
Diperjalanan suasana didalam mobil begitu dingin seperti diluar yang sedang hujan deras.
Sesekali aku menoleh kearah Kevin, pandangan nya masih fokus kearah depan. Aku bisa melihat wajah nya yang begitu tegang.
Saat sedang asyik menatap nya, tiba-tiba saja dia menoleh kearah ku membuat diriku begitu panik. Aku pun langsung memalingkan wajahku dengan cepat.
"Apa? memang nya ada yang aneh dengan wajah ku?" ucap Kevin ketus kepadaku, sembari ia kembali memandang arah depan.
"....jangan terlalu menatap ku begitu dalam, nanti kau jatuh cinta lagi padaku" lanjutnya dengan percaya diri.
"Apa? hahaha kamu itu ternyata suka bercanda yah.." ucap ku dengan memaksa tertawa.
".....ngga lucu" lanjut ku sembari memutar bola mata malas.
Percaya diri sekali dirinya, sumpah ngeselin banget nih orang. Tapi ada sesuatu yang buat aku heran, apa yang sudah terjadi padanya?
Wajah nya penuh dengan luka lebam, bahkan diujung bibirnya nampak jelas bekas luka karna pukulan.
Tiba-tiba terlintas begitu saja difikiranku wajah Nathan yang juga tidak jauh beda dengan nya.
Apa mereka berkelahi dengan orang lain, atau mereka berdua yang berkelahi? Agh tidak mungkin jika mereka berdua berkelahi, apa yang bisa membuat mereka berkelahi memang nya? Pertanyaan demi pertanyaan mulai berputar-putar dikepalaku....
"Sudah sampai ayo turun....." Kevin memberhentikan mobilnya disebrang jalan sebuah kafe.
"Kamu serius, kita kesana? disebrang sana?" ucap ku dengan raut wajah tak percaya.
"Iya....memang nya aku tidak terlihat serius?" Kevin mendekat kan wajah nya padaku.
Deg....
Tiba-tiba saja jantungku berdetak begitu hebatnya, sampai-sampai mungkin saja kevin bisa mendengar nya.
Aku pun langsung sedikit mundur dan memalingkan wajah ku. Karna panik dan gugup aku langsung keluar dari mobil ditengah hujan deras, dan melangkah keujung zebra cross sembari menengok kiri kanan jika ada mobil lewat.
Kepala aku tutupi menggunakan tangan kanan ku, saat aku yakin tidak ada lagi mobil yang lewat aku pun melangkah kan kaki ku untuk menyebrang.
Namun tak disangka saat aku hendak menyebrang ada sebuah mobil yang sedang melaju dari arah kiri.
"AAAAAA......" aku menjerit, dan menutup kedua mataku menggunakan tanganku. Mungkin hari ini ditengah hujan deras akan menjadi hari kematian ku, begitu fikirku.
Tetapi itu salah, ada sepasang tangan yang menarik ku dengan cepat kearah pinggir sebelum mobil itu melaju melewatiku.
Kevin Lim, pria yang kejam itu telah menyelamat kan hidup ku. Kini aku berada didalam pelukan nya.
Aku menengadah kan pandangan ku kewajah nya, dia pun begitu manatap ku balik. Aku bisa merasakan deruan nafas nya.
Hidungnya mancuk, bulu mata yang lentik, alis yang tebal, bibir yang seksi, dagu lancip, ini bukan pertama kalinya aku terpukau padanya hingga membuat ku kehilangan kesadaran.....
"Tampan sekali....." kata-kata itu terucap sendirinya dari mulutku.
"Hah?...." Kevin mengerinyitkan dahinya.
Aku pun tersadar dari lamunan ku dan mendorong tubuhnya menjauh. Namun Kevin menarik kembali tubuhku ke dekatnya.
"Apa kau gila.....tetaplah seperti ini jika tidak kau akan sakit karna hujan" ucapan Kevin terdengar seperti sedang mencemaskan ku.
Kini dia sedang berdiri memeluk ku dengan tangan kanan nya, sedangkan tangan kirinya memegang sebuah payung hitam.
"...dan juga kau harus berhati-hati, bisa saja kau mati mengenaskan karna tertabrak mobil" Lanjutnya dengan kasar.
"A-aku tidak sengaja...." ucap ku pelan.
Kami pun menyebrang jalan dengan perlahan, melewati genangan air yang begitu deras diaspal jalanan.
Setelah membeli beberapa minuman kami pun kembali menuju apartemen. Sesampainya disana Rens menyambut kami dengan hangat dan senyuman kebahagiaan terpancar diwajahnya.
***
POV Author~
Rens dan juga Mia berada didapur, mereka sedang menyiapkan makanan yang telah dibeli Mia kedalam wadah.
