
Sampailah Nathan ditempat yang sudah dikirimkan alamatnya oleh Jung Hyunseok. Jung Hyunseok adalah seorang detektif swasta yang dipekerjakan Nathan untuk suatu hal. Dia dibayar mahal oleh Nathan dengan syarat jangan sampai ada yang tahu tentang misi yang diberikan oleh Nathan.
Terlebih dahulu Alex turun dari mobil untuk memastikan keamanan disekitar tempat itu, Nathan tidak mau jika ada seseorang yang mengetahui Nathan berada disana.
"Selamat datang Tuan Nathan......silahkan masuk" sapa seorang pria menyambut kedatangan Nathan, pria tersebut tak lain adalah detektif Jung.
Detektif Jung pun mempersilahkan Nathan beserta Alex untuk masuk kedalam kantornya. Dari luar gedung saja sudah terlihat sangat buruk keadaan gedung itu. Tertutup dan terletak paling sudut di sebuah gang kecil.
Didalamnya pun terlihat berantakan, dokumen-dokumen berhamburan disana-sini seperti tak layak dikatakan jika itu adalah sebuah kantor.
Nathan pun dipersilahkan untuk duduk disofa yang telah disediakan. Alex pun menghampiri Nathan dan membawakan beberapa berkas miliknya kepada Nathan.
Sedangkan Detektif Jung masih sibuk mengetik sesuatu dikomputer nya lalu mencetaknya lewat printer yang tak jauh letaknya. Setelah selesai dia pun menghampiri Nathan dan memberikan berkas yang baru dicetak nya tersebut kepada Nathan.
Dengan seksama Nathan mulai membaca satu demi satu dokumen tersebut bahkan ada beberapa foto anak lelaki.
"Apa test DNA nya sudah dikeluarkan?" Nathan bertanya dengan raut wajah sedikit pucat. Karna terlalu banyak berfikir dan mengkhawatirkan sesuatu membuatnya tekanan darahnya rendah.
"Tes DNA nya akan keluar sekitar tiga hari tuan...." ucap Detektif Jung terbata-bata.
"APA KAU BILANG......jadi maksudmu aku harus menunggu tiga hari lagi " Bentak Nathan. Suaranya menggema diseluruh ruangan, Alex beserta Detektif Jung sangat terkejut.
"Maafkan saya Tuan....." ucap Detektif Jung menunduk.
Nathan pun beranjak dari duduk nya, ia menyisir rambut depannya kebelakang sembari menghela nafas dengan kasar.
"Sial.....baik lah aku akan menunggu tiga hari"
"...Bagaimana dengan yang lainnya apa kau yakin dia adalah anak itu?" ucapnya lagi.
"Benar Tuan....saya sangat yakin 100%" ucap Detektif Jung.
"Alex berikan cek itu padanya.....dan ingat selesaikan tugasmu dengan benar jangan sampai ada yang tahu tentang ini" ucap Nathan, sembari melangkah meninggalkan Detektif Jung lalu disusul oleh Alex setelah memberikan Cek kepada detektif Jung.
"....jangan lupa bawa semua dokumen itu!! Aku menunggu dimobil" ucapnya lagi.
"Baik tuan.....ini cek nya ingat jangan sampai ada yang mengetahui ini semua" ucap Alex pelan namun terdengar mengancam.
Detektif Jung hanya bisa mengangguk dan mengambil Cek tersebut dengan gemetar. Sungguh sial dirinya berurusan dengan orang-orang seperti Nathan, fikirnya.
Saatnya waktu makan siang, Rens dan juga Mia makan siang bersama disebuah cafe dekat kampusnya.
Mia sibuk dengan makanan nya sedangkan Rens hanya melamun menatap kearah lain. Mia melihat sahabatnya itu tidak seperti hari-hari biasa, sedari tadi pagi Rens hanya melamun dan tidak fokus saat sedang dikelas bahkan sampai sekarang.
"Rens......"
"Rens......"
"Renesmee..." teriak Mia, Rens pun terkejut dan langsung tersadar dari lamunan nya.
"Kamu apaan sih Mi.....gak usah teriak aku juga dengar kok" ucap Rens mengomel.
"Habisnya kamu aku panggil sekali ngga nyaut, dua kali juga sama, ya udah aku teriak aja....." ucap Mia, sembari kembali menyantap makanan nya.
"....kamu bertengkar lagi sama Nathan? kenapa sih kalian tuh ngga pernah akur heran banget tau" ucap nya lagi.
