
Desmon menghela nafas, lalu dia mendekati perempuan itu dan memeluk Adelia dengan erat, "maafkan aku, maafkan aku yang sudah lalai. Tapi lain kali aku akan pastikan untuk menjagamu dengan baik." Kata Desmon yang dalam hatinya tetap merasa bersalah karena kebocoran informasi dari sekolah petarung kota Padang Selatan tentang rahasia besar Adelia.
🚒🚒🚒
Adelia Tersenyum dalam pelukan Desmond, "Jangan khawatir, aku baik-baik saja. Tapi,, Coba lihat keadaan selir Ananiah," ucap Adelia melepaskan pelukan mereka dan menarik pria itu ke arah peti selir ananiah.
Begitu Desmon melihat ke dalam peti, dilihatnya bahwa kuku perempuan itu benar-benar hampir kembali ke warna normal.
"Bagaimana bisa begitu?" Ucap Desmon yang benar-benar tak percaya karena tadi terakhir kali dia melihatnya, kuku perempuan di dalam peti itu masih agak hitam.
Namun ketika dia melihat lagi Adelia dilihatnya bahwa pakaian perempuan itu telah berubah sejak terakhir kali mereka berpisah.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Desmon dengan cemas meraih tangan perempuan itu untuk melihat luka Adelia, dan betapa terkejutnya dia ketika melihat bahwa luka itu menjadi lebih besar dan masih saja berair serta mengeluarkan sedikit darah.
"Aku hendak membalutnya, tetapi aku pikir akan berkonsultasi dulu pada para pendeta." Ucap Adelia langsung membuat Desmon menggertakkan giginya.
"Jangan bilang keadaan selir Ananiah mencari seperti ini karena kau kembali memberikan darahmu?" Tanya Desmond.
Adelia mengangguk pelan, "Aku hanya ingin mencoba Bagaimana jadinya jika itu menggunakan darah murni, dan ternyata hasilnya sangat efektif." Ucap Adelia benar-benar membuat Desmond merasa begitu tidak berguna sebagai seorang kekasih.
Jadi pria itu memegang tangan Adelia dan menarik perempuan itu meninggalkan ruangan tempat peti selir Ananiah berada.
Mereka kemudian tiba di kamar Desmon dan Desmon dengan cepat mengambil obat-obatan yang ada di lemarinya lalu mengoleskannya pada luka Adelia.
Adelia yang mendengar itu terdiam di tempatnya karena tentunya dia tidak bisa berjanji seperti itu, sebab jika nanti ada orang penting baginya yang terluka maka dia pasti akan menggunakan darahnya untuk mengobati orang itu.
Jadi, Adelia menggelengkan kepalanya dengan pelan, lalu berkata, "aku tidak bisa melakukan itu, karena janji seorang jenderal akan selalu ditepati tetapi aku tidak akan bisa menepati janji itu."
Ucapan Adelia langsung membuat gerakan tangan Desmon terhenti, lalu pria itu menatap Adelia yang tampak benar-benar tegas dengan ucapan yang baru saja keluar dari mulut perempuan itu.
"Kau mau terus mengorbankan dirimu sendiri untuk orang lain? Kau tidak lihat luka ini? Bukan hanya kau yang sakit karena luka ini, aku jauh lebih sakit lagi melihatmu terluka begini." Ucap Desmond yang merasa bahwa dia benar-benar marah atas ucapan Adelia.
Namun, Desmon berusaha menahan amarahnya karena tentunya dia tidak mau membuat perempuan itu menjadi ketakutan jika melihat kemarahannya.
"Itu, Kalau begitu Kau tidak perlu khawatir lagi padaku. Karena aku bukan perempuan yang bisa diatur oleh laki-laki. Aku melakukan apapun yang kuinginkan dan,, aku bisa memutuskan mana yang harus kulakukan dan mana yang tidak boleh kau lakukan." Ucap Adelia segera menarik tangannya lalu perempuan itu pergi meninggalkan kamar Desmond.
Desmon yang melihat itu langsung merasakan hatinya menjadi hampa dan dia benar-benar merasa menjadi pria yang tidak berguna sedikitpun.
@info
Terima kasih terus setia membaca novel ini, semoga kalian terus suka ya....! Jangan lupa like, komen dan follow author agar mendapat follow back dari otor, supaya kita bisa saling mengirim pesan. Jangan lupa juga untuk masuk di grup chat otor ya, di sana ada bagi2 pulsa setiap tgl 1 lho...., bisa liat di profil otor ya....!
Cek juga novel baru otor di bawah ini ya.....