
"Andaikan saja kamu tau ...aku bukan selalu sibuk kerja, tetapi hatiku begitu sakit jika melihat kalian dikala itu!! Sungguh aku tak sanggup melihat kedekatan kalian dan aku lebih memilih menyibukan diri dengan bekerja dari pada harus melihatnya!! Aku sadar seharusnya aku tidak boleh berharap lebih terhadapmu yang telah menolongku tapi apa dayaku hati ini tak bisa berbohong!! Maafkan aku yang sudah lancang mencintaimu....." Bathin Sheila.
Hati Tara yang awalnya gusar tidak karuan, akhirnya bisa tenang kembali saat berbincang dengan Sheila. Dimalam itu Tara benar-benar rileks,dia mengeluarkan semua uneg-uneg didalam hatinya kepada Sheila. Semua dia ceritakan tentang perasaan nya terhadap Renesmee dan sakit hati nya saat melihat kedekatan Rens dengan Nathan. Dengan senang hati Sheila mendengarkan semuanya walau itu menyakitkan hatinya sendiri......
Malam yang sangat indah dengan deburan ombak, suara-auara binatang malam, lampu-lampu menghiasi bibir pantai. Namun semakin malam hembusan angin laut semakin kencang seperti menembus kedalam dada.
Tara beranjak dari duduknya....
"Kamu ngga masuk tidur....." Tanya Tara sembari berdiri.
"hmm...nanti aku masuk kok, lagi pengen disini aja dulu" jawab Sheila.
".....kalau kamu mau masuk, duluan aja ngga papa" lanjut Sheila.
"yasudah kalau begitu....." ucap Tara.
Sebelum dirinya melangkah pergi dibukanya jacket yang dia pakai. Lalu dipakaikan nya kepada Sheila dengan menempelkan nya dipundaknya.
Sheila benar-benar terkejut saat itu. Ditoleh nya kearah Tara yang berdiri, Tara malah melempar senyuman kepadanya dan berkata....
"Jangan lama-lama diluar....Angin nya semakin kencang bisa membuat dadamu sakit" ucap Tara tersenyum sembari ia melangkah masuk kedalam villa.
Sheila menatapi terus kearah Tara yang berjalan meninggalkan nya sampai tidak terlihat lagi. Setelah itu dia kembali menatap sendu kearah pantai.
"Perhatian kecil mu yang seperti ini , yang membuat aku jatuh cinta akan sosok mu Tar.....andai saja aku adalah wanita itu pasti aku akan sangat bahagia membalas cintamu!!" gumam Sheila.
Kini air matanya pun mulai menetes sendirinya lagi.
ย
Malam pun berganti pagi, Rens terbangun dari tidurnya yang lelah. Kepalanya sangat pusing dan tubuhnya serasa sangat sakit serta matanya sembab karna menangis.
Rens pun beranjak dari ranjang lalu berjalan sempoyongan kearah kamar mandi. Setelah selesai membersihkan diri, dia pun bergegas keluar dari kamarnya.
Perlahan dia menyusuri ruangan demi ruangan sampai akhirnya dia didapur. Seperti biasa pagi-pagi Kevin sudah terlihat sedang menyiapkan sarapan untuk Rens tak lupa dia sekarang juga lagi duduk menyantap sarapannya sembari memainkan ponsel. Kevin memang sangat sopan namun itu jika dijam kerja saja, namun jika diluar jam kerja dia akan bersikap non formal atau biasa dan sekarang bukan lah jam kerja.
Rens berjalan menghampiri Kevin dimeja makan, namun dia merasa sangat pusing. Jalan nya kembali sempoyongan, pandangan nya juga mulai kabur akhirnya karna tak kuat menahan Rens pun jatuh pingsan.
Kevin yang melihatnya pun menjadi sedikit panik, diangkatnya tubuh mungil Rens dan merebahkan nya diatas sofa ruang santai.
Saat menggendongnya Kevin sudah merasakan suhu tubuh Rens begitu panas. Kemudian setelah direbahkan nya, Kevin pun kembali mengecek dengan menaruh punggung tangan nya diatas kening Rens.
"Benar.....dia sedang demam!! Bagaimana ini sebaiknya aku hubungi Nathan terlebih dahulu" ucap Kevin, raut wajahnya sedikit panik saat itu.
Segera dirinya menghubungi Nathan. Namun sayangnya Nathan tidak menjawab panggilan Kevin.
