Terjebak Takdir Cinta Presdir

Terjebak Takdir Cinta Presdir
PART~82


Kevin mengantarkan diriku pulang kembali keapartemen. Dia mengantarkan ku sampai benar-benar didalam unit.


" Apa kau tidak apa-apa ku tinggal sendiri? " tanya Kevin tiba-tiba padaku saat kami baru saja keluar dari lift dan masuk kedalam unit.


Aku pun menoleh sebelum menjatuhkan diri kesofa ruang santai.


" Aku tidak apa-apa kok!! kau bisa kembali bekerja.....aku mau istirahat saja " jawabku sedikit pelan, seperti nya tubuhku masih lemas mengingat kejadian tadi.


" Apa perlu aku memanggil Mia untuk menemanimu disini, aku akan menelpon nya " ucap Kevin sembari ia mengeluarkan ponsel dari saku.


" Tidak perlu , yang aku perlukan hanya istirahat sebentar saja " sahut ku lagi.


" Baiklah..... " ucap Kevin lagi, sembari ia hendak melangkah pergi.


" Tunggu dulu....." ucap ku, Kevin pun sontak menghentikan langkah nya.


" hmm....ada apa? " tanya nya dengan nada datar.


" Sejak kapan kau memiliki nomer ponsel Mia, perasaan aku tidak pernah memberikan nya padamu "


Aku sedikit heran kepada Kevin, sejak kapan dia memiliki nomer ponsel Mia. Perasaan aku tidak pernah memberikan padanya.


Apa Mia yang memberikan nya sendiri? hahaha itu jelas tidak mungkin kan, bukan kah mereka tidak pernah akur jika bertemu !!


" Aku....Aku tidak sengaja kemarin bertwmu dengan nya disuatu tempat!! yah kami bertukar nomer telpon saja!! " jelas Kevin namun sedikit gugup.


" Benarkah.... " tanya ku lagi, sembari menatap nya tak percaya.


" Kenapa? ada yang salah ? " jawab Kevin dengan ketus, kini dengan tatapan tajam nya.


" yasudah lah cepat pergi aku mau istirahat... "


Setelah mendapat tatapan tajam itu pun aku langsung mengusirnya pergi. Aku tak mau berlama-lama berdebat dengan nya.


Mengingat terakhir kali, Kevin seperti malaikat pencabut nyawa saat bertengkar dengan ku waktu itu.


Yah....jelas aku tidak mau terulang lagi, diwaktu yang sama saat Nathan sedang tidak ada dirumah.


Kevin pun pergi meninggal kan ku sendiri diruang santai. Seperti nya dia kembali kekantor, karna Nathan tidak ada pasti saat ini dia sangat sibuk.


Setelah kepergian Kevin, aku pun memutuskan untuk beristirahat sejenak. Tadi aku juga sudah makan banyak cemilan jadi perutku sedikit tenang.


Aku merebahkan tubuhku diatas sofa empuk itu. Sesekali aku memikirkan ucapan Tara, dan sesekali juga aku kembali mengingat kejadian tadi yang hampir membuatku celaka.


" Apa sebaiknya aku hubungin Nathan? Ahh tidak tidak bagaimana jika dia menjadi khawatir padaku.... " Ucap ku sendiri.


" Hubungin aja deh....aku juga mau tau keadaan nya..... "


Setelah berdebat dengan fikiran ku sendiri, akhirnya aku memutuskan untuk menghubungi Nathan.


***Tut....tut...tut....


Tut...tut....tut...


Tut....tut....tut....


Nomer yang anda tuju sedang berada diluar jangkauan, hubungi beberapa saat lagi***......


Panggilan pertama, kedua ,hingga ketiga Nathan tak juga mengangkat nya.


" Seperti nya dia sedang fokus mengendarai mobil....lagian apaan sih baru juga pisah bentar udah kaya gini " omel ku pada diri sendiri.


Memang Nathan tak mengangkat panghilan ku, tetapi itu bukan berarti membuat diriku berfikiran negatif padanya.


Aku yakin saat ini dia sedang fokus mengendarai mobil, terlebih dia harus mengutamakan keselamatan diri sendiri dan juga GM Pabrik yang dia bilang.


Sebenar nya aku sedikit penasaran, siapa GM itu dan Pabrik apa yang dimaksud oleh Nathan.


Terlalu memikirkan banyak hal membuat diriku mengantuk, tanpa sadar pun aku mulai terlelap sendirinya....


.


.


.


.


Grukk...grukk...grukk


Perut ku keroncongan terasa kosong dan laper. Sehingga membuatku terbangun dari tidur ku.


Aku menoleh kearah balkon, matahari terlihat sudah sangat terik menandakan hari sudah siang.


Kulihat arloji ditangan kiriku ternyata sudah pukul satu siang. Aku beranjak dari tidurku, sembari mengucek-ucek mataku yang masih sedikit kabur.


Aku mendekat penasaran, kubaca secarik kertas diatas nya tersebut....


Makanlah ini, aku kembali kekantor lagi jika ada yang kau perlukan hubungi aku....


Kevin...


Ternyata kotak makanan itu dari Kevin, yah aku sudah menebak nya sebelum nya. Namun ingin lebih memastikan saja....


