Koki Cantik Sang Raja

Koki Cantik Sang Raja
Become reality


Mo Huazhu tidak sabar untuk makan dan mencoba tumis kangkung lebih dulu. Rasanya gurih dan sedikit pedas. Ada rasa saus tiram yang khas serta rasa asam dari irisan tomat. Tumis kangkung cocok dimakan dengan nasi hangat dan tak ingin berhenti setelah makan sesuap.


Namun keduanya juga mencoba ikan kuah asam. Rasanya memang ada asamnya di tapi terasa segar. Sup tahu putih cocok dimakan sebagai pencuci mulut di akhir. Sedangkan orak-arik telur sayuran cukup baru bagi keduanya.


"Telur dan buncis dimakan seperti ini? Aku baru mengetahuinya. Aku sering melihat sayuran bernama buncis ini, tapi jarang memakannya." Mo Huazhu berkomentar.


Semua yang dia makan selama ini jika tidak dari restoran, tentu saja di rumah. Ada juru masak yang bekerja, tentu saja dia hanya tinggal makan.


Sedangkan untuk tahu putih dibuat sup sudah tidak asing lagi tapi cita rasanya memang agak beda.


"Makanlah dan segera pergi jika kamu sudah kenyang," kata Tianlong Heyu yang makan tanpa memedulikan pria itu.


Mo Huazhu banyak bicara saat makan, memuji masakannya. Entah itu berkomentar enak, masakan koki istana saja kalah dan bahkan lain sebagainya. Jika Tianlong Sina tahu sepupunya makan di sini sekarang, mungkin akan berteriak kesal.


Setelah makan, Mo Huazhu menyentuh perutnya yang sudah terisi penuh. Chen Sisi bahkan sedikit terkejut karena nasi yang dia masak sebelumnya hampir habis. Walaupun dia tidak menanam nasi terlalu banyak tapi setidaknya cukup untuk bertiga.


Tapi siapa yang tahu, nafsu makan kedua pria itu sangat besar.


"Lain kali jika kamu datang dan ingin makan di sini, bawalah bahan masakan atau sejenisnya. Tidak mudah menemukan bahan-bahan yang kamu makan," kata Chen Sisi sedikit kesal.


Mo Huazhu terbatuk malu dan menyentuh hidungnya. "Baik-baiklah, aku akan melakukan lain kali. Yuyu mungkin akan sembuh besok. Kamu ikut aku untuk melihat tempatnya besok," katanya mengingatkan.


Chen Sisi mengangguk. Dia memang harus melihat tempat untuk membuka restoran besok. Dengan porsi makan Tianlong Heyu yang besar siang ini, harusnya baik-baik saja besok.


Setelah makan dan berbasa-basi sebentar dengan mereka, Mo Huazhu akhirnya pergi.


Selama di perjalanan, Mo Huazhu sama sekali tidak merasakan apa-apa. Apa lagi dia berniat langsung pergi ke Gedung Bunga Peony alih-alih pulang ke rumah. Ia masih harus sibuk di sana setelah setengah hari absen.


Baru saja setengah perjalanan berlangsung, kereta kuda yang ditempatinya tiba-tiba saja berhenti. Kuda-kuda yang menarik keretanya meringkik kaget.


"Ada apa?" Mo Huazhu sedikit kesal. Dia sedikit mengantuk setelah makan banyak siang ini.


Kusir yang memang merupakan penjaga gelapnya berkata dengan permintaan maaf. "Tuan, seorang gadis tiba-tiba saja berlari ke jalan dan bertabrakan dengan kuda kita," jawabnya sopan.


Mo Huazhu mengerutkan kening. Dia tidak ambil pusing dan meminta penjaga gelapnya mengurus masalah itu. Namun tampaknya gadis yang tak sengaja melintas menabrak keretanya menangis. Suara tangisnya hampir membuat beberapa pejalan kaki dan penjual toko penasaran.


Mau tidak mau, Mo Huazhu akhirnya keluar dan mengeceknya sendiri. "Ada apa? Kenapa gadis ini menangis setelah menabrak keretaku?"


Tanpa diduga, seorang gadis yang cukup cantik itu menghentikan tangisnya, lalu bangkit dan menghampiri Mo Huazhu.


"Tuan Muda Mo!" Gadis bergaun merah muda itu langsung memeluk Mo Huazhu dan menangis lagi.


"..?!!" Mo Huazhu kaget dan hendak menghindar tapi terlambat.


