Terjebak Takdir Cinta Presdir

Terjebak Takdir Cinta Presdir
PART 34


*****


Jarum jam menunjukan pukul 03.00 pagi. Rens terjaga dari tidurnya, dia merasakan sesuatu yang berat menimpa pinggul mungilnya.


Perlahan dibukanya kedua matanya, lalu dia melirik kearah perutnya. Ternyata eh ternyata Rens dikejutkan ada tangan seseorang yang sedang melingkar di pinggulnya.


Tangan itu tak lain adalah milik Nathan, kini posisinya Nathan sedang memeluk Rens dari belakang. Bahkan tubuh Nathan benar-benar menempel pada tubuh belakang milik Rens.


Rens hanya bisa diam, dia tidak berani bergerak karna takut Nathan akan bangun dan kembali memarahinya. Dia memilih untuk tetap diam walaupun kini tubuhnya berkeringat dingin.


Sekitar 15 menit dalam posisi itu, Rens pun tidak sanggup untuk menahannya lagi. Dia merasa kebelet ingin buang air kecil. Terpaksa dia mengangkat perlahan tangan Nathan dari pinggulnya dan memindahkannya. Nathan mengerang pelan, namun dirinya tetap terlelap dengan nyenyak.


Akhirnya pun Renesmee bisa terlepas dari pelukan Nathan. Kemudian dia pun bergegas berlari-lari kecil kearah kamar mandi.


Setelah selesai buang air kecil, Rens pun kembali berjalan kearah ranjang dan merebahkan dirinya. Kini posisi mereka saling berhadapan.


Rens menatap wajah sendu Nathan yang tertidur. Disentuhnya mata indah dengan bulu mata lentiknya , hidungnya yang mancung, bahkan bibirnya Nathan. Bibir yang pertama kalinya merenggut "First Kiss" milik Renesmee.


"Andai saja jika kita saling mencintai....apakah kita akan sebahagia mereka yang menikah karna cinta bukan perjodohan atau pun karna sebuah hutang?" Ucap Rens pelan, perlahan air matanya menetes seketika.


Nathan pun sedikit bergerak dan mengerang dalam tidurnya, membuat Rens terkejut. Rens pun langsung berbalik membelakangi Nathan, dia tidak mau membangunkan Nathan yang tertidur lelap.


Nathan pun kembali tertidur lelap dan nyenyak, sedangkan Rens menangis hingga sesegukkan kala itu. Namun ditutupnya mulutnya hingga tidak terlalu terdengar.


Lama dirinya menangis meratapi nasib pernikahannya yang berlatar belakang karna hutang itu. Sampai akhirnya dia merasakan pusing dan matanya mulai sembab karna menangis terus, membuatnya terlelap kembali dalam tangisnya. Sedangkan Nathan masih awet dengan tidur nyenyaknya, yang tidak pernah dia rasakan selama 4 tahun terakhir ini.


.


.


.


.


.


Nathan terbangun terlebih dahulu. Matanya perlahan terbuka sedikit demi sedikit. Saat sudah sepenuhnya terbuka, Nathan dikejutkan dengan wajah cantik Rens yang pertama kali dilihatnya. Posisi mereka sekarang berhadapan satu sama lain.


"Berani sekali dia tertidur menghadap padaku" ucap Nathan seraya masih menatap wajah sendu Rens yang masih tertidur.


"....tapi kenapa matanya bengkak seperti menangis semalaman?" lanjutnya.


Saat Nathan masih tetap memandangi wajah Rens, tiba-tiba saja kedua mata Rens terbuka. Nathan terkejut begitu pun Rens terkejut. Bola mata keduanya membulat, jantung mereka sama-sama berdegup cepat. Nathan pun memilih untuk bergegas beranjak dari tempat tidur. Sedangkan Rens hanya bergegas duduk dari tidurnya.


"Kamu...." ucap keduanya bersamaan, membuat suasana makin canggung.


"Heeis....apa juga sih? Kok bisa samaan gini" gumam Rens.


"kok makin canggung sih?" gumam Nathan.


Mereka saling menatap diam sebentar, lalu kembali memalingkan wajah masing-masing.


"Yaudah kamu duluan" ucap Nathan.


"Tuan saja duluan..." ucap Rens.


"Baiklah...." Nathan menatap kearah Rens, Rens yang merasa ditatapi hanya tertunduk malu.


".....kau pergilah menggunakan kamar mandi duluan!!" ucap Nathan sedikit ketus.


"hmm...." Rens hanya mengangguk saja.


Rens pun bergegas beranjak dari tempat tidur, lalu melangkah kearah kamar mandi. Saat hendak menutup pintu, Nathan kembali berucap.


"Jangan lupa berikan salep yang ada laci counter dikamar mandi pada kedua kelopak matamu itu!! Aku tak mau ada orang yang bergosip jika aku membuatmu menangis semalaman, apalagi malam pengantin" ucap Nathan sedikit kasar. Karna Nathan melihat mata Rens yang bengkak seperti menangis semalam.


Rens yang mendengar ucapan Nathan pun langsung bergegas menutup pintu kamar mandi.


"Jangan pernah menyesali sehari dalam hidupmu. Hari-hari baik memberimu kebahagiaan dan hari-hari buruk memberimu pengalaman."