
Namun tidak halnya dengan Mia, beberapa kali Kevin sempat memikirkan dirinya. Walaupun baru terhitung beberapa jam mereka bertemu.
"Dimana wanita rembes itu? Bagaimana caranya dia pulang, sedangkan jam segini udah gak ada lagi taksi maupun mobil yang lewat dijalan ini......" ucapnya seraya melihat kearah sekitar.
"Aghh......apaan sih bukan urusanku, buat apa juga aku peduli dia bisa pulang atau ngga!! Ada ada saja" ucapnya lagi sembari tersadar kalau dia baru saja mengkhawatirkan wanita itu, yang tak lain adalah Mia.
Kevin pun langsung bergegas melajukan mobilnya keluar dari parkiran itu, tak lupa dirinya memasang sabuk pengaman terlebih dahulu.
Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menyusuri jalan itu. Namun seketika matanya melotot melihat seorang perempuan yang sedang berjalan bertelanjang kaki sendirian sembari memegangi sepatu hak tingginya ditangannya.
Dia melambatkan kecepatan mobilnya, dan memperhatikan lebih jelas wanita itu. Kevin pun sangat terkejut ternyata yang dilihatnya itu adalah Mia.
"Wanita yang aneh, malam-malam begini jalan sendirian ditempat sepi!! Memangnya dia tidak takut diganggu preman?" ucapnya terkekeh.
"Biarkan saja, ngga peduli" ucapnya lagi.
Kevin melajukan mobilnya melewati Mia yang sedang berjalan kaki itu, tanpa menoleh sedikit pun. Mia menyadari kalau mobil yang melewatinya itu adalah mobil pria gila berdarah dingin, yang tak lain maksudnya adalah Kevin.
"huh......sengaja banget laju-laju!! Lagian siapa juga yang mau minta tumpangan!! Lebih baik aku jalan kaki sampai rumah daripada harus semobil lagi padanya" ucap Mia menggerutu.
Dia pun kembali berjalan terus menyusuri jalan itu.
.
.
.
.
.
"Aghh.....Sialan!! Aku gak bisa tidak perduli melihat seorang wanita berjalan sendiri dimalam hari seperti ini" ucap Kevin seraya mengacak acak rambutnya hingga berantakan. Dia juga melepaskan dasi miliknya, serta membuka beberapa kancing kemeja karna sangat gerah rasanya. Lagian ini juga sudah bukan jam kerja baginya.
Kevin pun memutuskan untuk menjalankan mobil nya dengan mundur terus kebelakang. Dia berniat untuk memberi tumpangan pada Mia.
Saat sudah benar-benar dekat dengan Mia yang sedang berjalan kaki, Kevin pun memberhentikan mobilnya.
"Hmm ngapain lagi nih orang? Pura-pura aja ngga liat aghh" ucap Mia sembari terus berjalan enggan untuk menoleh.
Kevin turun dari dalam mobilnya dan berjalan mendekati Mia yang berjalan menjauh. Tiba-tiba......
Mia terkejut saat Kevin menarik tangannya. Sontak dirinya reflek dan langsung melepaskan tangan Nathan. Dia trauma dan masih sedikit takut pada Kevin. Mengingat bagaimana terakhir kali saat dia menyentuh tangan Kevin. Saat itu Kevin begitu marah dan geram pada Mia, bahkan dia mencengkram Mia seperti ingin membunuhnya.
Mia mundur selangkah, Kevin yang melihatnya mundur hanya mengerinyitkan dahinya. Tanpa berkata apa-apa Kevin lalu menggendong tubuh Mia dan membawanya masuk kedalam mobil dikursi depan. Setelah itu Kevin berjalan kearah sebaliknya lalu masuk kedalam mobil juga dikursi kemudi.
"Yaaa....maksud kamu apa? Turunkan aku dasar pria gila!! Turunkan gak aku, atau aku teriak ini" ucap Mia memberontak.
Kevin pun menoleh kearah Mia, dia geram mendengar Mia menyebutnya "Pria Gila" . Dia menatap tajam Mia, lalu Kevin semakin mendekat pada tubuh Mia.
Jantung Mia berdegup sangat kencang saat wajah nya dan wajah Kevin kini sangatlah dekat. Bahkan sekarang Mia dapat merasakan hembusan nafas Kevin yang tenang. Dirinya semakin gugup dan jantungnya semakin berdebar hebatnya saat Kevin mulai melingkarkan tangannya seperti ingin memeluk tubuh Mia.
Mia tak tahu harus berbuat apa badannya gemetar, dia menyatukan kedua tangannya didepan dadanya lalu menutup matanya perlahan.
Tercipta senyuman kecil dibibir milik Kevin saat melihat Mia yang menjadi gugup. Tiba-tiba saja......
Cklekk.....
Bunyi sabuk pengaman yang terpasang. Ternyata Kevin hanya ingin memakai kan sabuk pengaman milik Mia. Dirinya seketika tersadar saat mendengar bunyi tersebut.
Mia membuka kedua matanya kini wajahnya menjadi memerah dan langsung memalingkan wajahnya keluar jendela. Malu sekali dirinya jika harus menatap wajah Kevin, fikirnya.