Terjebak Takdir Cinta Presdir

Terjebak Takdir Cinta Presdir
PART~70


****


POV Renesmee~


Setelah kepergian Nathan, aku masuk kedalam kelas dan mengikuti kelas berlangsung hingga selesai.


Aku keluar dari kelas sembari mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana levis yang aku kenakan.


Tut......Panggilan berlangsung


"Mi, kamu dimana? Kafe bareng yuk" Aku menelpon Mia, dan menanyakan keberadaan nya.


"Maaf Rens, aku sedang ditoserba!! hari ini aku ngga ngampus, karna kemaren udah ambil cuti jadi hari ini aku bayar waktu aja dari pada gajihku dipotong" jawab Mia disebrang sana.


"hmm....yawdah kalau begitu!! bye"


"Bye..." Tut....Mia memutuskan panggilan.


Aku berjalan melintasi lorong-lorong kearah gerbang kampus. Apa boleh buat ,terpaksa aku kekafe sendiri tanpa Mia.


Namun saat hampir sampai digerbang, aku bertemu dengan Tara. Seperti nya dia baru saja selesai dari kelasnya


Aku pun menghampirinya, dan mengajak nya untuk kekafe bareng. Sebenarnya juga ada beberapa pertanyaan yang ingin aku tanyakan padanya mengenai Sheila. Wanita cantik yang beberapa kali aku temui itu....


.


.


.


Didalam kafe, aku dan Tara seperti biasa duduk ditempat favorit kami. Yaitu disamping jendela dan mengarah kejalan raya.


Tara membuka laptop miliknya, dia kembali mengerjakan beberapa tugas dari dosen pembibing nya. Sedangkan aku masih menyantap minuman dan makanan yang telah disajikan dihadapan ku.


"Tar....ada yang ingin aku bicarakan padamu" ucap ku sembari menyedot jus ku.


"Hmm....apaan Rens? apa Nathan bersikap kasar lagi padamu?" Tara menoleh kearah ku dan memandang ku dengan tatapan cemas.


"Tidak...Tidak kok, Nathan sudah bersikap sangat baik padaku" aku menyela pertanyaan Tara.


"...bahkan saat ini dia telah membuka hatinya untuk ku, sikap nya juga berubah padaku!! dia semakin lembut terhadapku" lanjutku tanpa sadar terus merocos.


"Hmm...apa kau bahagia?" Tara bertanya lagi padaku dengan tersenyum. Sebenarnya aku tahu jika senyuman itu terpaksa.


"Aku sangat bahagia....." jawabku spontan.


"Baiklah jika kau bahagia...aku tidak perlu mencemaskan mu lagi atau berniat merebutmu dari Nathan..." ucap Tara, dia tersenyum dan kembali memandang laptop nya. Aku tqhu jika saat ini hati nya sangat sakit, namun mau bagaimana lagi aku tak mau terus menerus melihatnya berharap kepadaku.


"kamu ini yah....ada ada aja hahaha" aku menepuk-nepuk pundak nya.


"Aku ngga bercanda Rens..." Seketika mataku membulat, wajahku juga memerah, saat ini aku sangat gugup dan salah tingkah.


"....hahaha aku bercanda, kenapa kau terlihat serius" ucap nya lagi dengan tawanya. Hampir saja aku mati karna gugup.


"Jadi apa yang mau kau bicarakan...." Tanya Tara kembali, mengenai sesuatu yang ingin aku bicarakan.


"Jadi gini....Sebenarnya aku ingin bertanya mengenai Sheila!"


Aku melihat Tara begitu terkejut dengan pertanyaan ku. Memang sebenarnya dari awal aku tidak ingin bertanya duluan, melainkan jika Tara lah yang duluan cerita padaku.


Tetapi apa daya, aku tidak bisa menahan diri lagi untuk bertanya ....


"Kemarin lusa aku bertemu dengan nya lagi saat dikampus, dia bilang ingin menjemput mu"


"Ohh...yah terus?"


"Dia itu siapa sebenarnya Tar, kenapa aku seperti familiar terhadapnya?"


"Kau sudah lupa yah....jaman SMA waktu itu kita pernah berlibur ke Villa ku"


"hmm....yah terus kenapa?"


"Waktu itu sore hari, Mia, aku, dan kamu sedang bermain ditepi pantai!! Tiba-tiba saja kamu berteriak saat melihat seorang perempuan bergaun pengantin berwarna merah terdampar dibalik bebatuan.....dan akhir nya dari saat itu papah dan mamah memutuskan untuk merawatnya!" Jelas Tara.


"Aku ingat sekarang.....soalnya waktu itu penampilan nya berbeda dan juga model rambutnya berbeda jadi aku tidak dapat mengenalinya" Akhirnya aku mendapat kan jawaban dari pertanyaanku.


