Terjebak Takdir Cinta Presdir

Terjebak Takdir Cinta Presdir
PART 53


Kevin berjalan mendekati pintu kamar Rens kemudian. Mengetuk nya beberapa kali....


"Maaf aku tidak bermaksud membentak mu, tapi bagiku perkataan mu sangat kelewatan!! Kau tidak mengelnal bagaimana sosok Stephanie, jadi ku mohon jangan menghakimi nya seperti itu...." ucap Kevin, mencoba untuk mencair kan suasana yang menegang itu.


Tak ada jawaban dari Rens, hanya terdengar isak tangisan nya saja. "Hiks....hiks.....hiks"


"....dan asal kamu tahu, jika Nathan yang mendengar perkataan mu!! Mungkin akan lebih marah lagi dibanding diriku" ucap nya lagi.


Mendengar Kevin berkata seperti itu Rens semakin sakit hati. Membuat nya semakin penasaran akan sosok Stephanie.


"Apakah sesempurna itu dirimu....hingga Kevin pun memihak kepadamu" Bathin Rens.


"Just go away.....aku ingin sendiri" ucap Rens dari dalam kamar nya.


"Baiklah......aku akan pergi!! Jika ada sesuatu cepat hubungi aku, diatas meja sudah ku tinggal kartu nama berisi nomer ponsel ku" ucap Kevin seraya meninggal kan kamar Rens.


Kevin memang sangat marah karna perkataan Rens, namun dirinya juga merasa bersalah karna sudah tepancing emosi hingga memaki Rens tadi. Dia juga sadar mengapa Rens bisa berkata seperti itu, karna dia tidak mengetahui kebenaran nya jika Stephanie sudah tidak ada didunia ini lagi.


Bisa saja sebenarnya dirinya untuk menjelaskan kepada Rens, namun diurungkan nya karna dia merasa seharusnya Nathan lah yang menjelaskan kepada Rens. Mungkin suatu saat akan tiba waktunya.....


Tidak lama setelah Kevin pergi, Rens pun terlelap karna kelelahan menangis. Dia kembali terbangun malam hari sekitar jam delapan malam.


Kepalanya begitu sakit, matanya juga sembab hingga susah untuk membuka nya. Saat hendak melangkah tiba-tiba perutnya terasa sakit, dari siang dia belum ada makan sangat lapar dirasanya.


Dia berjalan perlahan kearah dapur mungkin saja ada yang bisa dimakan didalam lemari es. Namun dia tidak menemukan sesuatu didalam lemari es, melainkan dia menemukan beberapa hidangan berada diatas meja makan. Tak lain adalah Kevin yang menyiapkan nya, ternyata saat Rens tertidur Kevin tak lupa datang untuk menyiapkan makan malam untuk nya. Karna dia ingat bahwa Rens tidak makan dari siang tadi pasti perutnya kelaparan.


Enggan sebenarnya Rens untuk memakan makanan tersebut mengingat itu dari Kevin. Namun mau bagaimana lagi perutnya sangat sakit kala itu, ya akhirnya disantap nya juga makanan tersebut hingga tak menyisakan satu pun dipiringnya.


Setelah itu dia pun memutuskan untuk kembali tidur, dia tidak mau terlalu memikirkan semua hal tentang Nathan yang akan membuat nya kembali sakit.


 


Tiga hari berlalu, Sejak terakhir kalinya Rens bertengkar dengan Kevin. Rens merasa Kevin sama saja dengan Nathan, dia seperti menyembunyikan sesuatu bahkan dia juga membela Stephanie.


Rens berusaha untuk membiasakan diri, dan berhenti berharap pada Nathan.


Pagi ini dia terbangun saat alarm diponsel nya berdering menandakan pukul 7 pagi. Rens pun beranjak dari ranjang dan berlarian kecil kearah kamar mandi.


Hari ini adalah hari dirinya akan menyerahkan Thesis yang sudah dia selesaikan. Rens begitu semangat mengingat sebentar lagi dia akan segera lulus S2, paling tidak dia bisa mencari kerja dari pada harus bergantung pada Nathan.


 


Setelah selesai mandi dan bersiap Rens pun berjalan keluar dari kamar. Seperti biasa sebelum berangkat ke kampus dia sarapan terlebih dahulu.


Rens melangkah kan kaki nya memasuki dapur. Nampak Kevin sedang menyantap sarapan nya sembari memainkan ponselnya.