Aku pun menyantap makanan itu dengan lahap, karna perutku sudah sangat terasa keroncongan.


Disela-sela makan ku, aku menyempatkan untuk menghubungi Nathan kembali. Tetapi tetap sama Nathan masih belum bisa dihubungi.


Setelah selesai makan, aku kembali duduk disofa yang berada diruang santai. Saat ini waktu sudah menunjukan pukul setengah dua siang, ternyata aku makan selama 30 menit lamanya.


Aku memutar bola mataku malas, sangat membosankan berada sendirian didalam unit apartemen yang mewah dan besar ini.


Seperti nya aku sudah sangat merindukan Nathan, meskipun jika difikir-fikir baru saja tadi pagi aku ditinggal nya. Apa lagi jika aku ditinggal selamanya atau berpisah dengan dirinya, seperti nya aku tidak akan sanggup.


Untuk menghilangkan rasa bosan aku pun memutuskan untuk mengerjakan sebagian tugas kampus ku.


Ku siapkan semuanya, buku-buku, pulpen, beberapa alat tulis lainnya, dan tak lupa laptop milik ku....


Tak menunggu lama aku pun mulai mengerjakan tugas kampusku. Sesekali aku meminum air mineral dingin yang aku ambil dari lemari es didapur.


Saat aku sedang mengetik tidak ada sama sekali masalah, namun saat aku hendak mencatat sesuatu dibuku ku. Pulpen yang aku pakai untuk menulis kehabisan tinta...


Aku sedikit panik, dan bingung. Sedangkan aku tidak punya cadangan pulpen saat ini.


Aku pun ingat jika ada beberapa pulpen milik Nathan yang berada diatas meja diruang kerjanya.


Dengan berlari kecil aku menju ruang kerja Nathan. Aku buka perlahan pintu nya lalu aku masuk kedalam nya.


Aku memandang kekiri kekanan sebelum berjalan menuju meja kerja yang terletak tidak jauh dariku.


Saat sudah berada tepat dibalik meja kerja Nathan. Saat aku hendak menggapai pulpen yang berada ditempat bulat berisi banyak pulpen.


Tak sengaja mataku melihat beberapa kertas berserakan diatas meja itu. Yah sontak aku pun membetul kan letak nya hingga rapi kembali.


Namun saat aku hendak menaruh nya kembali keatas meja. Betapa terkejutnya diriku saat melihat CV data karyawan.


Mataku seketika membulat, jantungku berdebar dengan cepat, bahkan tangan ku mulai berkeringat dan bergetar....


Disitu dengan jelas terpampang foto seseorang yang begitu familiar bagiku.


" Sheila.....? "


Nama itu keluar begitu saja dari mulutku saat aku melihat fotonya dan juga data nya.


Tanpa ku sadari air mata ini tak bisa terbendung lagi. Mereka mengalir deras membasahi pipi ku.


Kaki ku terasa lemas hingga aku terduduk dikursi kerja milik Nathan. Aku menopang tubuhku dengan kedua tangan ku yang berpegang erat di handle kursi itu.


GM baru ? Pabrik ? ternyata yang dimaksud oleh Nathan adalah Sheila dan Pabrik itu adalah Pabrik ikan tuna milik keluarga Tara yang dikelola oleh Sheila.


Tubuhku melemas seakan tak percaya, sejak kapan Nathan mengenal Sheilan? dan apakah dia juga sudah menyadari jika Sheila adalah Stephanie?


Dengan cepat aku berlari kembali keruang santai dengan langkah lunglai. Aku menggapai ponsel ku yang terletak diatas meja.


Tanpa berlama-lama aku langsung mencoba menghubungi Nathan lagi. Namun tetap sama ponsel Nathan sama sekali tak bisa dihubungi.


Perasaan cemas, takut, sedih, bahkan marah bercampur menjadi satu. Fikiran ku mulai tak karuan.


Tiba-tiba saja aku teringat dengan ucapa. Tara tadi pagi. Apakah Tara juga tahu jika Nathan bersama dengan Sheila....


Ya tuhan....apakah secepat ini kebahagiaan ku akan kau rebut!! tidak bisa kah kamu menunggu sampai aku siap....


Aku terduduk lemas dilantai samping meja, tangisan ku tak bisa kukendalikan. Air mataku terus mengalir deras.


Sakit, kini yang kurasakan dada ku sangat sesak aku hampir tidak bisa bernafas. Kepala ku pun sedikit pusing karna menangis.


Aku tak percaya bagaimana bisa? kenapa Nathan tak memberi tahuku yang sebenarnya? Apa memang dia sudah berniat untuk meninggalkan ku dan kembali kepada Sheila? Dan mengingkari janji yang telah ia buat kepadaku?


Kecewa sangat kecewa yang kini kurasakan terhadap Nathan. Hatiku semakin tidak tenang, ingin sekali rasanya aku menyusul mereka berdua.


Mereka berada didalam mobil yang sama, bahkan dua hari ini mereka akan bertemu terus menerus disana....


Meskipun Sheila tak mengingat masa lalu nya, tetapi bagaimana dengan Nathan yang masih mengingat nya....


Apakah Nathan masih berharap kepada Sheila? Apa aku ini sangat tidak berarti untuk nya? Nathan....aku harap semua fikiran negatif ku ini semua salah.....


Bersambung~