Terjebak Takdir Cinta Presdir

Terjebak Takdir Cinta Presdir
PART 58


"Hei....apa yang kau lakukan, lepaskan aku" Rens menggeliat berusaha melepaskan pelukan Nathan.


Nathan pun tak menggubris nya, dia malah semakin meng erat kan dekapan nya tersebut dan berkata.....


"Pliss.....kali ini biarkan seperti ini


sejenak" ucap Nathan lirih.


"Apaan sih, gila kali yah!! Lepaskan aku...." ucap Rens kesal.


Wajah nya seketika memerah saat Nathan semakin meng eratkan dekapan nya. Jantungnya berdegup dengan cepat, dia berusaha melepaskan dekapan Nathan.


Beberapa detik kemudian, Rens merasa ada yang aneh. Dia merasa dekapan Nathan melonggar dan tidak seerat sebelum nya. Bahkan tangan Nathan kini terjuntai lemas.


Rens pun menggoyang-goyang kan tubuh Nathan yang semakin melemas.


"Nathan.....kau tidak apa-apa?" Rens memanggil-manggil nama Nathan.


Namun Nathan tak juga menjawabnya. Rens menjadi sedikit panik, apa yang terjadi pada Nathan.


"Nathan....jawab kok malah diem" ucap Rens panik.


Dia pun mendorong sedikit tubuh Nathan, agar bisa melihat wajah nya.


Deg....


Betapa terkejut nya dirinya saat melihat wajah Nathan yang tidak sadarkan diri, wajah nya pucat, keningnya juga begitu panas saat disentuh nya.


"Nathan.....sadarlah!! kamu kenapa sih? hujan-hujanan lagi kan jadi demam nih" ucap Rens semakin panik.


Dia pun memopong tubuh Nathan masuk kedalam kamar dan merebahkan nya perlahan diatas ranjang.


"huh....berat sekali tubuh nya!! lagian bagaimana bisa dia basah kuyup seperti ini, memang nya dia dari mana?" Bathin Rens.


Rens menatap Nathan yang tengah terbaring tidak sadarkan diri diatas ranjang. Dia mondar-mandir kekiri dan kekanan.


Rens bingung harus berbuat apa pada Nathan. Jika pakaian nya tidak diganti, Nathan pasti akan tambah demam.


Tetapi dia juga bingung, bagaimana cara nya dia untuk mengganti pakaian Nathan. Berada didekat nya saja Rens sudah gugup dan hampir mati karna jantung nya berdegup sangat cepat. Apa lagi harus membuka pakaian Nathan, membayangkan nya saja sudah membuat nya merinding.


Lama dia berfikir sekitar 10 menitan. Rens dibuat kaget saat mendengar Nathan mengerang kedinginan.


"Ergh...dingin" erang Nathan yang masih menutup mata nya. Dirinya belum juga sadar dari pingsan nya.


"Baiklah....Renesmee kamu pasti bisa" ucap Rens menyemangati dirinya.


Akhirnya dia pun memutuskan untuk menggantikan pakaian Nathan yang basah itu. Rens mendekat kearah Nathan.


Pertama-tama dia membuka perlahan kancing kemeja Nathan satu demi satu. Jantungnya kembali berdegup dengan kencang saat melihat postur tubuh Nathan yang begitu sempurna.


Dada nya yang bidang, perut nya yang sispack, lengan nya yang memiliki otot tidak kecil dan juga tidak terlalu besar, menambah ke gagahan dirinya.


Rens menelan saliva nya saat melihat keindahan duniawi itu, hahaha. Matanya pun tak berkedip sama sekali.


"Ya tuhan.....cobaan apa lagi yang kau berikan padaku ini!! kenapa dia begitu sempurna" Bathin Rens.


Setelah selesai membuka habis kemeja Nathan, kini dirinya mulai menarik perlahan ikat pinggang yang masih melingkar dicelana Nathan.


Dibuka nya kancing celana dan resleting nya, sembari iya mengidip kan matanya beberapa kali. Tangan nya bergetar dan keringat dingin membasahi tubuhnya, jantungnya macu lebih cepat lagi, Betapa gugup nya diri nya saat ini.


