
Daveer Singh serta orang-orangnya datang ke restoran untuk mencoba hidangan di sini. Ia dan Chen Sisi memiliki kerja sama memasok rempah-rempah ke restoran. Tentu saja keramahan di perlukan.
Belum lagi semenjak gadis itu memberikan resep makanan, orang-orangnya sangat suka dan sesuai dengan selera lidah mereka. Oleh karena itu, Daveer Singh datang lebih awal ke sini.
"Bisakah kamu mengeluarkan semua menu hari ini. Aku ingin mencobanya." Daveer Singh mencium aroma masakan yang sangat wangi. Mau tidak mau menelan salivanya berulang kali.
"Tentu saja." Chen Sisi tentu sangat senang dan meminta koki khusus di dapur untuk menyiapkan semua menu makanan hari ini.
Chen Sisi mengajak Daveer Singh untuk berada di salah satu kotak di lantai dua. Mereka mengobrol tentang seputar kehidupan di tempat masing-masing. Sesekali akan bicara tentang perdagangan dengan Kakek Yi.
"Kekeringan parah sepertinya akan terjadi tahun ini. Sudahkan kamu memikirkan untuk tetap tinggal di sini atau kembali?" tanya Kakek Yi.
Daveer Singh mengerutkan kening. "Kami tidak bisa kembali untuk saat ini. Beberapa jalan yang sering kami lewati telah dipenuhi oleh pecahan batu dan tanah berlumpur. Belum lagi, serangan mayat hidup juga semakin meluas. Kemungkinannya kecil kami bisa kembali dengan selamat."
Chen Sisi meminum tehnya. "Lalu bagaimana dengan rempah-rempah yang kamu kirim selama ini?"
"Itu disiapkan khusus oleh penjaga rahasia negara kami. Kebetulan aku adalah pedagang utama yang bertugas menjalin kerja sama antar negara. Dengan penjaga rahasia yang mengantar barang, mayat hidup yang menyerang di jalan pun tidak masalah," jelasnya.
"Tidak heran."
Mereka mengobrol cukup lama hingga hidangan satu persatu mulai memenuhi meja. Ada soto ayam, kari ayam, ayam goreng rempah, ikan bakar asam manis, bola udang goreng, udang goreng rempah, semur tahu tempe, bakwan dan masih banyak lagi.
"Makanan yang paling diburu di sini adakah jenis hidangan berkuah. Bakso, soto ayam, gulai dan sup contohnya." Chen Sisi memperkenalkan satu persatu ada Daveer Singh dan orang-orangnya.
Pria itu mengangguk berulang kali dan memuji masakannya karena enak. Dia menatap Chen Sisi dengan sedikit berarti.
"Jika aku punya istri seperti Si Cantik ini, pasti aku akan memanjakannya sepenuh hati."
Daveer Singh sengaja memberikan tatapan menggoda untuk gadis itu. Lagi pula dia terbiasa dengan ekspresi malu yang terpancar dari para gadis Asia Timur.
Benar saja, bahkan Chen Sisi yang terbiasa melihat pria tampan dengan tubuh bagus pun akan merasa malu. Wajahnya memerah sedikit dan tidak tahu harus berkata apa. Tubuhnya agak kaku. Harus dia akui jika Daveer Singh ini memang tampan. Perawakan mereka berbeda dengan pria Asia Timur dan Asia Tenggara.
"Tuan Daveer bercanda. Gadis-gadis di negaramu harusnya lebih mempesona," ucap Chen Sisi. Ia membayangkan beberapa aktris Asia Selatan yang juga cantik dan memukai.
Daveer Singh tertawa senang. "Sayangnya, terlalu lama berdagang di Asia Timur, membuatku jatuh cinta dengan gadis-gadis bertubuh mungil seperti kalian. Pasti sangat nyaman untuk dipeluk."
Suasana di dalam kotak sangat bagus. Namun Kakek Yi yang melihat cara Daveer Singh menggoda Chen Sisi, sedikit tidak nyaman. Dia ingin bilang jika Chen Sisi adalah tunangan Tianlong Heyu. Tapi ... hubungan keduanya belum resmi diumumkan.
Melihat Chen Sisi yang juga tampaknya nyaman mengobrol dengan Daveer Singh, Kakek Yi langsung waspada lagi.
