Terjebak Takdir Cinta Presdir

Terjebak Takdir Cinta Presdir
PART 44


Pagi itu Nathan dan Rens melakukan aktivitas mereka masing-masing. Dan kembali bertemu disore hari, karna Nathan berjanji untuk menjemput Renesmee sepulang kuliah.


Rens dan Mia mengobrol didepan gerbang kampusnya, sembari menunggu kedatangan Nathan.


"Mi....kok seharian ini aku ngga ngeliat sih Tara?" tanya Rens pada Mia.


"Aku sih Whatsapp dia tapi ngga di read seharian ini" jawab Mia, sembari terus memainkan ponselnya.


"hmm...aku akan coba hubungin nomernya lagi" ucap Rens, seraya merogoh sakunya mengambil ponsel.


Tut......tut......tut


Nomer yang anda tuju tidak dapat dihubungi


Rens terus mencoba menghubungi Tara tiga kali berturut-turut namun masih sama. Tara sama sekali tidak mengangkatnya.


Tiba-tiba saja sebuah mobil mewah berhenti didepan mereka. Keluarlah seorang pria bersetelan Jas hitam dari kursi kemudi. Rens dan Mia terkejut pria itu adalah Kevin. Kevin pun menghampiri Rens dan Mia. Sesekali dia memandang kearah Mia yang kelihatan cuek saat melihat dirinya.


"Nona silahkan masuk kedalam mobil...." ucap Kevin sopan kepada Rens.


"Dimana Nathan? Bukan kah dia janji akan menjemputku ?" ucap Rens, raut wajahnya terlihat sedikit kecewa.


"Tuan Nathan berada didalam mobil....beliau sudah menunggu nona" ucap Kevin.


"Benarkah ......baiklah" ucap nya bersemangat.


"...Mia apa kamu mau ikut bersama kami, Kevin bolehkah kita mengantar Mia pulang" lanjut Rens bertanya pada Kevin.


Kevin menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan Rens. Begitu pun dengan Mia. Mereka berdua benar-benar tak menyangka jika mereka akan berada disituasi seperti ini lagi. Mereka pun saling memandang, seperti sedang mengatakan sesuatu melalui telepati.


"Tidak.....jangan terima tawarannya" gumam Kevin, seraya melotot kearah Mia.


"Apaan.....kenapa dia melotot kearahku!! Kan serem" gumam Mia sedikit kesal, karna Kevin melihatnya seperti itu.


"hehehe....Rens ngga perlu deh, aku bisa pulang naik bus sendiri kok!! Pasti ngerepotin aja" ucap Mia menolak ajakan Renesmee.


"Mia kok ngomongnya gitu sih.....ngga ngerepotin kan Kevin...ngomong dong biar Mia tau jangan diam aja" ucap Rens, seraya memasang wajah memohon pada Kevin.


"hahaha....iya ngga ngerepotin kok" ucap Kevin tersenyum kecut, sembari menatap tajam kearah Mia.


"tuh kan....ngga ngerepotin" ucap Rens.


"hehehe....terima kasih banyak tuan Kevin" ucap Mia tersenyum bahagia.


Nathan yang sedari tadi menunggu dimobil pun ikut menyusul Kevin keluar dari mobil. Dilihatnya Rens,Mia, dan Kevin sedang mendebatkan sesuatu, dia pun menghampiri ketiganya.


"Kevin......ada apa ini? Kenapa lama sekali sih?" suara Nathan mengejutkan ketiganya, mereka bersamaan menoleh kearah suara itu.


"Tidak ada tuan.....Nona Rens Nona Mia silahkan masuk kedalam mobil" ucap Kevin, seraya memasuki mobil duluan lalu disusul Nathan yang duduk dikursi belakang.


"Ayo cepat masuk" ucap Nathan ketus.


"Mia ayo naik....kamu duduk aja didepan yah aku dibelakang bersama Nathan " ucap Rens sembari menarik tangan Mia. Mau tidak mau Mia pun menuruti omongan sahabatnya itu.


"huh....baiklah baiklah" kata Mia dengan nada malas.


.


.


.


.


Sampailah mereka diparkiran apartemen Nathan, diperjalanan tadi mereka hanya diam masing-masing. Rens,Mia, dan Nathan sibuk memainkan ponsel masing-masing sedangkan Kevin fokus menyetir sehingga tidak ada yang sadar jika mereka sudah sampai diparkiran apartemen.


"Kevin...bukan kah kita akan mengantar Mia pulang terlebih dahulu" tanya Rens.


"sebaiknya Nona dan Tuan beristirahat saja....saya yang akan mengantarkan Nona Mia" jawab Kevin dengan santai.


"Tapi kan aku....." belum sempat perkataannya terselesaikan Nathan memotong Omongan Rens.


