Reinkarnasi Jenderal Padang Utara

Reinkarnasi Jenderal Padang Utara
39


Begitu mereka mendekat ke arah yang ditunjukkan oleh Adelia, pria pemilik perahu hendak memutar balik perahunya karena dia juga takut pergi ke sana.


Tetapi Adelia yang melihat itu langsung mengambil alih kendali dan dengan cepat menjalankan perahunya ke arah yang semakin berbahaya membuat pemilik perahu begitu takut dan gemetar di perahunya.


Nelayan-nelayan lain yang melihat hal itu juga sangat terkejut, tetapi mereka hanya menonton dari kejauhan karena tidak mau menghantar nyawa ke tempat yang berbahaya itu.


"No,, nona,, ini sangat berbahaya, sebaiknya kita kembali saja!!!" Ucap pria pemilik perahu yang kini gemetar menatap ke arah Adelia yang terus mengendalikan perahu mereka semakin mendekati area yang paling berbahaya di tempat itu.


Dan ketika mereka hendak mendekat, Adelia menurunkan layar lalu dia berkata, "cepat, tebar jalannya ke sebelah kanan perahu!!" Perintah Adelia langsung membuat pria tua itu lebih cepat menebar jalannya karena dia tidak mau semakin berlama-lama di tempat itu.


Dan ketika jalannya ditebar dan dia hendak menariknya, dia terkejut ketika tarikannya begitu berat.


Padahal dia berpikir bahwa jarinya akan mudah ditarik, sebab tidak akan ada ikan yang tersangkut di jalan mereka.


"Bagaimana?" Tanya Adelia membuat nelayan itu dengan semangat menatap Adelia.


"Jarinya sangat berak Jadi sepertinya ada banyak ikan di sana." Ucap ritua itu langsung membuat Adelia tersenyum lalu dia menghampiri pria tua itu dan dengan satu kali tarikan ia membawa jala berisi ikan itu ke atas perahu.


Pria nelayan yang bersama dengan Adelia sangat terkejut dengan ulah perempuan yang memiliki tubuh kecil itu.


"Kau,, kau,,," ucap pria itu begitu gemeter melihat Adelia karena dia tak menyangka bahwa tenaganya Adelia begitu kuat untuk menarik jaring hanya dalam satu kali tarikan.


Tetapi Adelia bergegas menaikkan layar dan mengubah arah perahu mereka.


"Kita harus bergegas atau nyawa kita tidak akan tertolong," ucap Adelia yang bisa merasakan bahwa di tempat itu akan kembali muncul pusaran air yang bisa menarik mereka.


Maka dengan cepat sang nelayan itu membantu Adelia lalu mereka membalikkan perahu mereka meninggalkan tempat itu.


"I,, itu,,," pria itu berbicara dengan nafas tersengal namun Adelia tetap duduk dengan santai sambil melihat ikan-ikan yang bertebaran di lambung perahu.


Semua orang yang melihat kejadian itu juga sangat tercengang dan tak menyangka akan keberuntungan Adelia dan nelayan yang bersama Adelia.


Selain mendapatkan begitu banyak tangkapan ikan, keduanya juga lolos dari bahaya maut yang hampir saja membuat mereka masuk ke dalam pusaran air yang begitu besar.


Sampai perahu mereka tiba di pinggir pantai, pria pemilik perahu terus saja gemetaran dan baru bernafas lega ketika dia sudah menginjak daratan.


"Ayah!!!" Seorang pemuda berlari menghampiri mereka dan menopang ayahnya yang hampir saja jatuh ke tanah Karena rasa terkejutnya yang belum sepenuhnya pulih.


"Istirahatkan ayahmu dan bawa beberapa orang untuk membereskan ikan-ikan ini. Jual ikan-ikan segar Ini dengan harga 3 perak. Jika kau menjumpai kesulitan dalam menjual ikan-ikan ini aku ada bersama ayahmu di kedai itu," ucap Adelia menunjuk sebuah kedai lalu dia membawa Pria tua yang gemetar ke arah kedai itu untuk menenangkan diri mereka.


Sementara anak dari nelayan itu dia langsung memanggil orang untuk membereskan semua ikan yang masih tersangkut di jalannya.


Semua orang memperhatikan kejadian itu dan mereka sangat terkejut dengan apa yang baru saja mereka lihat.


Dengan cepat kabar itu meluas ke seluruh penjuru desa dan banyak orang datang ke tempat itu untuk membeli ikan hasil tangkapan Adelia yang sangat segar dan berukuran besar.


Kabar itu pun sampai ke tangan seorang pria yang menguasai desa Maritan.


"Apa?? Semua pelanggan kita lari membeli ikan ke seorang nelayan yang baru saja mendapat tanggapan ikan yang begitu banyak?!!" Ucap Galinea begitu tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


Sekejap saja, pria itu langsung berada dalam keadaan marah lalu dia berdiri untuk memberi perintah pada bawahannya.