Terjebak Takdir Cinta Presdir

Terjebak Takdir Cinta Presdir
PART~~73


***Maaf yah tadi ada kesalahan author....jadi author hapus episode yang ke79, untuk yang sudah baca mohon maaf yah sekali lagi!!


Episode nya author revisi kembali dan author gabung ke episode berikut nya semoga kalian suka yah....Happy reading jangan lupa like dan votenya terima kasih.......🤗🤗🤗***


Keesokan paginya......


Nathan dan juga Rens berangkat bersama.. Nathan terlebih dahulu mengantar Rens ke kampus setelah itu baru kekantornya.


Kevin duduk dimeja kerja nya sembari ia mengerjakan beberapa berkas yang diperintahkan oleh Nathan.


Beberapa detik kemudian ponsel nya berdering dengan begitu keras. Segera ia rogoh sakunya dan mengangkat panggilan itu.


Kring...kring...kring


"Hallo....selamat pagi apa ini dengan Tuan Kevin Lim sekertaris daei Presdir Nathan" ucap seorang pria diseberang sana.


"Benar...ini dengan siapa?" jawab Kevin.


"Saya Joy sekertaris Presdir Louis..."


"Oh...ada urusan apa?" Kevin sedikit ketus menjawab.


"Presdir Louis mengundang Presdir Nathan beserta Tuan Kevin untuk makan siang bersama...."


"Baiklah ...saya akan tanyakan terlebih dahulu pada Presdir Nathan, nanti saya hubungi kembali"


"Kalau begitu, terima kasih Tuan Kevin"


Tut.....panggilan terputus


Setelah mematikan panggilan tadi, Kevin bergegas masuk kedalam ruang kantor Nathan.


Tok...tok...tok...


Kevin menghampiri Nathan yang sedang duduk dikursi kerjanya.


"Tuan Louis mengundang kita untuk makan siang bareng, bagaimana menurutmu?" ucap Kevin.


"Katakan padanya aku bersedia...tinggalkan aku sendiri untuk sebentar saja Kevin...." Nathan buru-buru berbicara, lalu dia mengusir Kevin keluar dari ruang kantornya.


"Baiklah aku akan memberitahunya....." Dengan sedikit kesal Kevin berjalan keluar dari ruang kerja Nathan.


"Sejak dari rapat kemarin, kurasa dia sedikit aneh" Bathin Kevin.


sepeninggal Kevin, tiba-tiba saja ponsel Nathan berbunyi panggilan dari Alex. Dengan sigap Nathan mengangkat telpon itu.


Kring...kring....kring....


"Bagaimana ? apa yang kau temukan" Antusias Nathan.


"Dari sumber yang saya dapat kan, Sheila ditemukan 4 tahun yang lalu 1hari dari kecelakaan Tuan dan Nona Stephanie"


"...Dia ditemukan oleh siswi SMA yang sedang berlibur di Villa yang ada di pantai X. Dia ditemukan sedang terdampar dibalik bebatuan dipesisir pantai, menggunakan gaun pengantin berwarna merah!!"


"....karna tidak tega, Louis dan keluarga nya merawat Sheila dikala itu, namun saat dia mulai siuman Sheila sama sekali tidak mengingat apapun, bahkan nama nya saja dia tidak tahu!! saya rasa dia mengalami amnesia akibat kecelakaan itu Tuan....." Alex menjelaskan.


"Sudah kuduga....aku benar Sheila adalah Stephanie" ucap Nathan seraya mengangguk.


"....tapi siapa siswi yang menemukan nya? apa jangan-jangan...." lanjut Nathan, seketika dia terkejut.


"Benar tuan.....Nona Renesmee lah yang menemukan pertama kali Sheila"


Deg....deg....deg


Seketika jantungnya berdebar begitu kuatnya, betapa tak percaya nya dirinya. Bagaimana bisa takdir sudah mempermainkan hidup mereka. Selama ini mereka telah terhubung satu sama lain.


Dari yang Kevin adalah kakak kandung Tara, Rens dan dirinya menikah, terus Sheila adalah Stephanie yang ditolong oleh keluarga Louis, bahkan Rens lah yang menyelamat kan nya pertama kali.


