
"Tunggu sebentar Rey...." ucap Gavin kepada Rey. Ketika asisten nya itu hendak menancap gas pergi dari lobby kantor tersebut.
Tak sengaja mata Gavin menangkap sosok yang sangat familiar memasuki gedung kantor istrinya. Dari balik dinding kaca Gavin bisa melihat orang tersebut berjalan menghampiri Reghata.
"Bukan kah itu Presdir Daniel pemilik rumah sakit Louis di Seoul? Sepupu anda Bos...." celetuk Rey menatap kearah dalam kantor Reghata.
"Cari tahu apa yang dilakukan Daniel di sini?" ucap Gavin.
"Hahaha...." Rey malah tergelak.
"Apa ada yang lucu?" Gavin menaikan alis nya sebelah. Menatap Rey dengan tatapan penuh tanya.
"Tentu saja....kau sangat posesif sekali, bahkan dengan sepupu sendiri kau juga cemburu."
Rey kembali tergelak. Dia tak bisa menahan tawanya, melihat wajah Gavin yang masam. Mendengar perkataan nya.
"Cepat jalan...." Titah Gavin seraya memalingkan wajah nya. Benar juga yang dikatakan Rey. Gavin merasa dirinya terlalu posesif terhadap Reghata. Mungkin saja istrinya itu merasa risih dengan sikap nya.
***
Disisi lain.
"Selamat pagi Nona Reghata...." sapa seorang pria dari arah belakang.
"Pagi Tuan Daniel...."
Reghata tersenyum dengan ramah sambil menjabat tangan Daniel. Daniel memang sangat ramah kepada siapa pun. Tidak memandang itu pria maupun wanita.
"Bagaimana jika kita bicara diruangan saya...."
Reghata mengajak Daniel berbicara di dalam ruang kerja nya. Daniel setuju dengan yang di ucapkan Reghata. Tak sengaja pandangan nya tertuju kepada Shina yang tengah sibuk dengan tablet di tangan nya.
"Silahkan Tuan...." ucap Shina.
Wanita itu mempersilahkan Daniel untuk masuk bersama Reghata ke dalam lift. Ia tersenyum ramah dengan sedikit kecanggungan. Daniel membalas senyuman Shina sembari melangkah masuk ke dalam lift mengikuti Reghata.
Reghata dan Daniel membicarakan masalah pekerjaan di dalam ruangan kerja nya. Tidak lama sih, hanya sekitar tiga puluhan menit saja. Setelah selesai Daniel pun segera pergi.
Bruk...
Di luar ruangan Shina tidak sengaja menabrak Daniel. Dan ia menumpahkan segelas kopi mengenai jas yang Daniel kenakan.
"Maaf, Maafkan saya Tuan..."
"Tidak, Tidak apa-apa...."
Daniel meraih pundak Shina. Menahan wanita itu untuk membungkuk lagi. "Hanya kotor sedikit...."
Deg...deg...deg.
Shina merasa jantungnya berdegup dengan sangat cepat. Ketika Daniel tersenyum padanya. Sungguh sangat tampan pikir Shina. Shina pun menggelengkan kepala nya, menepis pemikiran bodoh yang baru saja terlintas di kepala nya.
"Tidak Tuan, tolong maafkan saya.... katakan bagaimana cara saya untuk memperbaiki kesalahan ini?" ucap Shina.
"Tidak perlu sungkan saya tidak akan meminta ganti rugi kok..." ucap Daniel.
Pria tampan itu lagi-lagi tersenyum. Membuat Shina hampir pingsan karena dadanya yang terus berdebar.
"Bagaimana jika kau mencucikan nya saja, karena aku tidak bisa menerima sesuatu dari seorang wanita....apalagi itu adalah uang ganti rugi" ucap Daniel.
"Benarkah? Apa tidak apa Tuan?" tanya Shina gugup merasa tidak enak.
"Jangan merasa tidak enak, " Daniel membuka jas nya lalu memberikan nya kepada Shina. "Ini tolong kamu cuci kan yah."
"....Saya buru-buru, sampai nanti" lanjut Daniel hendak melangkah pergi tapi terhenti.
"Tunggu Tuan..."
Daniel menoleh kembali. Menatap Shina dengan penuh tanya. "Kapan aku bisa mengembalikan nya?" tanya wanita itu.
"Datanglah ketempat ini...." Daniel memberikan sebuah kartu nama kepada Shina. Lalu bergegas pergi.
Shina menatap sendu punggung tegap Daniel yang menghilang dari balik pintu lift. Shina memegangi dadanya yang masih bergemuruh. Dia bingung kenapa dirinya seperti itu.
"Shina....."
"Shina...."
"Shina? Apa kau mendengarku?"
Teriak Reghata yang berdiri di ambang pintu ruangan nya. Suara nya yang menggelegar membuyarkan lamunan Shina. Wanita itu menoleh ke arah Reghata dengan tersenyum kikuk.
"Maaf Nona, apa ada yang bisa saya bantu?" ucap Shina berjalan menghampiri Reghata.
Note : Jangan lupa like dan koment🌹🌹