Terjebak Takdir Cinta Presdir

Terjebak Takdir Cinta Presdir
PART~81


Para pelayan pun dengan sigap langsung membawa Sheila masuk kedalam Villa dan merebah kan nya keatas sofa diruang tamu.


Nathan menyusul dibelakang, dia sedikit khawatir. Tahu sendiri kan bagaimana sih jika kita melihat orang yang lingsan didepan kita, terlebih lagi jika itu orang yang pernah kita sayang.


" Cepat panggil kan Dokter.... " perintah Nathan.


" Baik Tuan..... " jawab satu orang pelayan.


Sedangkan pelayan yang lain, bergosip dan bertanya-tanya siapa Nathan dengan suara pelan. Namun Nathan tetap mendengar nya, dia menatap tajam pelayan yang bergosip itu.


" Saya pemimpin baru dipabrik bos kalian ...." ucap Nathan ketus.


Para pelayan itu tersentak dan sedikit takut saat Nathan menatap mereka tajam. Bagaimana tidak jika Nathan sudah menatap seseorang dengan begitu tajam. Rasanya jantungnya seseorang itu seketika akan terasa seperti tertusuk panah yang sangat tajam. Serem banget kan sumpah 😱😱


" Minum....tolong aku butuh air " ucap Sheila yang tiba-tiba sadar dengan suara serak dan lemah.


Salah seorang pelayan pun dengan cepat memeberikan segelas air putih untuk Sheila minum.


Sheila pun meneguk seluruh nya hingga habis. Dia memijit pelan keningnya yang masih terasa penat.


" Tidak perlu memanggil Dokter, aku tidak apa-apa kok!! mungkin hanya kelelahan saja... " ucap Sheila dengan nada lemah.


" Kau harus diperiksa, karna mungkin itu adalah efek dari kecelakaan..... " Tanpa sadar Nathan merocos, namun setelah sadar dia langsung menghentikan ucapan nya.


Sheila pun terkejut dengan ucapan Nathan, dia menatap Nathan dengan tatapan heran lalu berkata spontan.....


" Kecelakaan ? maksudmu ? "


" Em... maksud ku mungkin saja kau pernah mengalami kecelakaan hingga membuat mu seperti itu " ucap Nathan gugup.


" Nathan bodoh...hampir saja semua nya terbongkar diwaktu yang salah " Gumam Nathan, membodohi dirinya sendiri.


" Tapi jika kau merasa tidak apa-apa, itu terserah padamu " Nathan melanjutkan ucapan nya dengan begitu ketus.


" Oh iya....Rina tolong antar Presdir Nathan ke kamar tamu yang kosong " Sheila baru sadar akan kehadiran Nathan. Dia pun memerintahkan pelayan yang bernama Rina untuk menuntun Nathan ke kamar tamu.


Kamar yang akan dipakai oleh Nathan selama berada disana.


" Mari Tuan saya antar kan ..... " ucap Rina ,sembari mempersilahkan Nathan.


Nathan pun dengan angkuh nya berjalan mengikuti Rina dan meninggalkan Sheila yang masih berada diruang tamu.


Sheila menatap sendu bahu tegap Nathan yang perlahan menghilang dari pandangan nya.


" Selama dua hari ini sangat aneh setelah aku bertemu dengan nya. Mulai dari mimpi-mimpi aneh, dan sekarang ini potongan ingatan masa laluku mulai kembali " gumam Sheila.


Dia masih merasa aneh dengan yang dia rasakan selama dua hari ini, setelah bertemu dengan Nathan.


.


.


.


Saat sore hari nya Nathan dan juga Sheila berniat untuk mengunjungi Pabrik. Sekalian Nathan ingin memberikan sedikit masukan untuk karyawan dishift dua atau siang ke malam.


Karna Pabrik terletak tidak jauh dari Villa, Sheila pun mengajak Nathan untuk berjalan kaki saja. Walaupun dia sedikit ragu jika Nathan akan menolak....


" Karna Pabrik sangat lah tidak jauh dari sini bagaimana jika kita berjalan kaki saja Tuan.... "


" .....tapi itu pun jika Tuan berkenan "


" hmm...baiklah tak masalah " Nathan langsung meng iyakan ucapan Sheila tanpa berfikir panjang.


" Kalau begitu kita akan berjalan dipesisir pantai saja Tuan, Tuan harus melihat keindahan laut dan pantai didaerah sini ... " ucap Sheila bersemangat.


" Terserah kau saja ....." sahut Nathan nampak sedikit dingin.


Mereka pun memulai perjalanan kePabrik dengan menyusuri pinggiran pantai yang sangat indah dengan pasir putih nya.