Mau tak mau Kevin akhirnya menghubungi Dokter Bryan. Tidak lama kemudian Dokter Bryan pun datang dan memeriksa keadaan Rens. Dokter Bryan memberitahukan Kevin untuk meminum kan obat Rens yang sudah diberikan oleh Dokter Bryan.
sekitar 20 menit berlalu akhirnya Rens pun sadar dari pingsan nya. Dia membuka mata dengan perlahan, lalu dilihatnya sekeliling tidak ada tanda-tanda seseorang pun disana.
Dia pun bangun dan duduk disofa tersebut sembari memijit-mijit keningnya yang masih terasa pusing.
Dia mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi sebelumnya. Saat sedang melamun, Kevin pun datang dari arah dapur dengan membawa nampan berisi bubur dan segelas air putih hangat.
"Kau sudah bangun...." ucap Kevin seraya ikut duduk disamping Rens.
"Kevin.....apa yang terjadi? kepala ku sakit sekali" Rens berkata sambil memegang kepalanya.
"...Cepat habiskan bubur ini, lalu minum obatmu" lanjut Kevin.
"Nathan....." ucap Rens ragu-ragu.
"Nathan tak menjawab panggilanku...kau tak usah khawatir" ucap Kevin kembali berdiri.
Mendengar perkataan Kevin membuat dirinya kembali sedih. Dia sempat berfikiran jika Nathan akan khawatir saat mendengar dirinya jatuh sakit.
"Tunggu....." ucap Rens saat Kevin hendak melangkah pergi, Kevin pun terhenti dan menoleh kearah Rens.
"Apa ada lagi yang kau butuhkan...."
"Bisakah kau tetap disini? jika sedang sakit aku takut sendirian....." ucap Rens lirih.
Kevin pun mengerutkan keningnya merasa aneh, dia menghela nafas dengan panjang.
"Aku harus bekerja....." ucap Kevin sedikit keras.
"Tapi....." Rens menundukan pandangannya.
"Baiklah....." Kevin berkata dengan raut wajah malas. Sebenarnya dirinya tak ingin, namun apa daya dia sudah berjanji pada Nathan untuk menjaga Rens selagi dia tidak ada
"Aku akan menelpon seseorang dikantor...." ucapnya lagi.
Akhirnya pagi itu Kevin memutuskan untuk tidak ke kantor dan memilih menjaga Rens yang sedang sakit.
ย
Pagi pun berganti siang yang sangat terik. Rens dan Kevin duduk bersama disofa yang ada diruang santai sambil menonton tv bersama. Meskipun begitu suasana diruangan itu sangat lah hening, Kevin dan juga Rens hanya saling diam. Lagi pula tidak ada hal yang perlu diobrolkan, fikir Kevin.
"Dimana ponselku? aku hampir lupa jika sedari pagi aku belum mengecek ponselku pasti Mia khawatir aku tidak masuk" gumam Rens.
Rens pun berusaha bangkit dari sofa, namun dia malah hampir terjatuh jika tidak memegang ujung meja. Kevin yang melihatnya pun langsung menangkap tangannya dan menarik Rens untuk kembali duduk disofa.
"Kamu mau ngapain ....kalau masih pusing duduk aja istirahat" Kevin berkata dengan raut wajah marah. Dia kesal melihat Rens yang lemah itu.
"Sedari pagi aku tidak mengecek ponselku, pasti Mia sedang panik karna aku tidak ada" ucap Rens pelan.
"Huh.....dimana ponsel mu biar aku ambilkan" Kevin beranjak dari duduknya. Dia berkata akan mengambilkan ponsel Rens.
"Ada didesk sebelah ranjangku....." ucap Rens menunjuk kamarnya.
Saat Kevin baru saja hendak melangkah...
"....bagaimana dengan Nathan, apa nomernya sudah bisa dihubungi?" Tanya Rens.
"Belum...." jawab Kevin singkat, lalu berjalan masuk kedalam kamar Rens.
"Sepertinya dia benar-benar tidak tahu Nathan dimana, tapi kenapa dia tidak bertanya padaku? wanita aneh" Gumam Kevin.
Bersambung.....
Note : Author harap kalian bisa bijak dalam berkomentar, karna dari awal cerita kalian harus pahami. Jika sosok Renesmee adalah anak tunggal yang begitu dimanjakan oleh orang tua nya....karna itu gak bisa secepat kilat dia berubah, tapi dengan seiring berjalan nya waktu dia bakal berubah. Menjadi sosok Wanita Luar Biasa untuk Nathan.....๐๐๐