"Rens tidak apa-apa....kau istirahat lah!! Biar Tuan Kevin yang mengantarku pulang" ucap Mia tersenyum. Dia juga tidak mau terlalu merepotkan sahabatnya itu, apa lagi Nathan sudah berbicara seperti itu. Dia takut jika Rens bekeras untuk mengantarnya pulang, akan mengakibatkan perkelahian antara Rens dan juga Nathan.


"Mia maafkan aku yah...." ucap Rens, dibalas hanya dengan senyuman saja oleh Mia.


"....Kevin tolong jaga Mia yah" lanjutnya, dibalas anggukan oleh Kevin.


Mia pun menyusul Nathan, yang sedari tadi sudah berada didalam lift menunggu dirinya. Rens memasang wajah cemberut selama berada didalam lift. Nathan yang melihatnya pun sedikit bingung.


"kenapa wajahnya ditekuk begitu, ada yang salah yah? Sudahlah terserah aja" gumam Nathan, dirinya mencoba mengabaikan sikap Rens.


"Kesel banget sumpah.....dasar pria egois, memangnya semua orang harus selalu menuruti perintahnya apa? Kesel deh ihhhh" gumam Rens, dia menumpahkan kekesalan nya didalam hati saja.


Ting.....pintu lift pun terbuka, sampailah mereka diunit milik Nathan. Rens pun bergegas masuk kedalam kamarnya dengan buru-buru tanpa menoleh sedikit pun kearah Nathan atau lainnya.


Nathan hanya menatap diam tanpa ekspresi melihat sikap Rens dia pun memilih masuk kedalam ruang kerjanya. Setelah selesai membersihkan diri Nathan pun keluar dari ruang kerjanya itu dan berjalan kearah pintu kamar Rens dan mengetuknya beberapa kali.


"Apa kau mau makan malam direstauran jika kau lapar?" tanya Nathan, dia memang berusaha tidak perduli dengan Rens namun dirinya tak bisa menahan untuk perduli terhadapnya.


"Aku tidak lapar.....sebaiknya kau juga istirahat tak perlu mengkhawatirkanku" Teriak Rens dari dalam kamarnya tanpa membuka pintu sedikit pun.


"Yasudah terserah kau saja" ucap Nathan, mendengar jawaban Rens yang ketus membuat Nathan sedikit kesal dia pun berlalu kembali kedalam ruang kerjanya.


Dia pun mulai melakukan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaannya setiap hari, yaitu meminum segelas wine setelah itu dia mulai merebahkan tubuhnya dan terlelap dengan sendirinya.


Tidak dengan Rens yang masih kesal terhadap sikap egois Nathan. Dia mencoba merebahkan tubuhnya keatas ranjang, lalu memandang langit-langit kamar itu. Setelah mengantuk dirinya pun mulai terlelap dengan nyaman.


.


.


.


.


Sore itu Kevin untuk ketiga kalinya dia berada satu mobil dengan Wanita rembes itu baginya, tak lain wanita itu adalah Mia. Begitu pun dengan Mia betapa sialnya hari ini, dia harus satu mobil lagi dengan pria gila seperti Kevin, begitu lah fikirnya.


"kenapa kau tidak langsung menolak saja sih" ucap Kevin ketus, seraya tetap fokus kearah depan.


"apa maksudmu?" balas Mia singkat dan padat, dirinya kini memandang kearah Kevin.


"......ohh hahaha aku sudah berusaha menolak kok, budek kali yah ngga denger" lanjut Mia terkekeh, kedua tangannya melipat didepan dadanya.


"apa kau bilang?" ucap Kevin sedikit membentak, dirinya menatap Mia dengan tajam.


"aku tidak bilang apa-apa.....fokus saja dengan kemudinya!! Dan berhenti melihatku seperti itu" ucap Mia sedikit gugup.


Kevin menambahkan laju kendaraannya, hingga membuat Mia sedikit merinding ketakutan. Tegang yang ia rasakan.


"Kevin kau memang pria gila yah.....kalau bosan hidup jangan ngajak-ngajak orang mati dong" Mia berkata dengan tegang namun sedikit berteriak.


Kevin pun tidak merespon omongan Mia, dirinya semakin melajukan mobilnya tersebut sampai akhirnya dia menyetopkan mobilnya dipinggir jalan.


"Turun....." ucap Kevin singkat.


"Apa....kau mau aku turun disini? Gila yah ini dimana lagi aku ngga tau" ucap Mia terkejut dan sedikit bingung. Dia tak tahu sekarang mereka ada didaerah mana.


"Aku bilang turun....apa kau tidak dengar? Turun sekarang juga" ucap Kevin membentak dan melotot kearah Mia.


"Ok aku turun....ngga usah teriak aku dengar, dasar pria gila" ucap Mia juga kesal terpancing emosi karna Kevin menurun kan nya dipinggir jalan yang entah dia pun tak tahu. Dia keluar dari mobil lalu menutup pintu mobil dengan kasar. Kevin pun tanpa merasa bersalah pergi meninggalkan Mia begitu saja dipinggir jalan.


.


.


.


.