Terjebak Takdir Cinta Presdir

Terjebak Takdir Cinta Presdir
MUSIM KE-3 : Episode 11


"Apa kamu sudah memindahkan barang-barang ku yang penting-penting saja ke apartemen Gavin?" Tanya Reghata kepada Shina.


"Sudah Nona..." Jawab Shina sigap.


"....Nona apa anda mau saya menyiapkan mobil?" Lanjut Shina menawari.


Reghata menggelengkan kepala nya sambil menggerak kan tangan isyarat menyuruh Shina keluar dari ruangan. Ketika di luar ruangan Shina terkejut saat berpapasan dengan Presdir Simon dari grup SSS. Lelaki berparas bule itu sangat menawan, tubuhnya yang kekar dan manik matanya yang biru sungguh menggoda.


Lelaki itu tersenyum dengan ramah nya sambil berjalan mendekati Shina. "Apa bos mu ada?" Tanya nya melirik pintu ruangan kerja Reghata.


Shina membalas senyuman Simon seraya mengangguk kan kepalanya. "Silahkan Tuan...." Ucapnya membungkuk sedikit dengan tangan seperti mempersilahkan lelaki itu masuk.


"Thank you Shina, your always beautiful everyday...." Ucap nya Simon. Sontak membuat wajah Shina bersemu merah. Simon memang terkenal dengan kata-kata manis nya kepada setiap wanita.


"Tuan Simon? Apa yang anda lakukan? Kenapa tiba-tiba kemari?" Reghata beranjak dari kursi nya ketika melihat Simon masuk kedalam ruang kerja nya.


"Bukan kah seharusnya ini adalah hari libur untuk pernikahan mu pretty girl?" Simon tersenyum lalu duduk santai di sofa yang sudah di sediakan.


Reghata mengernyit menatap skeptis Simon. Ia pun duduk di sofa yang berhadapan dengan Simon. "Jangan memanggil ku seperti itu, kita tidak sedekat itu untuk saling berbicara formal....." Lirih Reghata memalingkan wajah nya.


Simon memiringkan sedikit kepalanya untuk bisa menggapai wajah Reghata. "Why? Apa kau lupa tentang hari itu? Disaat kamu mabuk? Siapa yang bersedia mendengarkan segala hal yang kamu curhat kan, selain aku? Itu berarti kita sudah sangat dekat...."


Dengan ringan nya tanpa beban sedikit pun Simon berkata. Reghata menoleh tajam. "Lupakan hari itu, kita hanya sebatas partner kerja saja....aku tidak punya waktu untuk meladeni mu hari ini....."


Reghata beranjak dari duduk nya lalu melangkah kembali ke kursi kerjanya. Namun secepat kilat Simon langsung menarik lengan Reghata. Reghata termundur selangkah. Pinggul belakang nya menabrak pinggiran meja. Ia tak bisa bergerak kemana-mana, karna tangan kekar lelaki itu sudah mengunci samping kiri dan kanan nya.


"Ayolah Re.....aku tahu semua masalahmu!!! Kamu menikah bukan karna Cinta, tapi karna terpaksa" Simon mendekatkan wajah nya pada Reghata.


Reghata membuang muka ke arah lain. Menghindari tatapan mata Simon. "Menjauh dariku, aku tidak ingin ada yang salah paham jika melihat mu seperti ini.....hubungan kita sudah lama usai, sekarang kita hanya sebagai partner dalam pekerjaan saja...."


Reghata masih berkata dengan nada lirih dan pelan. Sudah sangat lama sekitar satu tahun yang lalu sebelum perjodohan nya dengan Marvin. Reghata ternyata memiliki hubungan bersama Simon. Bukan hubungan percintaan tapi hanya sekedar teman curhat saja. Reghata tidak pernah menganggap Simon lebih.


Tapi tidak dengan Simon sendiri. Lelaki mana yang bisa melewatkan pesona dari Reghata. Sikapnya yang sedingin es malah membuat Simon menyukai wanita sepertinya. Reghata sudah sering menjelaskan kepada Simon jika dia tidak merasakan apa-apa kepadanya. Tapi Simon tetap saja terus mendekati Reghata.


Tiba-tiba saja pintu terbuka. Disaat Reghata dan Simon masih di posisi yang sama. Pria tampan menawan dengan paras dingin nya masuk.


"Bukan kah ini hari libur? Tapi kena---" perkataan nya terhenti. Melihat sang istri sedang bersama dengan seorang pria.


