
Di kediaman wakil kepala sekolah.
"Kakek!!!" Salman berteriak sembari menggendong adiknya memasuki kediaman kakeknya.
Kakeknya langsung keluar dari kamar dan melihat pria yang tampak berantakan sedang menggendong seorang perempuan lain yang tampak lebih berantakan dari pria itu.
"Apa yang terjadi?!!" Tanya wakil kepala sekolah sembari mengikuti Salman yang terus berlari ke arah kamar tamu di kediaman itu.
Setelah membaringkan adiknya di atas tempat tidur, Salman menatap kakeknya, "hari ini adik bertarung dengan seorang murid baru bernama Adelia. Tapi dia terluka parah seperti ini!!" Ucap Salman langsung membuat wakil kepala sekolah memeriksa perempuan yang terbaring di atas ranjang.
"Pergi panggil tabib sekolah," perintah wakil kepala sekolah pada cucunya membuat Salman langsung keluar dari tempat itu untuk melakukan perintah kakeknya.
Tetapi, baru saja dua langkah dari pintu kamar, pria itu sudah tumbang ke lantai.
Buk!
Wakil kepala sekolah sangat terkejut dan dia langsung menghampiri cucunya dan memeriksa denyut nadi pria.
Pria itu sangat terkejut mendapati denyut nadi cucunya yang sama sekali tidak bisa ia rasakan.
Bahkan diambiri bisa melihat keadaan pria itu tampak lebih buruk dari perempuan yang sudah dibaringkan di atas tempat tidur.
Wajahnya lebih pucat dan tubuhnya seperti tidak memiliki tulang, sangat lemas.
"Cepat pergi panggil tabib!!!" Teriak wakil kepala sekolah pada beberapa bawahannya.
"Baik Tuan!" Jawab bawahan bawahan lalu mereka segera bergegas mengikuti perintah pria.
Sementara Salman, pria yang pingsan itu kemudian dibopong ke kamar lain yang berada di kediaman itu dan dibaringkan di atas rajang.
"Cepat periksa dan obati dia," perintah wakil kepala sekolah pada tabib yang langsung memegang tangan Agatha untuk memeriksa denyut nadi perempuan itu.
"Tubuhnya terluka, tapi untungnya tidak terlalu parah. Dia akan sembuh dalam dua hari lagi jika dia diberikan obat ini secara teratur." Kata Sang tabib memberikan sebotol obat pada wakil kepala sekolah.
"Ah,, terima kasih," ucap wakil kepala sekolah langsung mengambil obat itu lalu dia kembali berkata, "cucuku yang lebih tua juga sedang sakit. Tolong periksa dia juga!"
"Dimana dia?" Tanya sama tadi langsung diantar oleh wakil kepala sekolah ke kamar sebelah.
Tabib itu langsung memeriksa keadaan Salman dan pria itu terkejut mendapati denyut nadinya yang terlalu lemah dan berantakan.
"Apakah dia baru saja baru menerobos pelindung arena bertarung?" Tanya tabib itu yang merasa bahwa gejala pria itu sama persis dengan gejala-gejala yang dialami oleh orang-orang yang pernah menerobos pelindung arena bertarung di aula bertarung.
"Eh?" Wakil kepala sekolah tidak mengerti, tetapi pria itu segera memanggil seseorang untuk menjelaskan situasi yang telah terjadi.
Penjaga arena bertarung akhirnya didatangkan ke tempat itu lalu pria itu segera ditanya oleh tabib.
"Apakah anak muda ini sudah berusaha menerobos pelindung arena bertarung hingga Dia terluka parah?" Tanya tabib itu langsung dijawab anggukan penjaga arena bertarung.
"Benar sekali, saat itu Nona Agatha dan Nona Adelia sedang bertarung tetapi karena Nona Agatha dikalahkan oleh Nona Adelia, maka hal itu membuat Tuan Salman akhirnya tidak bisa mengendalikan dirinya dan melompat ke dalam arena untuk menolong adiknya.
"Tapi sayang sekali, dia lupa bahwa arena bertarung masih dipasangi pelindung karena saat itu belum diputuskan Siapa pemenang antara dua orang yang sedang bertarung." Ucap penjaga arena bertarung langsung mengejutkan dua orang yang ada di sana.
"Ini gawat,,," ucap tabib sambil menghela nafas, "sejauh ini sudah ada 20 orang yang mati akibat berusaha menembus perlindungan arena bertarung." Ucap tabib itu segera membuka tasnya dan mengambil beberapa obat dari dalam tasnya.
Situasi seperti itu tidak bisa didiamkan saja, harus segera ditangani karena menembus pelindung arena bertarung sama saja dengan mengantar nyawa pada kematian.