Akhirnya dengan cepat iya membuka celana Nathan lalu diselimuti nya tubuh Nathan menggunakan selimutnya. Dia tak mau berlama-lama menatap tubuh Nathan, bisa-bisa dia mati karena serangan jantung.


Setelah itu dia melangkah kan kaki nya kearah lemari pakaian, dicari nya piyama tidur milik Nathan. Saat sudah menemukan nya, Rens pun meletakan piyama tersebut didesk samping Nathan yang masih belum sadar..


Kemudian dia berjalan keluar kamar menuju dapur untuk mengambil Kompress yang ada dikotak P3K disana.


Setelah itu dia pun kembali masuk kedalam kamar nya, dan duduk dipinghiran ranjang samping Nathan.


Kini Nathan sama sekali tidak mengenakan pakaian, melainkan hanya menggunakan celana dalam saja dibalik selimut.


Rens menaruh kompress tersebut diatas kening Nathan berulang kali, jika kompress nya sudah mengering.


Sekitar 1 jam lebih Nathan juga tak kunjung sadar. Rens pun memutuskan untuk membuat kan Nathan coklat panas, mengingat dia pernah membeli coklat instan di toserba saat pulang dari kampus.


Saat kembali dari dapur, Rens pun menaruh gelas coklat panas itu didesk. Kali ini dia tidak duduk dipinggiran ranjang, melainkan dia duduk dikursi yang biasa ditaruh didepan meja hias. Ditarik nya kursi tersebut kedekat ranjang lalu dia pun duduk disitu.


***


Tak lama kemudian Nathan pun sadar, perlahan ia membuka matanya.


Samar-samar pandangan nya, beberapa kali ia mengedipkan matanya. Nathan seperti tak percaya kini Rens ada dihadapan nya.


Rens pun terkejut saat melihat Nathan yang membuka matanya. Entah apa karena iya cemas atau bagaimana, tanpa sadar Rens langsung mendekat dan memeluk Nathan.


Nathan tersenyum dengan lemah, betapa bahagia nya dia saat Rens memeluk nya.


"Apa kau sedang khawatir kepaku?" ucap Nathan dengan suara lemah. Rens pun tersadar saat Nathan berucap, dia langsung melepas kan pelukan nya.


"Apaan sih....aku sama sekali ngga mengkhawatir kan mu" Rens memalingkan wajah nya yang memerah.


"Minum lah itu....aku sudah membuatkan nya" ucap Rens ketus, dia pun beranjak dan berniat meninggal kan Nathan.


Saat dirinya hendak melangkah pergi, Nathan pun menarik tangan Rens hingga membuat Rens terjatuh kepangkuan Nathan.


Deg....deg...deg..


Jantung kedua nya berdegup dengan sangat kencang nya. Mereka saling menatap satu sama lain dan terdiam beberapa detik. Hingga akhirnya tersadar dan langsung memalingkan wajah masing-masing.


"Minggir.....aku mau keluar" ucap Rens, mencoba untuk berdiri kembali.


"Tunggu....aku ingin bicara sesuatu padamu" ucap Nathan lirih.


"Apa lagi.....ngga ada yang perlu dibicarakan, sudah jelas bagiku semuanya" ucap Rens, dia pun berusaha berdiri lagi.


Dengan cepat Nathan memeluk tubuh Rens dari belakang. Dia menyenderkan kepalanya dipunggung belakang Rens dan berkata.....


"Dengarkan penjelasan ku dulu....aku mohon" ucap Nathan


"hmm...."


"Aku tau kamu pasti penasaran dan bertanya-tanya siapa itu Stephanie, apa hubungan dirinya dengan ku"


"Tidak...untuk apa aku tahu, ngga penting juga untuk ku" elak Rens.


"Bohong.....aku tau semuanya, kamu masuk keruang kerja ku, pertengkaran mu dengan Kevin, aku tau semua itu" ucap Nathan, semakin ia mengeratkan pelukan nya seolah-olah takut jika Rens pergi.


"Terus....." jawab Rens ketus, namun tanpa sadar air matanya mulai menetes sendirinya.


"Iya aku mau jelasin ke kamu....semua yang kamu fikirkan itu salah, aku memang memiliki hubungan dengan Stephanie tapi itu dulu" Nathan mencoba menjelaskan.