"Gavin?" Lirih Reghata mendorong Simon untuk melihat Gavin.


Simon tersenyum tanpa merasa bersalah kepada Gavin. "Selamat siang Tuan Louis?" Ucap nya santai.


Bukan nya marah Gavin malah tersenyum miring samar-samar. "Selamat siang Tuan Simon...." Balas Gavin.


"Kalau begitu aku akan meninggalkan kalian berdua....sampai jumpa Nona Reghata di Meeting selanjutnya...." Simon melirik Reghata dengan tersenyum licik seraya berjalan ke arah pintu.


Gavin memutar bola matanya dan menghembuskan nafas nya yang panas. Ketika Simon menepuk pundaknya ketika melewatinya.


Sepeninggal Simon....


"Cihh....Meeting apanya? Rasanya ingin sekaki aku memukulnya...." Gerutu Gavin pelan sambil menyandarkan kepala nya.


"Apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Reghata yang masih berdiri.


"Kenapa cara bertanya mu seperti itu?" Ucap Gavin melirik tajam Reghata. Sama-sama memiliki tatapan yang tajam membuat seisi ruangan terasa tegang.


"Tidak ada yang salah dengan cara bertanya ku?" Cetus Reghata.


"Heh....apa aku tidak boleh datang kesini untuk menemui istriku sendiri? Dan dia boleh bertemu dengan mu? Bisa-bisanya....." Nada bicara Gavin meninggi. Dia membuang muka ke arah lain, kecewa terhadap sikap Reghata.


"Apa maksudmu? Aku juga tidak menyuruh nya datang kesini....kalian para lelaki selalu suka seenak nya saja!!!!" Raut wajah Reghata pias.


"Terus apa tadi Re? Kita baru menikah kemarin, tapi hari ini kamu menghindari ku di rumah dan pergi ke kantor, untuk bermesraan dengan nya? Aku benar-benar tidak percaya kamu seperti ini Re...."


"Aku tidak bermesraan dengan Simon, dan aku juga tidak ada hubungan apa-apa dengan nya....jangan menuduhku yang tidak-tidak, aku tidak suka itu" ucap Reghata penuh penekanan.


"Terserah kau saja....aku sedang tidak ingin berbicara dengan mu...."


Gavin pun beranjak dan melangkah menuju pintu. Sakit hati, jelas sangat sakit hatinya melihat wanita yang ia cintai bersama dengan pria lain. Tapi sebelum tangan nya sempat meraih gagang pintu. Reghata terlebih dulu menarik tangan Gavin.


"Jangan salah paham, aku tidak memiliki hubungan apapun dengan nya....dulu kami memang pernah berteman hanya sebatas teman tidak pernah lebih" ucap Reghata lirih.


Gavin menatap lekat manik mata kecoklatan Reghata. Mencari kejujuran di dalam manik polos itu. Gavin mengehela nafas berat. Ia pun tersenyum singkat sambil menaruh tangan di atas kepala Reghata.


"Kalau begitu cepat lah pulang, jika urusan mu sudah selesai...." Tangan nya mengusap kepala Reghata. Kemudian mengecup keningnya dengan lembut sampai akhirnya dia keluar dari dalam ruangan tersebut.


Reghata terpaku diam. Masih bisa dirasakan nya sentuhan bibir Gavin yang hangat di kening nya. Kenapa pria itu selalu membuat dada nya berdebar-debar seperti yang dia rasakan kini. Jantung nya seakan ingin meledak.


Reghata memegangi dadanya yang bergemuruh itu. "Ada apa dengan ku? Akh...isih sekali dengan perasaan seperti ini...."


***


Diluar ruangan....


Gavin mendekati Shina yang tengah duduk memainkan ponselnya. Menyadari jika Gavin berjalan ke arah nya. Dengan sigap Shina pun berdiri.


"Siapkan mobil nya, lima belas menit lagi ajak dia pulang...." Titah Gavin dengan raut wajah sedingin es. Membuat Shina membeku ditempat.


"Baik Tuan....." Ucap Shina membungkuk sedikit. Ketika Gavin pergi barulah dia menegakan pandangan nya. Ada apa dengan nya? Apa terjadi sesuatu di dalam sana? Pikir Shina.


TBC.


Note : Jangan lupa like, koment, dan votenya🙏🙏


Biar tambah semangat untuk up nya, Thankyou Happy Readings🌹🌹