Terjebak Takdir Cinta Presdir

Terjebak Takdir Cinta Presdir
MUSIM KE-3 : Episode 2


Dirumah utama.....


Wanita cantik itu berjalan memasuki pintu depan. Dengan anggun nya, Reghata nampak sangat menawan. Wajah cantik dengan sorot mata nya yang tajam. Benar-benar menghasilkan keindahan sendiri untuk paras wajah nya.


"Ohh....hooney.....apa kabarmu? Mommy sangat merindukan mu..." Rens menghambur memeluk Reghata. Anak kesayangan nya itu.


"Aku baik-baik saja, Mommy bagaimana kabarnya?" tanya Reghata balik. Berjalan menggandeng sang ibu ke arah ruang santai.


Mereka duduk bersampingan di sofa empuk yang ada diruangan itu. Mengobrolkan sesuatu yang sangat penting.


"Hooney dimana Marvin? Seharusnya kalian datang bersama kemari.....sebentar lagi kalian akan menikah, jangan keseringan berjauh-jauhan seperti ini...." tanya Rens pada Reghata.


Reghata terdiam. Raut wajah nya seketika berubah. Marah dan sedih bercampur aduk di dalam dirinya. Ingin sekali dia memberitahukan kebenaran yang menyakitkan itu kepada sang ibu. Mengenai pembatalan pernikahan secara sepihak dari Marvin.


Tapi Reghata mengurungkan niatnya itu. Dia tidak mau membuat sang ibu merasa sedih. Entah seperti apa jadinya jika Rens tahu jika Marvin sudah membatalkan pernikahan sang anak.


Akhirnya Reghata harus berbohong. Menutupi kenyataan nya. "Hmm...Mommy tenang saja, Marvin sedang ada pekerjaan di luar kota yang sangat penting.....karna itu dia tidak bisa mengantarku kemari...." Reghata beralasan agar sang ibu tidak curiga.


"Benarkah?" menatap tak percaya. Reghata mengangguk dan tersenyum lebar dengan paksa, untuk meyakinkan sang ibu.


"Oh iya dimana Daddy? Aku sangat merindukan nya...." Reghata mengalihkan pembicaraan, agar terhindar dari pertanyaan-pertanyaan Rens.


"Ada diruang kerja nya...."


Reghata pun langsung beranjak dan berlalu pergi meninggalkan Rens. Melangkah menuju ruang kerja Nathan yang ada di lantai dua.


Didalam ruang kerja sang ayah.


"Daddy...." panggil Reghata berjalan menghampiri sang ayah yang sedang berkutat dengan laptop kerja nya.


"Re.....sejak kapan kamu datang?" tanya Nathan kepada anak nya itu.


Reghata pun duduk di pinggiran meja kerja Nathan dengan kaki yang bersilang saling menumpu. "Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan Dad...." ucap nya lirih dan pelan.


Nathan menutup laptop dan memutar posisi duduk nya menghadap Reghata. "Katakan..."


"Mengenai Marvin Dad......Sebenarnya Marvin telah mem---"


"Itu masalah kalian berdua.....Daddy harap kalian bisa memgatasi nya sendiri bersama.....masalah sepele jangan dibuat menjadi pertengkaran yang panjang.....cobalah untuk mengalah dan saling intropeksi diri saja...." potong Nathan yang malah menasehati Reghata.


Reghata tertegun dengan perkataan sang ayah. Semakin ia bingung dan tidak tega untuk mengatakan yang sebenarnya. Kedua orang tuanya pasti sangat kecewa.


"Baiklah Daddy....Re harus balik, besok masih banyak pekerjaan di kantor.....bye...."


"Secepat ini?"


"Yah....bye Daddy...."


Reghata cepat-cepat bergegas pergi dari rumah utama itu. Tidak sanggup dia berlama-lama disana. Mendengarkan perkataan-perkataan orang tuanya yang begitu antusias dengan pernikahan nya. Reghata memilih untuk menghindar.


***


Di apartemen nya.


Ketika sudah berada di depan pintu apartemen nya. Reghata mengerinyit melihat ada sebuket bunga mawar biru dan satu botol kaca berisi jus alpukat berwarna hijau tergeletak disana.


"Huh....segarnya.....hari ini kepala ku sangat sakit, kakak beradik itu benar-benar membuatku gila....." Reghata menghela nafas lega setelah meminum air dingin. Lalu kembali merutuki Gavin dan juga Marvin kakak beradik yang hari ini membuatnya benar-benar pusing.


Reghata menatap buket bunga yang baru saja ia bawa masuk itu, yang tergeletak di atas meja makan yang tidak jauh dari posisi ny sekarang. Ia Penasaran dengan siapa pengirim nya. Reghata pun meraih buket bunga itu lalu membolak-balikan nya, mencari-cari jika ada memo yang terselip.