" Apa ini lampu-lampu ? " tanya Nathan, sembari ia menunjuk tiang-tiang lampu kayu yang tertancap diatas pasir.


" Benar Tuan....jika sudah malam penduduk disini akan menyalakan nya!! Sangat indah ditambah deburan ombak yang deras menambah keindahan pantai ini " Tanpa sadar Sheila telah banyak bicara.


Nathan hanya diam, yang ada difikiran nya adalah Stephanie nampak sangat berbeda sekarang. Dia terlihat lebih pintar dan dewasa, dia juga seperti tidak mempunyai masalah menyangkut Amnesia yang dideritanya.


Nathan juga sempat berfikiran jika Stephanie sudah merelakan masa lalu nya dan menjalani hidup lebih baik.


" Apa kau tidak takut kepada laut ? " Tanya Nathan.


" Aku? Aku tidak takut kepada laut, tetapi sering kali aku bermimpi buruk tentang laut " jawab Sheila dengan nada sedikit pelan.


" .....kenapa anda bertanya seperti itu ? " lanjut Sheila, merasa heran dengan pertanyaan Nathan.


"Tidak apa-apa...hanya bertanya " sahut Nathan, sembari terus memandang arah depan.


Dia berjalan dengan tangan kanan yang dimasukan didalam saku celanan nya. Sedangkan Sheila berjalan agak sedikit dibelakang Nathan, dirinya masih canggung untuk berjalan sejajar dengan Nathan.


" Ternyata kau sudah berubah....dulu kau sangat takut bahkan membenci yang namanya laut.... " Bathin Nathan.


Langkah Sheila terhenti, tiba-tiba saja kepalanya kembali pusing. Pandangan nya sedikit mengabur, dia pun terjatuh dengan lutut menumpu dipasir....


" Aghh..... " Sheila meringis memegang kepalanya.


Nathan yang mendengar ringisan Sheila, sontak menoleh. Dengan refleks Nathan langsung ikut menunduk dan mensejajarkan tubuh nya dengan Sheila.


Wajah Sheila memucat seketika. Cuplikan-cuplikan ingatan kembali merasuki kepalanya. Nathan memegang kedua pundak Sheila menahan agar dirinya tak jatuh kepasir....


" Kamu ngga apa-apa ? Kita kerumah sakit ? " tanya Nathan sedikit panik.


" Tidak....aku tidak apa-apa " tolak Sheila.


" ....Aaghh " lanjut nya meringis "


Potongan ingatan~


"***Sayang apa ini jalan yang benar kita lewati...."


"Ini jalan yang benar sayang....gerejanya udah deket kok ada diatas bukit sana......"


"Ada apa memangnya sayang? kok kamu nanya nya gitu?"


"hmm....yah aku ngga pernah lewat jalan ini...jadi sedikit takut aja karna dekat dengan laut!! kamu tau kan aku ngga bisa berenang orangnya....."


"kan ada aku sayang.....aku akan menyelamatkan mu jika kau tenggelam"


"Sudahlah untuk apa juga kita membicarakan hal konyol seperti itu....ada-ada saja***"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sheila kembali melihat gambaran dirinya sedang mengendarai mobil bersama seorang pria. Lebih aneh nya saat itu dia mengatakan jika dirinya takut sekali terhadap laut.


Sheila memandang kosong kearah depan.


" Apa lagi itu tadi....siapa pria itu? apa dia kekasih ku? Apa dimasa lalu aku sudah punya kekasih bahkan segera menikah? itu kah alasan nya diriku ditemukan saat itu dalam balutan gaun pengantin berwarna merah? tapi kenapa? apa yang terjadi selanjutnya " Bathin Sheila.


" Apa kau yakin tidak apa-apa ? " ucap Nathan.


Sheila pun tersadar dari lamunan nya, dia langsung menghindar menjauh dari Nathan. Nathan juga tersadar akan dirinya yang sedari tadi memegang pundak Sheila.


" Maaf kan aku.... aku tidak bermaksud... " ucap Nathan, sembari ia kembali berdiri tegak. Disapunya celana nya yang kotor akibat pasir.


" Tidak apa-apa.....sebaiknya kita lanjutkan berjalan lagi pabrik nya sudah sangat dekat kok " ucap Sheila mencoba mengalihkan pembicaraan.


" Baiklah.... " sahut Nathan singkat.


Sesekali ia menoleh kearah Sheila yang berjalan sambil termenung. Sheila masih memikirkan potongan ingatan tadi.


" Apa dia memang sering mengalami hal seperti tadi ..... " Bathin Nathan


" Sebaiknya aku fokus pada pekerjaan saja saat ini.....tidak perlu memikirkan masa lalu yang telah lama aku kubur " Bathin Sheila.


Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan menuju Pabrik Ikan Tuna.