Wanita mudah terbawa perasaan dan bujukan lalu rayuan. Kemudian secara resmi menumbuhkan cinta.
Kakek Yi mengkhawatirkan perasaan Tianlong Heyu untuk gadis itu sekarang.
"Kalau begitu, Cantik, mari sering bertemu di masa depan. Aku menginap tidak jauh dari sini dan pasti akan datang untuk makan lagi. Makanan di restoran ini cocok untuk seleraku." Daveer Singh berkata jujur tentang rasa makanan di tempat ini.
"Tuan Daveer bisa memanggil namaku di masa depan."
"Tidak apa-apa. Aku suka memanggilmu dengan sebutan Si Cantik. Kamu salah satu gadis paling cantik yang pernah aku lihat. Jika Si Cantik ini tidak keberatan, bagaimana jika kita berkencan. Mungkin kamu akan tertarik dan jatuh cinta padaku di masa depan," tuturnya mengungkapkan perasaan.
Kakek Yi hampir batuk dan ingin mengatakan sesuatu. Ini cucuku, tidak bisakah kamu bicara lebih baik di depanku? Pikirnya merasa sangat kesal.
Namun sebelum Kakek Yi benar-benar melontarkan kata-kata kasar, suara dingin seorang pria terdengar saat pintu kotak mereka dibuka.
"Tuan Daveer sepertinya jatuh cinta dengan wanita raja ini." Suara Tianlong Heyu membuat orang-orang di dalam kotak terkejut.
Bahkan Chen Sisi langsung menoleh dan melihat ekspresi tidak senang Tianlong Heyu. Pria ini ... setelah mengungkapkan perasaannya malam itu, menjadi semakin tak tahu malu.
Daveer Singh awalnya tertegun tapi kemudian ekspresinya kembali seperti semula. "Ternyata Yang Mulia Raja Perang. Ha ha ... Sungguh tidak terduga jika Yang Mulia akan begitu langsung," timpalnya.
Tianlong Heyu tidak berniat untuk berdebat dengannya. "Saudara ketujuhku kebetulan sedang mencarimu untuk membahas perdagangan lebih lanjut. Bukankah sudah waktunya bagimu untuk pergi?"
Tanpa diduga, Daveer Singh mendengkus. Pria itu bermaksud mengusirnya. Namun dia memang ingat jika malam ini ada pertemuan dengan Tianlong Yuzhao.
"Karena senang mengobrol dengan Si Cantik, aku sampai lupa dengan tujuan hari ini. Kalau begitu, aku akan pergi dulu. Nona Cantik, mari kita bertemu lain kali." Daveer Singh menyapa Kakek Yi juga lalu pergi dengan orang-orangnya.
Kakek Yi lega setelah melihat mereka pergi. Ia juga tidak berniat tinggal lebih lama setelah Tianlong Heyu ada di sini.
Kini hanya tinggal Tianlong Heyu dan Chen Sisi. Tianlong Heyu langsung datang ke sini setelah mendengar laporan Bi Yan yang menjaga Chen Sisi di kegelapan. Katakanlah bahwa Daveer Singh menggoda gadis itu sedemikian rupa. Masalahnya Chen Sisi juga sedikit salah tingkah.
Ini membuat Tianlong Heyu merasakan krisis yang kuat dalam hatinya. Jika dia tidak langsung mengambil tindakan, gadis itu akan menjadi milik pria lain di masa depan.
Daveer Singh juga tampan. Bedanya, dia lebih hangat dan suka menggoda. Wanita manapun selalu berhasil dibuat terpesona olehnya.
"Apakah urusanmu sudah selesai?" tanya Chen Sisi.
Pria itu tidak menjawab dan berjalan ke arahnya. Lalu tanpa berkata-kata langsung mencium bibirnya dengan rakus. Chen Sisi kaget hingga ingin mendorongnya tapi Tianlong Heyu menahan belakang kepala gadis itu.
Ciuman yang tak diduga-duga itu membuat Chen Sisi hampir kehabisan napas. Barulah Tianlong Heyu melepaskannya.
"Bagaimana? Apakah kamu mengobrol gembira dengan Daveer Singh? Dia bahkan masih merayumu. Si'er, kamu adalah milikku. Ingat itu," bisiknya langsung menggigit kecil daun telinga Chen Sisi.
Wajah Chen Sisi seketika memerah. "Heyu, ini restoran. Apa yang kamu lakukan?"