
Suasana didalam ruangan pagi ini begitu sejuk dan dingin. Sampai-sampai kedua insan yang terlelap didalam satu selimut tebal itu. Serasa enggan untuk bangun dari mimpi indah mereka.
Beberapa saat kemudian.
"Ughh......"
Reghata menggeliatkan tubuhnya sembari memutarnya menghadap kearah suaminya. Dipandanginya wajah sendu sang suami yang masih nampak pucat itu.
"Manis sekali, dia memiliki wajah yang tampan dan sempurna, kenapa selama ini aku tidak pernah menyadarinya?" gumam nya sambil tersenyum simpul.
Tangan Reghata meraih tangan kiri Gavin yang terdapat jarum infus. Perlahan dielusnya tangan yang terasa dingin itu lalu mengecup nya pelan.
"Pasti sangat sakit, aku harap kau cepat sembuh Vin....karna kurasa ada sesuatu yang sangat penting, yang ingin ku beritahukan padamu! Mengenai hati dan perasaan ku...."
"Aku sadar jika selama ini aku terlalu egois dan tidak pernah memikirkan tentang perasaan mu padaku, tapi aku janji kali ini aku akan jujur tentang perasaan ku terhadapmu...."
Reghata pun memeluk kembali Gavin dengan sangat erat. Hingga yang punya tubuh menggeliat dalam tidur nya. Reghata tersenyum melihat Gavin yang masih belum juga bangun. Ia pun kembali meringsut masuk kedalam dekapan Gavin dan terlelap kembali.
***
Tidak terasa matahari sudah menampakan terik nya. Diluar udara begitu panas tetapi di dalam ruangan VIP itu udara masih sejuk. Gavin dan Reghata juga masih terjaga dari tidur mereka. Masih enggan untuk terbangun.
Cklek.
Tiba-tiba saja pintu ruangan terbuka tanpa sepengetahuan mereka. Masuklah Rens, Nathan, dan juga Araa. Rens membawa sekeranjang buah-buahan sambil menggandeng sang suami. Sedangkan Araa mengikuti langkah keduanya di belakang.
"Hehehe, lihat sayang romantis-nya anak kita...." ucap Rens tersenyum malu sambil menutup mulut nya.
"Eehmm...." Nathan berdehem untuk membangunkan sepasang suami istri yang masih tertidur itu.
Araa membuang muka ke arah lain. Sakit sekali melihat keromantisan sang kakak dengan pria yang dia sukai. Ingin sekali rasanya dia pergi saat itu juga. Tetapi dia tidak melakukan nya, karena keegoisan hanya akan membuat semua menjadi pecah belah.
Reghata dan Gavin tersentak kaget. Mereka berdua bersamaan terbangun dan langsung melepaskan pelukan mereka.
"Kalau kasih tau kamu, yah bukan kejutan namanya" sahut Rens tersenyum cerah.
Deg.
Gavin merasa ada yang berbeda dari ibu mertuanya itu. Dia tersenyum dengan ramah nya kepada Gavin. Membuat Gavin tertegun dengan seribu pertanyaan.
"Re ke kamar mandi dulu...."
Wanita itu langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi. Tau sendiri Reghata sangat tidak biasa, memperlihatkan muka bantal nya kepada orang lain. Termasuk orang tua nya sendiri.
Sepeninggal Reghata, Rens menghampiri Gavin yang duduk diatas ranjang. Gavin menatap Rens dengan canggung.
"Bagaimana? Apa masih terasa sangat sakit?" tanya Rens kepada Gavin sembari menyentuh lengan menantu nya itu
"Hah? Ti-tidak Mom, Gavin sudah merasa lebih baik...." Gavin terbata-bata seraya tersenyum kikuk.
Apa yang membuat sikap Rens kepada Gavin berubah. Gavin sangat penasaran.
"Dimana ayahmu? Apa dia tidak mengunjungi anak nya yang sedang sakit? Keterlaluan sekali...." sela Nathan.
"Hehehe, Ayah sepertinya ada urusan lain...." ucap Gavin sembari menggaruk kepala nya yabg tidak gatal.
"Jika ada sesuatu yabg kau butuhkan, jangan sungkan untuk beritahu Mommy yah....." ucap Rens.
"Terima kasih Mom..." sahut Gavin tersenyum.
Lagi-lagi Rens memperlihatkan perhatian nya kepada Gavin. Membuat Gavin merasa canggung dan sedikit kaku. Senang rasanya jika Rens sudah bisa menerima Gavin menjadi menantunya.
Note : Jangan lupa like dan Komentar yah🌹🌹