Terjebak Takdir Cinta Presdir

Terjebak Takdir Cinta Presdir
PART 56


Malam itu setelah melihat rekaman cctv, Nathan pun bergegas keluar dari kamar nya dan berjalan mendekati pintu kamar Rens.


Dia ragu untuk mengetuk pintu tersebut. Namun pada akhirnya dia pun mengetuk nya beberapa kali, tetapi Rens masih tidak mau membukakan nya pintu.


Tok...tok...tok


"Apa kau tidak lapar? aku akan memasak pasta, jika kau mau keluar lah" ucap Nathan yang berdiri dtepat didepan pintu kamar Rens.


Sedangkan dari dalam kamar, Rens sedang berbaring diatas ranjangnya sembari menutup telinganya menggunakan bantal.


Nathan memasuki dapur dan berjalan mendekat kearah lemari es. Dibuka nya dan dipilih nya satu persatu bahan masakan untuk membuat Pasta, lalu ditaroh nya diatas pantry sebelah kompor.


Sebelum memasak tak lupa dia menggunakan celemek masaknya yang berwarna hitam.


Nathan terlihat sangat tampan, dia memakai celana training hitam garis merah yang dipadukan dengan kaos polos berwarna putih. Rambut nya yang acak-acak kan serta celemek yang dipakai nya menambah ketampanan dirinya.


Setelah selesai Nathan pun menghidangkan nya diatas meja makan. Sengaja iya membuat 2 porsi untuk Rens.


15 menit....


20 menit....


Hingga....


30 menit....


Rens tak kunjung keluar dari kamar nya, Nathan pun putus asa diaemutuskan untuk masuk kedalam ruang kerjanya.


Dia fikir Rens akan keluar ternyata tidak, sangat sia-sia usaha yang dia lakukan.


.


.


.


Setelah Nathan masuk kedalam ruang kerja nya, Rens pun membuka pintu kamar nya perlahan agar Nathan tidak mendengarnya.


Ia berjalan perlahan mengendap-endap kearah dapur. Dilihatnya sudah terhidang 2 piring yang berisi pasta, yang pernah Nathan buat kan untuk nya.


"Kalau ngga laper aja, ngga mau aku makan masakan mu...huh" ucap Rens, sembari duduk dikursi meja makan tersebut.


Dia pun menyantap Pasta buatan Nathan tersebut dengan lahap nya. Dia sangat-sangat lapar karna tak sempat makan siang.


Saat lagi asyik-asyik nya makan, Rens pun tak sadar jika sedari tadi ada seseorang yang memperhatikan nya. Dia sangat terkejut melihat sosok Nathan yang berdiri dilorong pintu arah dapur, sembari menatap Rens yang sangat lahap menyantap masakan nya.


Terukir senyuman kecil diwajah Nathan walaupun hanya sekilas saja. Dia tidak marah dia malah terlihat senang saat melihat Rens memakan masakan nya.


"Seperti nya aku sudah gila....melihat nya dengan lahap masakan ku saja membuat hatiku senang....hahaha" Bathin Nathan.


Sedangkan Rens matanya membulat saat terkejut melihat kehadiran Nathan. Mau tidak mau dia dengan tidak tahu menahu terus menyantap makanan nya walaupun sebenarnya sangat malu rasanya.


"Sial....ngapain lagi tuh orang disini!! huh.....biarkan aku pura-pura aja tidak melihatnya..." gumam Rens.


Nathan berjalan kearah lemari es yang berada tepat menghadap kearah Rens.


"Kau lapar yah.....kenapa baru keluar sekarang" ucap Nathan, sembari membuka lemari es tersebut dan mengambil sebotol air es.


"Eh....Tuan Nathan maaf aku tidak menyadari kedatangan mu hehehe" ucap Rens tersenyum. paksa, lalu memalingkan wajah nya kearah lain.


"Cihh.....dia pura-pura tidak melihat ku sedari tadi hahaha" gumam Nathan.


"Benarkah? kalau begitu silahkan dimakan sampai habis makanan nya, Nona Renesmee yang terhormat" ucap Nathan membalas senyuman Rens dengan raut wajah licik nya.


"Ya....jika bukan karna laper, aku tidak akan memakan pasta yang tidak enak ini...." ucap Rens sembari terus menyantap pastanya. Kini dia menatap Nathan dengan sinis. Nathan pun membalas dengan tatapan tajam nya.


"Ngga usah so baik.....aku ngga akan termakan mulut manis mu lagi, Nathan" gumam Rens.