"yah sama aja kali....." ucap Mia
"eh....aku ketoilet bentar yah" ucap Mia, sembari berdiri dari duduknya.
"Kamu itu dasar ya.....kalau lagi diomongin cari alasan terus" Rens pun meninggalkan Mia yang masih saja menggerutu sendiri.
Didalam toilet dia mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya, lalu dicarinya kontak yang bertulis "Si Pemarah". Benar sekali itu adalah Kontak milik Nathan.
Dia mencoba untuk menghubungi Nathan namun sayang sekali Nathan tak menjawab panggilannya. Dia pun memutuskan untuk kembali kedalam cafe menghampiri Mia kembali.
"Lama banget sih....kamu ngapain aja" Mia berkata dengan alis yang menjungkit.
"Yah buang air lah.....mau ngapain lagi memangnya..." Rens menjawab dengan menjulurkan lidah meledek Mia.
"yasudah yuk......bentar ada kelas lagi loh" Rens mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Baiklah......oh iya Rens kamu udah ada ketemu Tara ngga? tadi aku ngga sengaja ketemu sama dekan Arnold" ucap Mia.
"Terus kenapa...." tanya Rens penasaran.
"Dia tanya ke aku ......Tara kenapa beberapa hari ini ngga pernah hadir dikelasnya? kemana sih tuh anak ngilang, aneh banget" Mia menjelaskan kepada Rens, Rens yang mendengarnya pun mulai teringat saat terakhir kali dia bertemu kemarin sore.
"Kemarin sore aku bertemu dengan nya....cuman aku gak sempat nanya sama dia" ucap Rens, Rens tidak menceritakan kejadian kemarin kepada Mia. Karna dia tidak mau Mia khawatir jika mendengar dirinya bertengkar lagi dengan Nathan.
"Oo gitu.....yaudah deh!! ayo kita kekelas" ajak Mia, Rens pun hanya mengangguk menerima ajakan Mia.
Mereka pun kembali kekampus dan menghadiri kelas bersama.
Siang berganti sore kini Rens sedang berdiri sendiri didepan gerbang kampusnya. Sedangkan Mia seperti biasa dia harus bekerja paruh waktu.
Hari pun semakin sore, kini senja mulai datang. Sesekali dia melihat kearah arloji nya, namun seseorang yang ditunggu-tunggu tidak juga menampakan sosoknya.
Benar, Rens sedang menunggu Nathan untuk menjemputnya. Namun hingga matahari terbenam pun Nathan belum juga datang menjemputnya. Di dalam hatinya bertanya-tanya mengapa Nathan tak menjemputnya, Apakah Nathan masih marah, Ataukah hanya dirinya yang terlalu berharap lebih pada Nathan. Pokoknya semua fikiran itu berputar-putar dikepalanya hingga membuat kepala nya sakit......
"Nathan......Apa hanya aku saja kah yang merasakan ini? Aku salah sudah berharap lebih padamu!! lihat saja kalau aku sudah sampai dirumah, aku ngga mau tegur kamu" Gumam Rens menggerutu tak jelas.
Rens pun memutuskan untuk pulang sendiri naik taksi ke apartment Nathan. Sesampainya disana dia pun bergegas menuju lift dan tak lupa dia membayar supir taksi tadi.
Ting........pintu lift terbuka
Rens berjalan menelusuri ruang demi ruangan, namun saat melewati dapur langkah kakinya terhenti. Dilihatnya ada beberapa makanan yang sudah tersusun rapi disana. Dia pun langsung bergegas masuk kedalam kamarnya untuk membersihkan diri.
"hmm...apa dia yang menyiapkan makanan itu? tapi kenapa dia tidak menjemputku?" gumam Rens.
Setelah selesai Rens pun melangkah kan kakinya kedapur dan duduk dikursi meja makan. Ditatapnya satu persatu makanan itu nampak lezat dimatanya. Namun matanya tertuju pada secarik kertas memo berwarna kuning bertuliskan....
"Nona.....habiskan semua makan malam itu !! Saya diperintahkan Tuan untuk menyiapkan nya"
Dia pun sadar jika fikiran nya telah salah menilai, ternyata makanan itu dari Kevin bukan lah Nathan. Dengan kekesalan dia tetap menghabiskan makanan itu tanpa tersisa sedikit pun.
Fikiran nya semakin panas, Mengapa Nathan bertingkah seperti ini dari kemarin. Nathan tidak berbicara apa pun padanya bahkan menampakan wajahnya saja tidak, fikirnya begitu.
Bersambung.......