Terjebak Takdir Cinta Presdir

Terjebak Takdir Cinta Presdir
PART 39


Nathan melirik Rens yang terlihat sangat sedih, dia merindukan orang tuanya. Nathan memandangnya dengan iba, mengingat perlakuannya terhadap Rens.


"Baiklah sekarang kita sudah sampai, turunlah"


"hmm....." Rens hanya mengangguk, kini dia diam saja tidak seperti tadi.


Mereka pun turun dari mobil, lalu Nathan menghampiri Rens yang masih diam raut wajah sedih terpancar diwajahnya.


"Sepertinya dia merindukan orang tuanya!! Tetapi apa yang terjadi padaku? Apa aku sedang iba padanya? Aghh sudahlah" Bathin Nathan.


"Ayo....." Ajak Nathan.


Nathan pun menggapai tangan Rens lalu menggandengnya masuk kedalam lift. Rens hanya diam, dia masih sedih mengingat orang tuanya.


Sesampai nya didalam lift, Nathan masih menggandeng tangan Rens. Rens menatap sendu wajah Nathan kemudian beralih melihat kegandengan tangan mereka. Nathan menyadari jika Rens menatap dirinya, lalu dia tersadar jika tangannya belum melepaskan tangan Rens sedari tadi. Dia pun langsung melepaskan gandengan itu seketika.


"Maaf....." ucap Nathan pelan, pandangan nya ke arah lain.


"Tidak apa......tetapi bagaimana cara kerja lift ini? Kenapa tidak berjalan bahkan pintu lift nya gak menutup?" ucap Rens penasaran.


"Hah? Oh iya sebentar..." ucap Nathan sembari merogoh sakunya.


Dikeluarkannya Card Acses unit apartment nya lalu ditempelkannya ditempat yang sudah disiapkan. Seketika pintu lift pun menutup dan lift mulau bergerak. Rens terdiam melongo melihat itu semua. Kesedihannya seakan-akan hilang seketika. Dia menatap kearah Nathan dengan mata yang berbinar. Nathan yang ditatap seperti itu menjadi gugup, dia pun memalingkan wajahnya kearah lain. Dia tidak mau Rens melihat pipinya yang merona merah.


"Kau akan lebih terpukau sebentar lagi" ucap Nathan tersenyum.


"Benarkah tuan......" ucap Rens bersemangat, dibalas dengan anggukan dari Nathan.


Tidak lama kemudian pintu lift pun terbuka. Rens sangat-sangat terkejut, saat menyadari dirinya berada diunit paling atas. Unit yang sangat populer dan terkenal. Ternyata unit itu adalah milik Nathan.


" Ayo masuk, apa kau mau tetap berada di dalam lift dan ikut turun kebawah lagi" ucap Nathan menatap Rens sinis.


"hah? Oh iya " ucap Rens.


"Kau tidurlah dikamarku yang itu, dan aku akan tidur disana ruang kerja......" ucap Nathan menjelaskan, sembari menunjuk kearah dua ruangan berbeda.


"Hah? Apa maksud anda tuan?" tanya Rens bingung.


"yah tidak mungkin kan kita tidur sekamar? Apa kau menginginkan kita tidur dikamar yang sama?" tanya Nathan sinis.


"Bu-bukan seperti itu tuan.....tapi terserah anda saja" ucap Rens pelan.


"Baiklah jika kau sudah setuju" ucap Nathan.


.


.


.


.


Setelah percakapan diruang santai tersebut, Rens pun memutuskan untuk istirahat di dalam kamar yang ditunjuk Nathan untuknya. Sedangkan Nathan pergi keluar entah kemana...


Sekitar satu setengah jam Rens beristirahat, akhirnya dirinya pun terbangun. perasaan lapar mulai menghampirinya. Dia berjalan keluar dari kamarnya tersebut. Ditengoknya jam dinding, ternyata jam sudah menunjukan pukul empat sore.


Dia berjalan mengitari setiap ruangan yang ada disana untuk mencari keberadaan dapur. setelah menemukan letak dapur, Rens pun membuka lemari es yang ada disana.


Dia mencari-cari sesuatu yang bisa dimakannya. Namun yang didapatnya hanya dua bungkus roti lapis dan satu kotak susu instan.


Dia pun membawa semuanya kedepan tv dan meletakan nya diatas meja didepan sofa. Rens pun dengan lahapnya memakan roti dan meminum susu tersebut. Dari pada kelaparan lebih baik dia makan itu dulu sebelum Nathan kembali. Walupun memiliki bahan-bahan untuk dimasak, namun sayangnya dironya tidak bisa memasak. Sedari kecil Rens memang tak pernah dilajari cara memasak, dirinya selalu dilayani para pelayan sejak kecil.


Setelah menghabiskannya, Rens pun merebahkan tubuhnya disofa. Dia memandang kearah langit-langit ruangan itu. Fikirannya pun melayang, dirinya kembali memikirkan apa yang dikatakan Barbara sang mertua.


"Aku masih tidak bisa tenang, aku begitu penasaran.....kejadian apa sebenarnya yang menimpa Nathan 4 tahun lalu yah" Gumam Rens didalam hatinya.