Alex yang merasa aneh, mengapa Tuan nya tersebut malah diam tak menjawab. Dia pun memanggil-manggil Nathan beberapa kali.


"Tuan....Tuan Nathan...." seru Alex.


"hah? oh iya apa Rens juga mengetahui jika Sheila adqlah Stephanie?" tanya nya kini dengan nada cemas.


Apa yang dicemaskan oleh Nathan?


"Saya belum tahu pasti Tuan, yang saya tahu Sheila dan juga Nona Renesmee sudah sering bertemu dan mengenal satu sama lain..." jawab Alex lagi.


"Baiklah....kerja yang bagus"


Tut....Nathan memutuskan panggilan.


"Bagaimana bisa ini sebuah kebetulan atau apa? apa dia sudah tahu tentang Sheila? Aghhh sial" Nathan bergumam, sembari ia mengusap wajahnya dengan kasar.


"Apa aku harus menceritakan yang sejujur nya pada Rens? tapi aku tak mau dia menjadi kepikiran yang tidak-tidak..." Nathan berbicara pada dirinya sendiri.


Dia begitu cemas pada Rens, bagaimana jika Rens sudah mengetahui ini semua. Disatu sisi dia begitu senang telah mengetahui Stephanie masih hidup dengan sehat, meski dia harus kehilangan ingatan nya selama ini.


Namun, disisi lain nya dia tak mau jika Rens menjadi terluka dan memikirkan hal-hal aneh. Mengingat sekarang ini dia sudah mulai mencintai istri nya itu, bahkan dia sudah berjanji untuk tidak akan pernah meninggalkan nya.


.


.


.


.


Pagi berganti siang, sekarang sudah waktunya untuk makan siang. Nathan dan Kevin bergegas keluar dari kantor dan berjalan memasuki mobil.


Kevin mengendarai mobil dengan kecepatan sedang menuju tempat yang sudah dijanjikan oleh Louis.


Sesampai nya ditempat tersebut, tempat itu adalah Restaurant masakan china. Entah kebetulan atau apa Kevin juga menyukai masakan china.


Baru saja memasuki Restauran tersebut mereka berdua langsung disambut oleh pelayan. Pelayan itu pun menuntun merema keruangan VIP tempat Louis berada.


"Selamat datang Presdir Nathan dan Tuan Kevin silahkan duduk....." Louis menyambut kedatangan Nathan.


Nathan begitu terkejut disana juga hadir Tara dan juga Sheila yang duduk berhadapan.


Sheila hanya menunduk saat itu, dia tidak mau menatap kearah Nathan. Tidak dengan Tara yang raut wajah nya langsung berubah menjadi kesal saat melihat Nathan.


"Pah jangan bilang, orang ini yang menjadi investor baru dipabrik kita...." Tara berucap dengan kasar nya.


Kevin yang mendengar nya sedikit kesal, dia berusaha berdiri namun ditahan oleh Nathan. Maksud Nathan adalah biarkan saja Tara berbicara terlebih dahulu.


"Ada apa nak....kamu tahu sendiri kan jika Presdir Nathan orang yang baik dan investor terkenal dikota kita!! dan kau juga tahu jika dia adalah suami Renesmee putri mendiang tuan Phoenix" Louis berucap sembari menjelaskan sedikit pada Tara.


Namun , ucapan Louis malah semakin membuat Tara kesal. Lalu ia kembali berucap....


"Hahah....iya aku tahu!! aku juga tahu dia ini pria yang brengsek" Tara berucap semakin kasar sembari terkekeh kearah Nathan.


"Jadi dia ini suami Rens....pantas saja Tara begitu emosi" gumam Sheila, sembari melirik Nathan.


"Tara....kamu tidak boleh berkata kasar seperti itu pada Presdir Nathan..." ucap Louis, mengingat kan Tara untuk bersikap sopan.


"Orang seperti dia tidak pantas diperlakukan dengan baik....cihh" Tara semakin memaki Nathan.