Gadis itu ternyata salah satu pengagum Mo Huazhu dan sudah lama ingin menjadi selirnya. Tapi Mo Huazhu tak pernah memikirkan masalah ini sejak lama sehingga menghadapi kejadian ini, dia terkejut setengah mati.


Banyak orang yang menonton. Dan Mo Huazhu merasa kepolosannya akan hilang hari ini.


"Tuan Muda Mo, tolong bawa saya pulang. Saya rela menjadi selir bahan jika itu hanya selir rendah sekalipun." Gadis itu menangis seperti bunga pir yang terkena tetesan air.


Tapi Mo Huazhu tidak peduli dengan ini. Dia akhirnya kesal dan meminta bantuan penjaga gelapnya untuk menyingkirkan gadis ini. Dia tidak mau terlalu kasar dan hanya menasihatinya.


Setelah semuanya selesai, dia buru-buru masuk kereta dan meminta penjaga gelap yang menyamar jadi kusir segera pergi. Dia sama sekali tidak bersalah.


Namun banyak orang menonton dan gosip segera beredar. Gosip keesokan harinya langsung sampai ke telinga Tianlong Heyu dan Chen Sisi.


Mo Huazhu dikatakan tak sengaja dipeluk seorang gadis di jalanan lalu pergi. Gadis itu masih menangis ingin menjadi selirnya tapi Mo Huazhu tidak peduli. Akhirnya, orang-orang bergosip jika Mo Huazhu menipu gadis itu dan meninggalkannya.


Ketika Mo Huazhu tahu ini, dia ingin pingsan dan marah. Dia ingat perkataan Tianlong Heyu kemarin pagi jika siang itu dia akan sial karena bertabrakan dengan bunga persik busuk.


Karena itu, Mo Huazhu segera pergi ke Istana Raja Perang untuk menuntut Tianlong Heyu.


"Yuyu! Bagaimana kamu bisa tahu aku akan mengalami hal sial kemarin siang? Apakah kamu sengaja mengatur semuanya untuk balas dendam padaku?" Mo Huazhu masuk ke ruang utama sambil berteriak, tidak peduli dengan citranya sebagai tuan muda keluarga Mo.


Namun ketika Mo Huazhu tiba di sana, Tianlong Heyu tampak agak linglung. Ia sudah sembuh dari demamnya. Namun Mo Huazhu merasa jiwa Tianlong Heyu tak ada di tempat.


"Yuyu?" Mo Huazhu memanggilnya.


Barulah kali ini Tianlong Heyu menaikkan sebelah alisnya. Dia sadar jika Mo Huazhu datang.


"Ada apa?" tanyanya datar.


Ini membuat Mo Huazhu semakin kesal dan mengulangi apa yang dikatakannya. Chen Sisi mungkin tidak tahu apa-apa dan hanya mengira Mo Huazhu sedang sial. Tapi masih terkejut ketika Tianglong Heyu tahu semuanya. Ini membuatnya bingung.


Bukan hanya itu, Tianlong Heyu juga terkejut saat tahu. Dia mengira itu hanya mimpi, buka pertanda khusus. Tapi setelah Mo Huazhu mengalaminya, ia berpikir serius.


"Oh, kalau begitu kamu harus berhati-hati di masa depan. Perjalanan masih panjang."


"Aku bertanya, bagaimana kamu tahu?!"


Mo Huazhu sedikit berteriak. Dia duduk dan menuangkan teh untuk dirinya sendiri. Tapi ketika diminum, teh itu terlalu panas di mulutnya.


"Panas! Panas!" Dia menunjukkan ekspresi tidak mengenakan dan meletakkan cangkir di atas meja agak bertenaga.


Tianlong Heyu dan Chen Sisi yang pada dasarnya sedang membahas masalah membuka restoran, hanya menggelengkan kepala.


"Ini hanya kebetulan saja. Aku hanya bicara apa adanya. Kamu terlalu serius memikirkan ini." Tianlong Heyu terkekeh, benar-benar menunjukkan ekspresi normal yang biasanya.


Mo Huazhu tidak percaya tapi tidak ada bukti untuk menyalahkannya. Kemudian dia ingat jika hari ini ingin mengajak Chen Sisi melihat lokasi yang bagus untuk restoran.


"Kamu bisa pergi. Ingat untuk membawa Moer bersamamu. Bi Yan akan mengikuti dari kegelapan untuk menjaga keamanan di perjalanan," kata Tianlong Heyu mengaturnya.