Benar saja, ada secarik memo terselip di balik bunga-bunga mawar biru yang indah itu. Lalu ia membaca memo tersebut.


Tanpa sadar wajah nya bersemu merah dan sudut bibir nya tersenyum tipis. Ketika membaca memo itu, siapa pengirim nya? Tidak ada nama yang tercantum. Tetapi Reghata sangat tahu siapa pengirim buket bunga dan sebotol jus itu.


"Cih....dia kira dia siapa? Baiklah....kali ini kamu ku maafkan Gavin, tapi lain kali aku akan membalas mengerjai mu...." gumam Reghata dengan senyuman miring.


Dia tahu jika buket bunga itu pengirim nya adalah Gavin. Isi memo nya bertuliskan.....


~Sesuatu yang indah hanya layak untuk seseorang yang cantik dan menawan sepertimu. Bagaimana dengan bunga nya? Apa kamu menyukai nya? Mawar biru ini sebagai tanda permintaan maafku karna sudah menghabiskan jus mu tadi siang.....


Ayahku pernah bilang jika kamu ingin meminta maaf pada seorang wanita, berilah dia 'Sebuket Mawar Biru'. Entah itu benar atau tidak, tapi menurutku itu tidak akan mempan terhadap wanita pemarah sepertimu. Hahaha bercanda.....


Jangan lupa untuk di habiskan jus nya, aku membuatnya sendiri......~


Reghata pun meraih botol berisikan jus itu. Membuka tutup nya kemudian mendekatkan nya ke hidung. Lalu menghirup aroma jus tersebut. Seperti nya enak. Ia pun langsung menghabiskan jus itu sampai habis tak tersisa sedikit pun.


"Lumayanlah....." ucap nya tersenyum membayangkan saat Gavin berada di balik pantry dapur. Bergulat dengan bahan-bahan membuat jus. Apa dia bisa melakukan itu? Hati Reghata tergelitik geli menertawakan bagaimana bentuk raut wajah pria itu. Dia pasti bersusah payah sudah membuatkan jus yang rasanya lumayan lah buat Reghata.


***


Sedangkan keadaan di apartemen Gavin.


Gavin berdiri di ambang pintu yang mengarah ke dapur. Berkacak pinggang dengan satu tangan menggaruk-garuk kepala nya yang tidak gatal. Menatap keadaan dapur nya yang sangat berantakan.


Selama ini dia tidak pernah yang namanya menyentuh dapur itu sekali pun. Bahan-bahan makanan pun tidak ada. Karna memang dia tidak bisa memasak. Jika dirinya mau makan biasanya dia akan pergi makan diluar atau mengunjungi rumah ibunya.


Tetapi demi untuk Reghata Gavin bela-belain bergulat di dapur untuk membuatkan nya jus yang enak. Meskipun sampai lebih sepuluh kali dia mengulang-ulang jus buatan nya. Terkadang pahit, tidak ada rasanya, bahkan belum lunak sama sekali isi buah alpukat nya. Gavin harus mengulanginya sampai mendapatkan hasil yang memuaskan. Tujuan nya hanya ingin membuat Reghata terpukau.


Gavin merogoh ponsel di sakunya. Lalu menekan salah satu kontak nomer telpon seseorang. Setelah itu menempelkan layar ponsek ke telinga nya.


Panggilan pun tersambung.


"Cepatlah kesini....aku butuh bantuan mu" ucap nya pada seorang pria di sebrang sana. Terdengar bunyi suara musik remix yang sangat menggema bising di telinga Gavin.


"Apa kamu sedang berada di klub? Cepat ke apartemen ku, ada sesuatu yang penting harus kamu kerjakan....." Gavin mengulang ucapan nya, dengan nada suara sedikit keras. Agar yang di sebrang san mendengar suaranya.


"Baiklah-baiklah....tidak usah teriak aku mendengarmu....dasar bos yang seenak nya saja, ini sudah lewat dari jam kerja ku...kamu harus memberiku lemburan yng tinggi..." pria itu menggerutu berbicara seperti orang mabuk.


"Iya--iya terserah, yang penting cepatlah....." Gavin pun menutup telpon secara sepihak.


Menunggu kedatangan orang itu. Gavin memilih untuk merebahkan tubuhnya di sofa empuk yang ada di ruang santai apartemen nya. Dengan posisi balkon yang terbuka. Menampakan bintang-bintang di langit yang cerah malam itu.


Tidak berselang lama beberapa menit kemudian. Yang di tunggu-tunggu akhirnya pun datang juga. Bunyi suara bel yang di tekan. Gavin langsung beranjak dari rebahan nya. Berjalan menuju pintu luar.


TBC.


Note : Jangan lupa untuk like dan vote, biar aku tambah semangat untuk up nya. Happy Readings🌹🌹🌹