Terjebak Takdir Cinta Presdir

Terjebak Takdir Cinta Presdir
PART 50


Fikiran nya semakin panas, Mengapa Nathan bertingkah seperti ini dari kemarin. Nathan tidak berbicara apa pun padanya bahkan menampakan wajahnya saja tidak, fikirnya begitu.


Setelah selesai makan dia berjalan menuju ruang kerja Nathan, sebelumnya tak lupa dirinya untuk mencuci piring bekas makan nya.


Dia mondar-mandir didepan ruang kerja Nathan, kedua tangan nya dilipat didepan dadanya sembari sesekali dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu. Sampai akhirnya dia memberanikan diri untuk mengetuk pintu tersebut.....


Tok....tok....tok


Lama ditunggunya, namun tidak ada yang membukakan pintu bahkan sahutan saja tidak ada.


"Nathan....kamu benar-benar yah" Gumam Rens.


Saat ia hendak pergi meninggalkan ruang kerja Nathan, tak sengaja tangan nya menabrak gagang pintu tersebut hingga terbuka sedikit. Dia pun terkejut dan jadi gelagapan.


"Haduhh....bodoh sekali!! gimana nih" gumamnya.


Mau tidak mau dia masuk kedalam ruangan tersebut.


"Nathan...maafkan aku!! aku tidak sengaja menyentuhnya hingga terbuka....maaf kan aku sekali lagi" segera dirinya meminta maaf sembari menunduk tanpa melihat sekelilingnya. Dia pun tidak sadar jika Nathan tidak ada diruangan tersebut.


"Nathan kamu kok ngga jawab sih....." Rens pun menegak kan kepalanya. Dia menoleh ke kiri dan kanan, betapa terkejutnya dia Nathan tidak ada diruangan tersebut.


"Kok dia ngga ada ? kemana? apa dia sengaja menghindariku? Biarkan saja lah itu kan hak nya" ucap Rens kesal dan bertanya-tanya.


Karna ini pertama kalinya ia masuk kedalam ruang kerja tersebut, dia pun menyempatkan diri untuk berkeliling melihat-lihat seisi ruangan itu. Terdapat banyak sekali foto-foto disana, foto dua orang anak kecil sedang bermain, dan beberapa foto dua pemuda, dia sadar jika pemuda itu adalah orang sama yang ada di foto pertama yaitu dua orang anak kecil yang bermain tadi. Namun saat melewati meja kerja Nathan, pandangan Rens tertuju pada sebuah bingkai foto yang terletak disana.


Digapai nya bingkai tersebut dan diperhatikan nya dengan seksama. Ternyata benar orang yang berada dalam foto tersebut adalah Nathan. Namun didalam foto tersebut Nathan sedang merangkul seorang perempuan berambut panjang yang sangat cantik.


"Apa hanya perasaan ku saja, jika aku seperti pernah melihatnya? tapi dimana dan kapan?"


Diujung paling bawah sebelah kiri foto itu terdapat sebuah tulisan "Love you more Stephanie" perempuan itu adalah Stephanie.


Deg.....


Pertanyaan demi pertanyaan pun mulai menghampiri fikiran nya. Siapa, mengapa, kapan, dan dimana perempuan itu....


Sakit memang sangat sakit melihatnya, tiba-tiba saja air matanya jatuh menetes. Dengan cepat dia meletakan kembali bingkai tersebut dan kembali kekamarnya.


Dia berlari lalu merebahkan tubuhnya keatas ranjang. Dia menangis terisak-isak, jantungnya berdegup dengan cepat, dada nya mulai sesak. Kepala nya mulai pusing memikirkan semua pertanyaan itu. Bahkan terlintas dikepalanya jika Nathan sekarang ini sedang bersama wanita itu....


"Teganya kamu Nathan.....Aku memang sadar jika aku bukan lah siapa-siapa bagimu, namun aku juga punya hati!! semua perhatian dan sikap mu ke aku sudah membuatku jatuh cinta padamu....hiks" ucapnya terus-menerus menangis.


Air matanya seakan tiada hentinya menetes. Pantas saja jika dia tidak menghubungi ku karna sekarang ini dia sedang bersama wanita itu, begitulah fikirnya.


Dia menangis hingga matanya sembab dan memerah. Dia pun akhirnya terlelap karna kelelahan sambil memeluk guling yang ber aroma tubuh Nathan.


 


Malam pun tiba Alex sudah memesankan kamar hotel mewah untuk Nathan menginap. Dan tak lupa dia telah menyiapkan sebotol wine dan juga gelas dikamar hotel itu.


Sebelum tidur Nathan terlebih dahulu membersihkan diri, setelah itu dia duduk ditepi ranjang. Dia mengambil ponselnya dan menchargernya diatas desk kecil samping ranjang.


Dilihatnya sebotol wine sudah disediakan rapi disana, tanpa berlama dia mulai meminumnya namun kini tidak hanya segelas. Dia meneguk langsung dibotolnya saat itu.


