Terjebak Takdir Cinta Presdir

Terjebak Takdir Cinta Presdir
MUSIM KE-3 : Episode 26


Reghata duduk bersandar di kursi kerjanya. Pikiran nya melayang memikirkan seseorang yang berada di suatu tempat.


Apa yang sedang dia lakukan sekarang?


Apa dia juga sedang memikirkan diriku?


Akhh...Reghata apa yang sedang kau pikirkan? Dasar gila, apa sekarang kau berharap dia memikirkan dirimu? Sepertinya aku sudah tidak waras.


Tiba-tiba saja ponselnya berdering. Menandakan sebuah pesan masuk. Reghata melirik ponselnya yang berada di atas meja kerja. Jangan bilang itu dari Gavin. Walaupun tidak mengatakan nya secara langsung. Tapi jujur saja Reghata pasti sedang berharap pesan tersebut dari Gavin suaminya.


Sunggingan senyuman pun tercipta di wajah wanita cantik itu. Seperti nya yang dia harapkan terkabul. Gavin mengirimkan nya sebuah pesan.


🌹Bersiaplah, aku akan menjemputmu satu jam lagi dari sekarang.- Gavin Louis.🌹


"Sepertinya aku benar-benar sudah tidak waras, hanya karena dia mengirim pesan seperti ini saja....Aku sudah seperti sedang melayang....hahaha"


Reghata tergelak. Tawanya memenuhi seisi ruangan. Reghata menertawakan dirinya sendiri yang sangat lucu. Bagaimana bisa seorang Reghata bertingkah tidak wajar seperti ini.


Reghata pun kembali melanjutkan pekerjaan nya. Dengan sesekali ia tersenyum mengingat wajah Gavin. Pria yang memiliki senyuman menawan itu seperti nya sudah berhasil mencuri hati Reghata. Yang sangat keras seperti batu itu.


Satu jam pun sudah berlalu.


Kini Reghata tengah bersiap hendak segera pulang.


Tok....tok...tok...Cklek.


Shina masuk kedalam ruangan kerja Reghata. Wanita cantik itu terheran-heran mengapa Nona nya itu sudah bersiap untuk pulang.


"Nona, mengenai masalah lembur---"


"Tidak perlu Shina, hari ini aku sangat lelah dan mau langsung pulang saja...."


Belum selesai Shina berkata Reghata sudah memotong nya. Ia tersenyum dengan lebarnya kepada Shina. Membuat Shina semakin merasa aneh. Sangat tidak biasa pikirnya.


"Baiklah Nona, kalau begitu saya keluar dulu...." Shina berlalu keluar dari ruangan kerja Reghata.


***


Kini Reghata dan Shina tengah berdiri di depan lobby kantor. Menunggu Rey dan Gavin datang menjemput. Sedari tadi Reghata tidak berhenti menatap layar ponsel nya.


"Sudah jam berapa ini? Aku paling benci yang namanya menunggu...."


Reghata berdecak kesal. Ia sangat marah dan tidak sabar menunggu Gavin yang katanya mau menjemputnya. Shina tersenyum tipis sambil geleng-geleng kepala di belakang Reghata. Dia pikir Reghata sangat menggemaskan seperti itu. Karena terbiasa melihat Reghata yang dingin dan acuh.


"Nona silahkan masuk...."


Dengan sigap Shina membukakan Reghata pintu mobil. Mempersilahkan masuk Nona nya itu. Dengan raut wajah masam Reghata masuk ke dalam mobil duduk di kursi belakang sebelah Gavin.


Gavin melirik sekilas Reghata yang memasang wajah masam. Namun dia tidak memperdulikan nya. "Shina..." Gavin memanggil Shina.


"Iya Tuan Gavin? Apa ada yang bisa saya bantu?" Shina membungkukkan sedikit badan nya mengintip ke dalam mobil.


"Kau juga masuk lah, Rey akan mengantarmu pulang...." ucap Gavin.


"Hah? Tidak perlu Tuan terima kasih...." Shina menolak halus sambil tersenyum.


"Masuklah, jangan membantah ku" ucap Gavin lagi mentitah. "Kenapa bos dan asisten sangat sama, sama-sama tukang membantah...."


Reghata melirik Gavin dengan tajam, lalu ia memutar bola matanya. Malas untuk menjawab ucapan Gavin. "Masuklah Shina, jangan membuat Tuan tukang perintah ini marah..."


"Hehehe...baik..." Shina tersenyum kikuk seraya masuk ke dalam mobil di kursi depan tepat di sebelah Rey yang mengemudi.


Ketika baru masuk kedalam mobil. Shina tak lupa tersenyum ramah dan menyapa Rey. Begitu pun sebalik nya. Rey pun mulai menancap gas dengan kecepatan sedang.


"Siapa yang kau panggil Tuan tukang perintah?" tanya Gavin dengan sinis.


"Siapa lagi jika bukan dirimu...." jawab Reghata tak kalah sinis.


"Apa tak salah dengar? Bukan kah kau yang suka memerintah disini? Bahkan kau memerlukan bantuan Shina untuk mencarikan mu pakaian, jika kau merasa sangat malas untuk bergerak...." balas Gavin tersenyum singkat.


Mata Reghata seketika membulat. Dari mana Gavin tahu mengenai itu? Reghata pun melirik tajam Shina yang duduk di depan.


"Kenapa kau menatap nya seperti itu? Dia tidak pernah memberitahuku apapun? Aku hanya menebaknya saja....tapi dengan ekspresi mu yang seperti itu, aku yakin mungkin bisa lebih parah dari itu kau memerintah Shina...."


Gavin tak ada habis-habis nya menggoda Reghata. Wanita itu semakin geram. Wajah nya merah padam karena menahan kesal.


Mereka berdua kembali mendebatkan hal yang tidak jelas. Sampai-sampai tidak mengingat jika di dalam mobil mereka berdua tidak sendiri. Melainkan ada Rey dan juga Shina. Kedua asisten pribadi itu hanya bisa memasang telinga kuat-kuat untuk mendengarkan celotehan dari sepasang suami istri itu.


TBC.


Note : Jangan lupa like dan tinggalkan jejak kalian di kolom komentar☺️☺️


Vote dan beri hadiah Author supaya Author nya semangat untuk up💪🏻💪🏻