg...deg...deg


Dadanya berdebar hebat....


Dia merasakan ada sentuhan tangan seseorang diwajahnya. Sentuhan yang begitu ia kenali, sentuhan dari seseorang yang sangat dicintai nya. Yaitu Nathan, tak mungkin juga orang lain karna dikamar itu hanya ada mereka berdua.


Dengan cepat Rens menggapai tangan tersebut dan memaksakan matanya terbuka. Benar saja, matanya seketika membulat, hampir ia tidak bisa bernafas karna begitu bersemangat.


Air matanya menetes tak percaya akan keajaiban ini.


" Nathan.....apakah ini mimpi "


Rens mencubit-cubit pipinya mencoba menyadarkan dirinya, dia mengira yang dilihat dan dirasakan nya ini adalah mimpi.


Rens menggenggam tangan Nathan, dicium nya punggung tangan itu beberapa kali. Air matanya deras mengalir sembari ia melempar senyuman manis kepada Nathan.


Kini Nathan tengah tersenyum dibalik alat bantu pernafasan nya. Air mata nya mengalir dari sudut matanya.


" A....aku....Ke...ke...kembali Sayang "


Ucap nya terbata, karna masih terlalu lemah untuk berkata.


" Sayang.....kamu....kamu "


Rens sudah tak bisa berkata apa-apa lagi, saking dia begitu bahagia saat ini. Sungguh keajaiban yang datang pagi-pagi sekali menghampirinya.


Tak lepas dia menggenggam tangan Nathan dan menciumi punggung tangan itu. Air mata bahagia masih mengalir seiring dengan senyuman bahagia yang dilemparkan nya pada Nathan.


****


Setelah Nathan sadar pagi itu, Rens langsung menghubungi Kevin dan Barbara serta Dokter Daniel. Mereka semua terkejut sekaligus bahagia dan bersyukur jika hal yang ditunggu-tunggu selama ini telah terjadi. Meskipun sebelum nya mereka sempat pasrah akan keadaan, dan dokter juga mengatakan kungkinan sangat kecil untuk Nathan sadar.


Barbara yang berada di Paris langsung membeli tiket dan berangkat dihari itu juga kembali pulang. Tak sabar untuk bertemu anak semata wayang nya itu, yang sangat dirindukan nya selama ini....


Begitu pun Kevin saat dihubungi dia masih dalam keadaan setengah bangun, saat diberitahu Nathan siuman. Kevin langsung melonjak bangun, dia juga langsung menghubungi Mia.....


Sedangkan Daniel yang mendapat kabar bahagia itu, terkejut bukan main. Pasien yang telah didiagnosa kemungkinan kecil untuk siuman dari koma, sekarang telah sadar...


Rasa bahagia serta syukur dirasakan nya, namun ada rasa sedikit kecewa dihatinya. Kenapa? Apakah dia merasa kecewa karna tidak ada kesempatan untuk nya mendekati Rens? Aghhh pikiran apa itu, dari awal sudah salah jika dia memiliki perasaan terhadap Rens yang berstatus istri pasien nya....


.


.


.


.


.


Jangan lupa untuk like dan vote kalian yah guys๐Ÿ™๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š


Biar author tau akan apresiasi kalian yang menunggu up selanjutnya......


Happy reading, Thankyou๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™