Kevin sudah terlihat semakin geram mendengarnya. Namun tidak dengan Nathan, dia masih bersikap santai melihat sikap kekanakan Tara.


"Dasar anak ingusan, apa dia tidak bisa membedakan urusan pekerjaan dan urusan pribadi...." gumam Nathan, menatap santai Tara.


Tara beranjak dari duduk nya, dan berniat untuk pergi...


"Nafsu makan ku sudah hilang.....kalian lanjutkan lah makan siang ini tanpa diriku......" Tara berlalu keluar dari ruangan tersebut.


"Brengsek kau Nathan, apa belum cukuo untuk mu mendapat kan Rens!! sekarang kau berani melirik Sheila....hahaha awas saja jika kau berani menyakiti Rens lagi" Bathin Tara, tak terima.


"Tara.....Tara....." Louis meneriaki nama putra nya itu, namun Tara tak juga mengubrisnya.


"Tidak apa-apa Tuan .....saya yang akan bicara pada Tara!! silahkan anda lanjutkan saja makan siang nya" ucap Sheila pada Louis, dia merasa jika lebih baik dirinya pergi menyusul Tara.


.


.


.


Sheila mengikuti Tara keluar dari ruangan itu, dipegangnya tangan Tara. Tara pun menghentikan langkah nya dan menoleh kearah Sheila.


"Tar...tunggu kamu mau kemana?"


"kamu kenapa ikut aku keluar? sana masuk..."


"Aku juga risih berada disana jika Presdir itu selalu menatap ku"


"Baiklah....ayo kita pergi saja dari sini"


"Aku tak terima jika Sheila berada disana dihadapan pria brengsek seperti mu Nathan..." Gumam Tara.


Tara pun membawa Sheila pergi dari situ. Dia tak mau jika Sheila terus disana bersama dengan orang kejam seperti Nathan.


.


.


.


Didalam ruangan .....


Nathan pun mengiyakan, mereka kembali melanjutkan rencana makan siang. Pelayan datang menghampiri mereka dan mencatat pesanan mereka masing-masing.


Menunggu beberapa menit, makanan pun datang. Mereka menyantap makanan dan melupakan kejadian barusan.


Sesekali mereka berbincang membahas tentang kerja sama. Kevin menjawab semua pertanyaan Louis dengan sempurna tanpa kekurangan.


Nampak dengan jelas diwajah Louis jika sekarang ini dia begitu terpukau akan kecerdasan Kevin.


Bagaimana cara Kevin berbicara dan menjawab pertanyaan, itulah yang membuat Louis terpukau.


"Anak ini sungguh luar biasa, dia lebih cocok menjadi Presdir daripada Sekertaris!! dan kenapa tiba-tiba aku teringat pada putra sulungku Derren, andaikan dia ada pasti sudah sebesar Sekertaris Kevin ini...." Bathin Louis.


Nathan hanya memperhatikan keduanya yang nampak sangat cocok dan nyambung saat bercakap.


"Uhuk...uhuk..uhukk...." Kevin tersedak saat tengah menyantap sup kacang yang baru disuguhkan oleh pelayan.


Nathan mengerutkan dahinya, dan langsung menepuk-nepuk bahu Kevin pelan.


"Kevin....kau tidak apa-apa?" ucap Nathan, sembari terus menepuk bahu Kevin.


"Cepat berikan dia minum...." Louis memerintahkan pelayan untuk memberikan Kevin minum, pelayan itu pun dengan sigap menuangkan air ke gelas milik Kevin.


"hmm....Sudah aku tidak apa-apa kok!! lanjutkan saja makanan kalian" Kevin merasa lega setelah meneguk segelas air.


"Ada apa memang nya katakan saja....." ucap Nathan, penasaran.


"Aku tidak suka kacang, kamu tau sendiri dari dulu aku tidak pernah makan makanan yang ada kacang nya...." Kevin menjelas kan sembari mengelap mulut nya menggunakan tisu.


"Lagian kamu langsung aja makan ngga nanya dulu, itu aku yang pesan" ucap Nathan lagi.