Menurutnya hari ini begitu melelahkan, bukan hanya tubuh tetapi fikirannya juga sangat lelah.


Setelah meminum habis sebotol wine tersebut. Nathan pun mulai menyalakan ponselnya yang daya nya telah habis sedari sore.


Saat dinyalakan nya, matanya membulat melihat beberapa panggilan tak terjawab dari Whatsapp. Tak lain adalah Renesmee yang menghubungi nya dan juga Kevin.


Dia lupa untuk mengabari Kevin jika dia sudah sampai diseoul dan berencana menginap selama 3 hari kedepan.


Setelah selesai menelpon Kevin, Nathan masih ragu untuk menelpon balik Rens. Tetapi dia juga sangat penasaran dengan keadaan Rens. Dia pun dengan nekat menghubungi balik nomer Rens, namun alhasil tidak ada jawaban dari Rens. Kemudian dia memutuskan untuk mengirimkan pesan untuk Rens...


...****************...


To : Renesmee


kenapa kau tidak mengangkat telpon ku, apa kau sudah tidur....


baiklah kalau begitu tidur yang nyenyak, Selamat Malam.....


...****************...


Nathan pun merebahkan tubuhnya dan terlelap dengan nyaman hingga pagi....


 


Malam yang sama namun ditempat yang berbeda, Tara sedang duduk dibalkon Villa yang berada dipinggir pantai yang indah....


Villa tersebut sangat jauh terbilang dari kota mereka. Villa itu adalah milik dirinya sendiri, dia sudah membeli nya sangat lama sejak masih duduk dibangku SMA bersama Rens dan Mia.


Terkadang setiap hampir setiap tiga bulan sekali mereka berlibur kesana, untuk sekedar Refreshing.


Tidak jauh dari Villa tersebut, terdapat sebuah pabrik pengolah ikan tuna kalengan milik perusahaan ayah Tara. Pabrik itu semakin hari semakin berkembang, padahal baru sekitar 3 tahun berdirinya.


Pabrik itu juga bisa berkembang karna General Manager nya yang sangat pintar mengelola pengeluaran dan pendapatan disana.


GM itu tinggal di Villa milik Tara, karna mereka keluarga jadi yah tak apa jika ikut tinggal disana.


Sebut saja namanya Sheila. Sheila menghampiri Tara yang sedang termenung melamun dibalkon. Dia membawa dua gelas coklat hangat dan memberikan nya satu kepada Tara.


"Tar....sampai kapan kamu disini? kamu ngga ngampus?" Tanya Sheila, sembari menyodorkan segelas coklat.


"Hmm....aku lagi rindu aja sama tempat ini!!" Jawab Tara, kemudian tersenyum.


Sheila tertegun melihat senyuman Tara yang begitu ia sukai. Walaupun dia tahu senyuman itu terpaksa.


"Kamu rindu tempat ini atau rindu kenangan bersama dia" ucap Sheila sembari menatap kearah laut.


Angin laut saat malam hari disana begitu kencang. Namun sangat indah melihat deburan ombak ditepi pantai terlebih lampu-lampu yang dipasang para nelayan disepanjang pantai menambah keindahannya.


"Dia? Dia siapa hahaha" Tawa tertawa mendengar ucapan Sheila.


"Iya ...wanita itu yang kau sering ajak kesini" ucap Sheila lagi. Kini Tara mulai penasaran dengan ucapan Sheila, apa yang dimaksud Sheila adalah Rens.


"Dari mana kau tahu dia? bukan kah kalian tidak pernah bertemu? karna jika dia ada disini kau selalu pergi kerja pagi dan pulang malam?" ucap Tara, kini dia sedang menatap Sheila dengan sangat dalam.


Sheila yang merasa ditatapi sebegitunya, tertunduk malu dan mengalihkan pandangannya kearah lain.


"Kau salah.....aku pernah bertemu dengan nya beberapa kali, yang pertama saat tengah malam aku dan dia sama-sama pergi kedapur untuk mengambil air, yang kedua bertemu didekat pabrik, meskipun sebentar namun saat pertama kali bertemu kita sempat mengobrol sedikit...." Sheila menjelaskan secara detail.


"Benarkah? terus dia ngga tanya kamu siapa? kok bisa tinggal disini?" Tanyanya lagi. semakin penasaran.


"Tidak.....dia tidak bertanya apapun!! sepertinya dia bukan lah type perempuan yang kepo dengan urusan orang lain...." Jawab Sheila lagi.


"Yah benar.....dia adalah wanita yang tak hanya cantik diluar ....namun juga cantik dihatinya...." ucap Tara sembari manatap kearah pantai. Dia memuji jati diri Rens didepan Sheila.


Sheila hanya diam mendengar pujian Tara untuk Rens, tak terasa air matanya menetes dengan sendirinya. Namun dengan cepat ia menghapusnya agar tak terlihat oleh Tara.


Bersambung....