"Aku tahu....kau tidak perlu mengingat kan ku" Teriakan Rens menggema dilorong.


Nathan hanya tersenyum mendengar nya.


.


.


.


.


Saat sudah selesai menghabkskan makanan nya Rens pun mencuci semua alat makan yang kotor.


Dia berjalan kembali menuju kamar tidur nya, namun saat hendak masuk Rens menengok kearah ruang santai yang tv nya menyala.


Ia sedikit terkejut melihat Nathan yang sedang duduk disofa sembari memain kan ponselnya.


Nathan menyadari jika Rens sedang berjalan kearah nya lalu ia pun menegak kan pandangan nya kearah Rens.


"Cihh.....pasti dia sedang chatting sama perempuan itu, sampai serius gitu.." gumam Rens yang terus menatap Nathan sinis.


"Eh nona Rens apa anda sudah selesai makan nya?" tanya Nathan.


"hmm..." Rens menjawab nya hanya dengan mengangguk.


"Kemarilah....." Nathan memanggil Rens untuk duduk disebelah nya.


Sebenarnya dia enggan untuk menuruti perkataan Nathan. Namun dia sedikit penasaran kenapa Nathan memanggil nya untuk duduk disebelah nya.


Rens pun mendekat dan duduk disebelah Nathan.


"Apa kau tak merindukan ku? dan kenapa sikap mu seperti ini padaku?" ucap Nathan lalu mendekat sedikit pada Rens.


"Tidak sama sekali.....maaf memang sikap saya seperti ini, kalau anda tidak suka yah silahkan itu hak anda" ucap Rens sedikit ketus.


"....jika tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, aku lelah ingin istirahat" lanjut Rens, sembari berdiri dari duduk nya. Saat hendak melangkah Nathan menahan dan menggapai tangan kanan Rens.


"Apa kau sama sekali tidak perduli atau bertanya selama beberapa hari ini aku kemana?" ucap Nathan, kini dengan nada sedikit keras. Dia pun ikut berdiri di belakang Rens.


"hahaha.....maaf apa aku salah dengar? untuk apa aku bertanya? bahkan perduli? bukan kah itu adalah hak anda mau kemana dengan siapa, atau tidak pulang....aku sama sekali tidak tertarik sedikit pun" Rens berbalik dan berucap tepat didepan wajah Nathan. Nada bicaranya pelan namun menusuk dihati Nathan.


Bagaimana bisa dalam 3 hari saja, Rens yang dia tahu sangat diam dan penurut berubah menjadi sangat dingin dan kasar seperti ini. Apa sebenarnya yang merubah nya? fikir Nathan.


"Cepat katakan, kenapa kau seperti ini padaku!! KATAKAN" Nathan mencengkram tangan Rens dengan kuat, dan berbisik ditelinganya. Bisa terlihat dengan jelas jika Nathan sedikit geram.


"Aww....sakit lepasin aku" Rens meringis sembari mencoba melepaskan cengkraman tangan Nathan.


"Katakan apa yang membuat mu seperti ini....jika tidak" Ucap Nathan lagi, kini semakin erat cengkraman nya.


"LEPASKAN AKU.....jika tidak apa? kau akan membunuhku? silahkan bunuh aku sekarang, aku lebih baik mati dari pada hidup terus kau sakitin" Rens membentak Nathan, dan menantang Nathan untuk membunuh nya.


".....Aku sangat membenci mu" lanjut Rens, sembari ia meneteskan air matanya.


Nathan tertegun mendengar ucapan Rens dan melihat matanya yang berkaca menahan tangis, ia mulai merenggang kan cengkraman nya hingga terlepas.


Rens pun berlari memasuki kamar nya dan tidak lupa ia mengunci pintu. Dia menjatih kan tubuhnya keatas ranjang lalu menangis sekeras-keras nya, sakit sekali yang dia rasakan. Dadanya begitu sesak, air matanya tiada henti menetes.


Sedangkan Nathan masih terdiam dan terduduk diatas sofa. Dia tidak percaya jika Rens bisa berkata seperti itu. Dia juga begitu menyesalkan kenapa selama ini dia begitu kejam dan kasar pada Rens. Dia tidak marah kepada Rens mengenai ucapan nya tetapi dia sangat marah pada dirinya sendiri. Kenapa disaat dia sudah mulai membuka hatinya untuk Rens dan mungkin saja dia juga sudah mulai mencintai Rens, Rens malah menjauh dari nya.


"Maafkan aku yang selama ini tidak pernah bersikap baik terhadap mu.....aku memang pantas dibenci olehmu" Bathin Nathan.


Bersambung.....