
Pada keesokan harinya, Adelia selesai membuat buku panduan untuk para nelayan, lalu dia kemudian menyerahkannya pada ayahnya.
"Aku harus kembali ke sekolah, jadi ayah tolong antarkan ini pada nelayan di pinggir laut dan katakan pada mereka untuk mengikuti semua instruksi yang ada di sana," ucap Adelia langsung diangguki oleh Denrian, lalu pria itu kemudian mengambil persiapannya untuk pergi pinggir laut mengantarkan surat yang telah dibuat oleh Adelia.
Merinika pun memberikan bekal untuk suaminya, Karena dia pikir suaminya akan langsung pergi ke ladang setelah pria itu kembali dari pinggir laut.
Semua persiapan selesai, Adelia maupun Denrian kemudian meninggalkan rumah dengan arah yang berlawanan.
Denrian yang pergi ke pinggir laut kemudian melihat beberapa orang yang sedang duduk di pinggir laut sambil berbincang-bincang.
"Permisi," ucap pria itu menghampiri para nelayan.
Semua nelayan melihat ke arah pria itu dan mereka langsung berdiri mengerumuni Denrian hingga membuat Denrian terkejut dan takut kalau dia diapa-apakan oleh para nelayan itu.
Tetapi sebenarnya karena sedari tadi mereka sudah menunggu orang yang dikirim oleh Adelia untuk mengantar surat, maka mereka menjadi sangat bersemangat setiap kali ada orang yang datang menemui mereka.
"Apakah kau yang dikirim oleh Nona Adelia Untuk mengantarkan surat bagi kami?" Tanya salah seorang nelayan dengan nelayan yang lainnya begitu antusias menunggu jawaban Denrian.
"Ahh ya,, putriku akan kembali ke sekolah petarung kota Padang Selatan, dan dia menyuruhku untuk datang kemari membawakan kalian buku ini," ucap Denrian mengeluarkan sebuah buku yang telah dibuat oleh Adelia.
Para nelayan langsung mengambil buku itu dan melihatnya bersama-sama, lalu salah seorang diantara mereka kemudian menatap Denrian.
"Apakah kau ayah dari gadis cantik itu?" Tanya salah satu nelayan yang begitu penasaran dengan ucapan 'putriku' yang tadi dikatakan oleh Denrian.
"Ahh,," Denrian menganggukkan kepalanya, "iya, dia putriku satu-satunya, tapi apa yang sedang kalian lakukan bersama putriku hingga ada buku seperti itu yang dia buatkan untuk kalian?" Tanya Denrian yang juga merasa penasaran.
Setelah para nelayan melihat buku yang dikirimkan oleh Adelia, Mereka kemudian menatap Dendrian yang saat itu hendak pergi.
Lalu mereka menahan pria itu dan menjamu Denrian dengan ala kadarnya sebelum pria itu pergi.
Sementara itu, di perjalanan menuju sekolah petarung kota Padang Selatan, Adelia kini singgah di tempat dia bertemu dengan para perampok.
Dari kejauhan, dia melihat crystal raksasa yang mengurung 3 orang di dalam ruangan tersebut hingga Dia kemudian berjalan mendekati mereka.
Ketiga orang itu sudah terkapar lemah di dalam kristal karena sepertinya kekuatan mereka sudah habis diserap oleh kristal dan terlebih, ada luka di tubuh mereka karena mereka mungkin mencoba mematahkan kristal yang dibuat oleh Adelia.
"Bagaimana kabar kalian?" Tanya Adelia memperhatikan ketiga perampok tersebut.
Mendengar suara dari luar, maka ketiga perampok itu langsung bangkit dan menatap Adelia.
"Tolong,, tolong lepaskan kami, kami janji tidak akan pernah lagi membuat kesalahan dan tidak akan pernah lagi mengganggumu." Ucap salah seorang preman sambil bersujud pada Adelia, karena tentunya dia sudah merasa sangat menderita dalam kristal itu sebab mereka telah berpuasa tidak makan dan minum.
"Bagaimana ya,,, tapi aku berniat membiarkan kalian tetap di sini sampai kalian menjadi tulang." Ucap Adelia langsung membuat ketiga orang itu semakin ketakutan.
@info
Terima kasih terus setia membaca novel ini, semoga kalian terus suka ya....! Jangan lupa like, komen dan follow otor agar mendapat follow back dari otor, supaya kita bisa saling mengirim pesan. jangan lupa juga melihat novel otor yang lain, apa lagi novel tamatnya ya... silakan buka profil otor untuk melihatnya...❤️❤️❤️