"Kami lah yang memberikan nya nama.....setelah dia sadar dia sama sekali tidak mengingat apa-apa tentang identitasnya" Tara mencoba menjelaskan lagi.


"Ohh.....terus selama ini dia tinggal divilla mu dong, pantas saja aku sempat bertemu dengan nya waktu itu" Aku kembali menyendok makananku.


"Maaf yah aku baru menceritakan tentang hal ini padamu..."


"tidak apa-apa, santai aja lagi Tar kita kan sahabat"


"Tunggu.....terus dia untuk apa datang kesini? dan dia bilang papah mu memanggilnya? ada apa emangnya Tar, sorry kalau aku jadi Kepo gini" aku kembali bertanya.


"Dia sekarang menjabat sebagai GM dipabrik ikan tuna dekat Villa......."


"....oh iya, Rens maafin aku yah!! aku harus segera balik ke kampus karna ada kelas yang harus kuhadiri sebentar ini" Tara pun beranjak dari kursinya dan pergi meninggalkan ku yang masih terdiam sembari menyantap makanan ku.


Sepeninggal Tara, aku masih terus memikirkan semua penjelasan dari Tara tadi. Seperti ada sesuatu yang masih menjanggal hatiku.


Aku merasa bukan itu saja aku pernah melihat Sheila, tetapi dimana? aku sama sekali tidak ingat...


.


.


.


Sore harinya.....


Aku menunggu Nathan didepan pintu gerbang kampus, karna dia berjanji akan menjemputku...


Hatiku begitu senang tidak ada perasaan kesal ataupun marah walaupun Nathan lama sekali menjemputku. Bagiku menunggu dirinya bukan lah hal yang patut dibanggakan, namun menunggu dirinya adalah sesuatu hal yang menyenangkan bagiku. Entah aku pun tidak mengerti maksudnya apa?


Tit...tit...tit


Aku tersenyum begitu lebar nya saat mendengar bunyi klakson mobil Nathan. Aku melihat Nathan keluar dari mobil dan berjalan menghampiri ku.


Dengan senyuman yang terlukis jelas diwajahnya, aku membalas nya dengan kecupan hangat dibibir nya. Dia terkejut saat aku melakukan itu, dia menatap ku dengan tatapan licik.


Mungkin saat ini dia ingin sekali membalas kecupanku itu, namun dengan cepat aku berlari masuk kedalam mobil.


Didalam mobil sudah terlihat Kevin sedang duduk dikursi kemudi. Aku terkejut dan sedikit malu, pasti Kevin melihat kami berdua sedari tadi.


Nathan pun menyusul ku dan duduk disebelahku. Sepanjang jalan aku hanya menggandeng tangannya dan menyandarkan kepalaku dibahunya.


Sesekali aku melirik kearah nya, begitu pun dengan nya. Ini semua sudah seperti mimpi yang tidak akan pernah usai.....


"Apa ada yang salah dengan wajahku? hah?" Nathan bertanya, sembari ia mendekatkan wajah nya kewajahku yang terus menatap nya.


"Eh...ngga ada apa-apa kok!! aku hanya bahagia aja dapat suami yang sangat tampan....cups" Aku kembali mengecup pipinya.


Nathan kembali tersenyum, aku bisa melihat wajah nya yang kini memerah.


"hahaha....sekarang kamu jadi pintar gombal yah, belajar dari mana.....hah dari mana...." Nathan tertawa dan menggelitik perutku dengan pelan.


Karna kegelian aku pun menggeliat-geliat ditempat duduk ku.


"Agh...hahaha...geli.....Nathan geli tau" aku berteriak pelan mencoba menahan tangan nya yang terus menggelitik ku.


Cups....


Nathan mengecup bibir ku seketika, membuat ku terdiam dan kami saling menatap lekat satu sama lain.


"Love you....cups...cups...cups" Nathan kembali mengecup ku dengan kecupan double favoritnya.


Dengan senang hati, aku menerima kecupan itu dengan hati yang sangat bahagia. Aku benar-benar sangat bahagia saat ini....


"Ihh apaan sih....malu tahu ada Kevin" Ucap ku, melirik kearah Kevin yang masih fokus pada kemudi.


"Ngga usah hiraukan dia.....dia itu memang spesialis jomblo, jangan kan pacar bahkan pacaran saja dia tidak pernah, hahaha" Natha. meledek Kevin.


"Yaa...Nathan awas kau yah lihat saja nanti aku bakal punya pacar, tunggu aja" ucap Kevin kesal karna ledekan dari Nathan.


"hmm...terserah kau saja!! aku akan menunggu saat itu, jika benar terjadi aku akan mengadakan double date untuk kita berempat ditempat yang istimewa...hahaha" ucap Nathan yang disusul tawanya.


"Sudah...sudah apaan sih sayang!! kau tidak boleh meledek Kevin seperti itu" Aku mencoba melerai mereka.