"Ternyata kau sama dengan Tara, dia sangat tidak suka jika makanan yang ada kacangnya...." Louis berkata dengan tersenyum, dia mengatakan jika Kevin seleranya sama dengan Tara sama-sama tidak suka kacang.


Nathan yang mendengar nya pun tersenyum kecil, karna dia tahu dengan jelas kedua nya adalah kakak dan adik.


"Maaf kan aku Kevin.....untuk sekarang aku belum bisa memberitahu mu yang sejujur nya!!" Bathin Nathan.


Sedangkan Kevin, dia sama sekali tidak merasakan apa-apa saat mendengar tersebut.


"Bagaimana dengan pabrik nya? apa keadaan nya baik-baik saja disana?" Nathan mengalihkan pembicaraan, lalu bertanya tentang pabrik.


"Presdir tidak perlu khawatir, Sheila telah mengelola dengan benar pabrik kami!! bahkan dia lah yang membuat Pabrik ikan tuna itu berkembang pesat selama 3 tahun terakhir" Louis memuji-muji Sheila, dan meyakinkan Nathan untuk tidak perlu khawatir keadaan pabrik.


"Ohh gitu....baguslah" ucap Nathan sembari kembali menyantap makanan nya.


"Bagaimana jika anda pergi berkunjung kesana.....saya akan meminta Sheila untuk menemani anda" ucap Louis, menawari Nathan untuk berkunjung kepabrik nya.


Deg.....


Nathan begitu terkejut mendengarnya. Bagaimana tidak, jika Louis menawari dirinya ditemani oleh Sheila....


Sebenarnya dia belum terbiasa untuk menerima kehadiran Sheila/Stephanie kembali. Dirinya masih sedikit bingung harus bersikap dan melakukan apa.....


"Tidak perlu.....saya bisa pergi sendiri" Nathan menolak tawaran Louis.


"Tidak apa-apa Presdir.....lagian Sheila akan segera kembali keVilla dan mengurus pabrik!! anda bisa pergi bersama kepabrik..." Paksa Louis.


"Aku akan mengurus semuanya disini tenang saja...." ucap Kevin juga, seolah-olah tidak ada pilihan lain. Nathan pun menyetujui saran tersebut.....


"Baiklah terserah saja" Jawab Nathan singkat.


Mereka pun menyelesaikan makan siang mereka dengan cepat dan setelah selesaiereka kembali kekantor masing-masing.


.


.


.


.


Sore hari seperti biasa Rens menunggu Nathan menjemput nya. Tapi kali ini dia ditemani oleh Mia...


Mia yang melihat sahabat nya aneh hari ini, merasa heran. Rena terlihat lesuh dan tidak bersemangat menjalani hari ini.


"Kamu kenapa sih dari pagi kok, kaya ngga semangat gitu..." Mia langsung bertanya dengan frontal.


Rens males untuk menjawab, dia hanya menoleh sesaat dan langsung berpaling lagi.


"....Apa Nathan memperlakukan mu dengan kejam lagi" Tanya Mia lagi.


"Ngga Mi.....aku ngga apa kok!!" Rens tak mau sahabat nya tersebut ikut kepikiran tentang nya. Maka dari itu dia tidak bercerita pada Mia.


Tak berselang lama, mobil Nathan pun muncul dan berhenti tepat didepan Rens dan Mia.


Mia menoleh kearah mobil, dilihat nya Kevin yang mengendarai mobil. Dia langsung menatap sinis Kevin.


Begitu pun dengan Kevin yang menatap Mia dengan aneh, dia bingung kenapa Mia menatap nya sinis.


"Bener-bener yah tuh orang...sengaja banget berhenti tepat didepan ku, ngajak ribut kali yah" Bathin Mia


"Dasar aneh....kenapa dia menatap ku seperti itu?" Bathin Kevin.


Dari dalam mobil Nathan menatap Rens yang masih pamitan kepada Mia. Dia masih canggung mengingat semalam mereka marahan sebelum tidur. Maka dari itu dia tidak keluar dari mobil nya.


"Segitu banget.....ngga mau keluar dari mobil" Bathin Rens.


"Maaffin aku sayang...aku janji nanti saat dirumah baru aku akan meminta maaf padamu soal semalam...." Bathin Nathan.