"Terus apa? kalau memang kamu ngga bisa buka hatimu untuk ku, sebaiknya jangan bersikap yang membuat aku jatuh cinta sama kamu" Rens membalikan tubuhnya menghadap ke Nathan, ditatap nya sangat dalam bola mata Nathan dengan lekat.


".....dan juga biarkan aku pergi, jangan menambah luka dihatiku setiap hari nya !! sudah cukup aku tersiksa karna kematian orang tuaku yang begitu tiba-tiba!!" lanjutnya sembari terus menangis.


"Jangan menangis......apa kau begitu tersiksa?" ucap Nathan, Hatinya begitu sakit melihat Rens meneteskan air matanya.


"Tersiksa? lebih dari itu yang aku rasakan!! Jika kau mau melepaskan ku aku akan membayar semua uang yang kamu sudah bayarkan untuk hutang-hutang orang tua ku..."


"...meskipun aku harus bekerja keras dan menyicil nya aku siap, dari pada aku harus tetap disini dengan mu!! membuatku semakin mencintaimu, aku ngga akan sanggup" ucap Rens lirih.


"Mencintai ku? apa kau sudah jatuh cinta kepadaku? bukan kah selama ini aku sudah menyiksamu, bagaimana bisa...." Nathan tak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Benar....aku sudah jatuh cinta kepadamu,k kenapa? kau mau bilang kamu ngga akan bisa membalasnya, karna kamu masih mencintai mantan pacarmu itu?hahaha aku sudah tau"


"Bukan seperti itu....." ucap Nathan menunduk.


"Jika tidak ada lagi...aku mau keluar, jangan menahanku" Rens berucap dingin.


"Jangan pergi....."


"Apa.....apa kau bilang?" Rens kembali menatap Nathan.


"Ku bilang jangan pergi....tetap lah disini!! aku akan membuka hatiku untukmu, dan aku akan berjanji memperlakukan mu dengan baik...aku janji" ucap Nathan, kini dia menatap lembut Rens.


Rens pun terdiam mendengar ucapan Nathan, Dia merasa tak percaya. Apakah ini mimpi ,fikirnya.


Tak terasa air matanya kembali menetes, dengan sigap pun Nathan memeluk nya kini dari depan.


Tangisan Rens semakin pecah, dia semakin menenggelamkan wajahnya didada Nathan dan menangis hingga terisak.


"Benarkah....apa kau serius dengan ucapan mu? atau kau sedang berpura-pura? jangan mempermainkan aku seperti ini"


"Aku serius dengan ucapan ku!! mau kah kau menerima diriku? dan memulai dari awal lagi" ucap Nathan tersenyu, sembari ia mengusap air mata Rens yang membasahi pipinya.


Melihat ketulusan dari mata Nathan, Rens pun luluh. Lalu dia mengangguk, menandakan bahwa dia bersedia menerima dan memulai dari awal lagi bersama dengan Nathan.


Mereka pun saling berpelukan dengan hangatnya. Nathan memeluk erat tubuh mungil Rens, begitu pun Rens yang membalas pelukan Nathan dengan lembut.


***


"Hai.....kenalkan aku Nathan!! Boleh kah diriku mengenal dirimu lebih dekat?" ucap Nathan tersenyum, lalu menyodorkan tangan nya untuk bersalaman.


"Hai juga....senang berkenalan denganmu Nathan, aku Renesmee!!" ucap Rens tersenyum kepada Nathan, dan menggapai tangan Nathan.


"Jadi sekarang kita sudah kenal yah...." ucap Nathan


"hmm....iya" ucap Rens malu-malu.


"Kalau begitu, Nona Renesmee dimana pakaianku? apa kau ingin aku seperti ini sampai pagi?" tanya Nathan dengan membisik ditelinga Rens.


"Eh....oh iya .....ini dia hehehe" ucap Rens gugup, Wajah nya memerah seketika sembari memberikan piyama yang sudah ia ambil dari lemari.


"....kalau begitu aku keluar duluan" lanjutnya sembari berlari keluar dari kamar.


Nathan hanya tersenyum melihat tingkah lucu Rens saat dirinya gugup dan malu.


Rona kebahagiaan terpancar begitu jelas diwajah mereka berdua. Semoga saja kedepan nya mereka bisa terus saling mencintai dan dijauhkan dari segala rintangan yang menghalangi cinta mereka......