Mereka hanya diam saling menatap sesekali. Kevin merasa ada yang aneh dengan Nathan, raut wajah nya seperti seseorang yang sedang bahagia. Berbeda dengan tadi pagi saat mereka bertengkar.
"Kevin...maafkan aku soal tadi pagi, tak seharusnya aku marah dan memukul mu" Nathan berkata dengan raut wajah merasa bersalah.
"Cihh...Dia meminta maaf? tak seperti biasanya" gumam Kevin dalam hatinya.
Kevin hanya menoleh sekilas, lalu menghela nafas nya dengan pelan. Dia tak percaya jika Nathan sedang meminta maaf padanya.
"Hmm...Ngga masalah, biasa pria memang berbicara menggunakan tinjuan nya....." Kevin berucap lalu tersenyum.
"Dan juga aku mau kau memanggil ku Nathan saja sama seperti dulu...." ucap Nathan, seraya ia memandang arah depan.
"Ada apa dengan nya? kenapa dalam sekejap dia berubah drastis seperti ini?" Bathin Kevin tak percaya.
"Kevin...Kevin...apa kau mendengarku..." Nathan menyentuh pundak Kevin, sehingga menyadarkan nya dari lamunan.
"Eh...baiklah, itu mau mu yah!! mulai sekarang aku akan frontal padamu" ucap Kevin tersenyum licik.
Kedua nya pun saling melempar tawa, Nathan yang kejam,dingin,dan angkuh dalam semalam berubah drastis kepada orang terdekatnya.
.
.
.
Di dalam dapur, Rens masih sibuk memindahkan makanan yang dibawa Mia kedalam tempat wadah.
Sedangkan Mia hanya diam melamun, dia masih memikirkan kejadian dipinggir jalan tadi.
"Kenapa aku tidak bisa berhenti memikirkan nya, seperti nya otak ku mulai tak terkendali...." Bathin Mia.
Rens pun yang melihat sahabatnya itu sedang melamun, dengan jahil nya mendekat dan langsung mengagetkan nya dari belakang.
"YAA.....kok malah melamun bukan nya bantuin,dasar...." Rens memegang kedua pundak Mia secara tiba-tiba.
Mia pun tersentak dan langsung memegangi dadanya yang hampir saja jantungan dibuat Rens.
"Gila kamu yah.....mau bikin aku mati nih orang kayanya" ucap Mia cemberut.
"Lagian kamu melamunin apa sih serius banget...." Rens bertanya, sanking penasaran nya.
"Ngga...Ngga kok, aku ngga mikirin apa-apa" Mia mencoba mengelak.
"....eh kamu sadar ngga kenapa wajah Nathan dan juga Kevin terlihat seperti itu" Mia mengalihkan pembicaraan, dan bertanya pendapat Rens mengenai wajah Nathan dan juga Kevin.
Rens memang sudah melihat keadaan Nathan saat baru pulang tadi. Penampilan Nathan begitu berantakan ingatnya. Bercak darah pun jelas nampak dikerah bajunya.
Luka lebam juga ada dibeberapa sudud wajahnya. Namun Rens tidak mau bertanya, bukan tidak mau sih tetapi lebih tepatnya tidak sempat.
"hmm...emang kenapa wajah mereka" Rens tidak mau menggubris pertanyaan Mia, dia pun kembali melakukan apa yang dia lakukan sebelum nya, yaitu memindahkan makanan kedalam wadah.
"Masa kamu tidak lihat, wajah mereka sama-sama seperti habis berkelahi...apa mereka berdua berkelahi? tapi kenapa? pasti ada masalah kan? terlebih tadi siang tuh Nathan menghampiri ku dikampus...."
Mia merocos terus menerus tanpa henti sampai akhirnya Rens mendengar sesuatu yang mengejut kan nya.
"Apa ? Nathan kekampus? dan ngapain datangin kamu?" Kini dirinya begitu penasaran.
"Dia menanyakan padaku dengan kasar, keberadaan dirimu..." ucap Mia, sembari memutar bola matanya malas.
"...yah aku bilang aja kamu pulang, dia langsung pergi ditengah hujan deras" lanjut Mia menjelaskan.
"Ternyata dia bela-belain, mencariku ditengah hujan!! hanya untuk menjelaskan kesalah pahaman padaku" Gumam Rens ,sembari ia senyum-senyum sendiri.
"Rens....Rens.....kok malah senyumcsenyum sih ? dasar gila" Mia menyadarkan Rens dari lamunan nya.
"Eh...sudah lah ngga usah bicarain mereka, wajar aja jika pria bertengkar mereka kan lelaki" ucap Rens sembari melewati Mia dan berjalan perlahan kearah ruang santai, sembari ia membawa beberapa wadah dikedua tangan nya.
"loh kok aku ditinggal....Rens tunggu aku" Mia menyusul Rens dan membantu membawa beberapa wadah dikedua tangan nya.