"Mi aku duluan yah....kamu hati-hati " Rens melambai kearah sahabat nya itu sebelum masuk kedalam mobil.


"Kamu juga hati- hati yah!! bilang tuh sama sopir nya buat pelan-pelan" Mia berucap sedikit menyinggung Kevin.


Kevin yang mendengar nya pun kembali menatap Mia dengan dingin nya. Mia pun membalas dengan menggigit bibir nya lalu mengepal tangan keKevin.


Deg....deg....deg


"Ada apa ini....kenapa jantungku berdetak dengan cepat!! aghh sial" Bathin Kevin.


"aduhh kenapa sih dadaku seperti ini lagi...setiap kali bertemu dengan nya" Bathin Mia.


Mia pun langsung berbalik dan berlari kearah lain malu sekali jika Kevin melihat wajah nya yang memerah, fikirnya.


Begitu pun dengan Kevin, setelah Rens masuk dia langsung menancap kan gas dengan kecepatan sedang menuju apartemen.


.


.


.


Disepanjang jalan mereka bertiga hanya diam saja, sampai akhir nya dilift menju unit Nathan dan juga Rens sama-sama masih diam.


Setelah selesai mandi Nathan melangkah masuk kembali kekamar. Dia menoleh kesana kemari mencari-cari sosok yang dirindukan nya itu, yaitu istrinya.


Hanya sehari saja tidak berbicara satu sama lain bahkan tidak sampai seharian, Nathan sudah sangat merindukan untuk memeluk istrinya itu.


Dia berjalan keluar dari kamar, ditelusuri nya ruang santai sampai akhirnya menemukan Rens. Rens sedang berdiri dibalkon ruang santai sembari menatap bintang-bintang dilangit yang cerah malam ini.


Nathan tersenyum dan langsung menghampiri Rens. Rens tak menyadari jika Nathan sudah berada dibelakang nya.


Nathan memeluk Rens seketika, dia melingkar kan kedua tangan nya dipinggul mungil Rens.


Rens terkejut, dan berusaha membuka lingkar tangan Nathan. Namun Nathan tak bersedia melepaskan nya, bahkan dia semakin mengeratkan pelukan nya.


" Nathan....lepasin aku!! "


" Engga....aku ngga mau "


" kamu ini yah egois banget.....aku lagi males berantem tau "


" Siapa juga yang mau ngajak berantem "


" ....Aku cuman mau minta maaf soal semalam, maafin aku Rens " Nathan meminta maaf kepada Rens, mengingat semalam.


Deg.....


Jantung Rens tiba-tiba berdetak dengan cepat, dia tak percaya dengan perkataan Nathan. Untuk yang kedua kalinya Nathan mengucapkan permintaan maaf padanya.


Apakah Nathan sudah benar-benar mencintai nya, dan tulus kepada nya? fikiran nya kembali melayang-layang.


"Dia meminta maaf padaku, seharusnya aku yang meminta maaf karna menanyakan hal yang tidak-tidak kepadanya....." Bathin Rens.


Nathan mencium aroma rambut istri nya itu, aroma jeruk yang begitu segar.


Rens pun berbalik kearah Nathan, dan menatap mata suami nya itu. Dia berharap melihat ketulusan disana.


Benar sekali, Rems menemukan ketulusan Nathan dinetra coklat kesukaan nya itu. Dia yakin jika saat ini Nathan sangat tulus padanya....


" Engga sayang, aku yang minta maaf padamu!! karna aku sudah menanyakan hal-hal aneh padamu!! maaf kan aku yah " Rens berucap dengan senyuman.


Nathan pun membalas senyuman Rens, ia kembali memeluk istri nya itu kedekapan nya. Begitu pun Rens yang semakin menenggelamkan wajah nya didekapan dada Nathan.


" Jadi kita baikan yah..... " ucap Nathan


" hmm....iya" jawab Rens dengan sedikit malu-malu.


Mereka berpelukan dengan sangat romantis dibawah sinar bulan dan indah nya bintang-bintang serta angin yang sepoi-sepoi.