Rens pun berjalan perlahan dan duduk dikursi nya. Sejak saat itu Rens tidak pernah berbicara lagi kepada Kevin. Setelah selesai sarapan dia langsung bergegas berangkat ke kampus menggunakan taksi.


Sampailah Rens dikampus, supir menurunkan nya pas di depan gerbang. Tak lupa dia untuk membayar tagihan nya. Kemudian gadis itu berjalan menyusuri lorong kampus menuju kelas nya pagi ini.


Di perjalanan menyusuri lorong dari kejauhan Rens sudah melihat 2 sosok yang sangat familiar bagi nya, yaitu Tara dan Mia.


"Hai....lagi ngomongin apa nih?" ucap nya, sembari merangkul Mia sahabat nya.


"Hei Rens...." sapa Mia pada Rens.


"Hei Rens....apa kabar?" Sapa Tara kepada nya, sembari melontarkan senyuman nya.


Jujur saja Rens sedikit canggung bertemu dengan Tara, mengingat kejadian terakhir kali saat Nathan datang menjemput nya.


"Eh hai .....kamu kok baru kelihatan Tar?" kata nya sedikit canggung, lalu membalas senyuman Tara.


"hmm...aku lagi hendle pabrik papah yang di dekat Villa ku" jawab Tara, raut wajah nya seperti sedang berbohong.


"Oo....yaudah kita masuk yuk bentar lagi Dosen datang" ajak Rens.


Sebenar nya Rens tahu dengan jelas jika Tara sedang berbohong, namun dia tak ingin bertanya jika itu privasi nya.


Namun saat mendengar kata Villa, Rens menjadi teringat kenangan-kenangan saat mereka sering berlibur disana.


Entah mengapa terlintas begitu saja dibenak nya sosok wanita yang pernah ia jumpai disana, tetapi sayang nya Rens hampir tidak ingat wajahnya. Yang jelas dia ingat wanita itu sangat baik terhadapnya.


 


Tak terasa hari sudah sore, Matahari sudah hampir tenggelam menunggu beberapa jam lagi.


Seperti biasa Mia meninggalkan nya duluan, karna ia harus bekerja paruh waktu sedangkan Tara entah kemana.


Rens pun berjalan menyusuri lorong dan menuju luar ke depan gerbang. Karna terlalu sibuk memesan taksi melalui ponsel, sampai-sampai dia tidak memperhatikan jalan depan. Alhasil dia bertabrakan dengan seorang wanita dengan dress putih selutut dan di padukan dengan jaz berwarna hitam putih, nampak seperti wanita kantoran.


"Aghh....." ringis nya sembari kembali berdiri tegap.


"....maaf maaf aku tidak sengaja" ucap nya lagi sembari menunduk dan meminta maaf.


"Engga kok ngga apa-apa....aku juga salah terlalu buru-buru hingga menabrak mu" ucap wanita itu, wanita yang tinggi dan sangat cantik kulit nya pun putih seperti kapas.


Saat dia menoleh kearah Rens, wajah nya terlihat sangat tidak asing bagi nya. Begitu pun juga dengan nya yang menatap Rens seperti sedang berfikir. "Mungkin kah akupernah bertemu dengan nya yah?" gumam Rens....


"Hei.....apa kabar? lama tidak berjumpa dengan mu?" ucap wanita itu tiba-tiba, tentu saja Rens sangat terkejut.


"Eh....aku baik-baik saja hehehe" sahutnya canggung, dan masih berusaha mengingat wanita itu.


"Hehehe kau lupa yah padaku?" ucap wanita itu tersenyum, suara nya dan tutur katanya sangat lah lembut.


"Maaf....aku sedikit lupa maaf yah" kata Rens sembari menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal itu.


"Astaga....aku Sheila, kita pernah bertemu sebelum nya di Villa milik Tara..." ucap Wanita itu, setelah dia menjelas kan baru lah Rens mengingatnya. Ternyata dia adalah Sheila wanita baik hati yang dia temui di Villa milik Tara.


Sebenarnya Rens sangat lah penasaran tentangnya. Tara pun tidak pernah bercerita jika ada seorang perempuan cantik yang tinggal disana. Namun Rens tidak pernah juga bertanya karna menurut nya itu bukan lah urusan dirinya....


Bersambung....