Reinkarnasi Jenderal Padang Utara

Reinkarnasi Jenderal Padang Utara
214.


"Tolong,, tolong,, tolong lepaskan kami, kami janji tidak akan pernah lagi membuat kesalahan dan tidak akan pernah lagi mengganggumu." Ucap salah seorang preman sambil bersujud pada Adelia karena tentunya dia sudah merasa sangat menderita dalam kristal itu sebab mereka telah berpuasa tidak makan dan minum.


"Bagaimana ya,,, tapi aku berniat membiarkan kalian tetap di sini sampai kalian menjadi tulang." Ucap Adelia langsung membuat ketiga orang itu semakin ketakutan.


🏔️🏔️🏔️


"Tolonglah, tolonglah lepaskan kami. Setelah itu kami akan menuruti apapun yang kau inginkan dan kami akan bekerja untukmu tanpa perlu dibayar!!!" Ucap salah satu preman dengan tegas diangguki oleh kedua preman yang lainnya hingga membuat Adelia semakin tersenyum di atas kudanya.


"Hm,,, baiklah, kalau begitu kalian harus pergi ke desa maritan dan menjadi pengawal untuk ayah dan ibuku." Ucap Adelia yang merasa bahwa ayah dan ibunya perlu pengawal supaya tak perlu lagi diganggu oleh para preman di desa.


Karena, meskipun ayah dan ibunya memiliki senjata yang diberikan oleh Adelia, tapi mungkin saja para preman di desa maritan akan menyewa seseorang dengan tingkat kekuatan yang lebih tinggi untuk membuat ayah dan ibunya bertekuk lutut.


Tetapi jika ada seseorang yang menjaga ayah dan ibunya, maka hal itu akan menjadi lebih aman dan ayah dan ibunya pun akan semakin ringan bekerja di ladang, sebab mereka memiliki tiga orang suruhan.


"Baik,, baik,,, apa pun itu,," ucap ketiga orang preman itu yang benar-benar merasa bahwa lebih baik menjadi budak ketimbang harus mati perlahan-lahan di tempat itu.


Adelia tersenyum mendengarnya, lalu dia kemudian mengeluarkan 3 buah pil dari kantongnya yang ia dapatkan dari guru besar.


Perempuan itu kemudian melemparkan pil tersebut ke dalam kristal, tepat di depan Ketiga orang itu.


"Makan pil itu," ucap Adelia.


Ketiga orang perampok yang ada di dalam kristal kebingungan melihat ketiga pil itu, tetapi karena tak punya pilihan lain maka pada akhirnya mereka mengambil pil itu dan memakannya.


Setelah kristalnya berubah menjadi bola kecil maka Adelia menyimpannya ke dalam gelang ruangnya.


"Pergilah ke desa maritan dan temui keluarga Fidelia, kedua orang itu yang akan kalian jaga dan harus kalian bantu dalam apapun pekerjaan mereka. Dan ingat, jika suatu saat kalian berniat untuk meninggalkan ayah dan ibuku tanpa sepengetahuanku maka pil dalam tubuh kalian akan meledak secara otomatis." Ucap Adelia dengan tegas langsung diangguki oleh tiga perampok di depan Adelia.


Melihat itu, maka Adelia merasa puas dan dia kemudian memutar haluannya dan pergi ke sekolah petarung kota Padang Selatan.


Sementara 3 preman yang ada di sana mereka langsung bergegas untuk mencari mata air dan meredakan rasa haus mereka.


Setelah mendapatkan mata air Mereka minum sampai dahaga mereka terpuaskan lalu mandi juga di tempat itu.


"Perempuan itu benar-benar menakutkan, ada banyak orang yang lewat di sekitar kita tapi meskipun kita berteriak sangat keras mereka bahkan tidak bisa mendengar dan melihat kita." Ucap salah seorang perampok yang sangat takut terhadap Adelia.


"Ahh, kau benar, dan mulai sekarang kita harus menuruti perintah perempuan itu atau jika tidak tubuh kita akan meledak." Ucap salah seorang preman yang merasa bahwa mulai hari ini hidupnya akan menjadi sangat menderita dan tak ada lagi orang yang akan ia suruh-suruh, karena dialah yang akan menjadi orang yang disuruh-suruh itu.


Kepala perampok yang ada di sana juga ikut menghela nafas, Tetapi dia tidak mengatakan apapun dan dia hanya meratapi nasibnya sebagai orang yang kini menjadi budak.


@info


Terima kasih terus setia membaca novel ini, semoga kalian terus suka ya....! Jangan lupa like, komen dan follow otor agar mendapat follow back dari otor, supaya kita bisa saling mengirim pesan. jangan lupa juga melihat novel otor yang lain, apa lagi novel tamatnya ya... silakan buka profil otor untuk melihatnya...❤️❤️❤️