
Keesokan paginya, Chen Sisi sibuk dengan restoran yang baru saja dibuka. Bukan hanya Tianlong Heyu yang membantu, tapi Chen Yelang dan Mo Huazhu juga datang.
Restoran baru itu menarik perhatian banyak orang. Terutama saat mereka melihat Baiyue yang cantik dan berbulu lebat. Kucing adalah hewan keberuntungan Negara Tiankong saat ini. Siapa sih yang tidak mau punya kucing secantik itu?
Belum lagi ketika tahu jika yang membuka restoran adalah cucu angkat pensiunan kaisar, mereka menjadi semakin penasaran.
"Harganya cukup mahal. Apakah benar kami mendapatkan potongan setengah harga hari ini?" tanya salah satu pengunjung yang datang.
Chen Sisi mengangguk. "Benar. Ini pertama kalinya restoran di buka. Lantai dua untuk fasilitas tamu khusus. Satu kotak (bilik) bisa menampung enam tamu."
Lantai dua memang eksklusif, seperti di restoran lain pada umumnya. Ada juga di lantai bawah. Yang menarik perhatian, banyak meja dan kursi di luar restoran. Atap tambahan dibuat untuk menambah keteduhan.
Bukan hanya itu, ada beberapa dekorasi yang menyegarkan mata. Terutama pot bunga sebagai hiasan, lilin aroma terapi untuk menenangkan pikiran serta vas bunga kecil di tengah meja.
Ini unik dan berbeda.
Chen Sisi juga sudah menyiapkan buku menu untuk mereka. Bahkan buku menu juga ada gambar berwarnanya. Mereka lagi-lagi terkejut.
"Wah ... Ini luar biasa. Apakah makanan yang kita pesan juga akan sesuai ada lukisan ini?" tanya mereka.
Chen Sisi mengangguk. "Kurang lebihnya seperti itu. Jadi silakan pesan. Makanan yang kami sajikan di restoran akan berbeda setiap minggunya. Selain kami juga harus menyetok bahan, kami juga mengumpulkan persediaan yang ada. Beberapa bahan harus kami kirim dari negara lain."
Satu persatu, mereka mulai memesan. Rekan-rekan Tianlong Heyu, Tianlong Sina, Chen Yelang bahkan Mo Huazhu juga datang. Mereka menempati kotak di lantai dua.
Tianlong Sina memesan banyak makanan. Tidak peduli apakah dia akan menghabiskannya atau tidak, ia ingin makan banyak hari ini.
Chen Sisi serta beberapa koki yang telah dilatihnya selama beberapa hari terakhir juga mulai bergegas. Karena beberapa koki belum terbiasa, Chen Sisi memegang semuanya paling banyak. Ia juga meminta mereka menyiapkan bahan yang diperlukan, memotong, merebus air bahkan menggoreng.
Aroma masakan mulai tercium, membuta rasa lapar pengunjung semakin menjadi-jadi.
"Aromanya sangat harum. Makanan apa ini?"
"Aku mencium aroma kaldu ayam. Benar, ini kaldu ayam!"
"Aku belum pernah mencium aroma kaldu ayam sewangi ini sebelumnya."
"Aku juga. Aku ingin memesan semua menu. Mari pesan semua dan makan bersama," ajak yang lain.
"Aku juga setuju."
Diskusi panas terjadi di luar dan di dalam. Orang-orang di kotak lantai dua lebih tentang.
Tentu saja Chen Sisi sedang memasak soto ayam lobak saat ini. Ia sedang merebus ayam. Lalu menghaluskan bawang putih, bawang merah dan jahe.
Ketika ayam sudah matang, Chen Sisi meminta koki lain untuk menyuwir ayam lalu kaldunya dididihkan lagi.
Koki lain bertugas menumis bumbu halus sampai harum, tambahkan serai yang telah dimemarkan kemudian merica lalu tuangkan kuah kaldu ayam tadi.
Tambahkan suwiran ayam, gula, garam, kaldu ayam dan lobak. Setelah rasanya pas dan matang, barulah disiramkan ke dalam kuah berisi bihun,
Pelengkapnya tentu saja ada potongan seledri, bawang goreng, kacang goreng serta potongan sayap ayam yang telah direbus.
Karena memasaknya agak banyak, kuah sotonya masih tersisa sehingga mereka bisa memanaskannya lagi jika ada yang memesan.
Kemudian dia juga lelah. Ternyata menjadi koki itu melelahkan. Padahal dia sendiri sudah terbiasa sebelumnya.
Mereka menyantap soto yang masih hangat. Rasa kuah yang gurih dan segar karena sedikit perasan jeruk nipis seketika membuat mereka berseru.
"Aku belum pernah makan rasa ini. Benar-benar sangat enak. Sesuai dengan harganya. Bahkan jika mahal, rasanya tidak kalah!" Salah satu dari mereka berseru.
"Benar! Bihunnya juga lembut dan tidak keras. Aroma bawang goreng seperti menyatu dengan kuah. Seledri ini juga sehat. Ayamnya empuk dan gurih!"
"Bos Cantik! Kami juga ingin pesan semua menu. Tolong bawa ke meja, kami akan menunggu!"
"Ya, kami ingin semua menu hari ini."
Chen Sisi terkejut dan kemudian tersenyum. "Baiklah, kalau begitu kalian harus benar-benar menunggu."
Ia pergi ke dapur dan mulai menginstruksikan para asisten koki yang ada. Chen Sisi tidak tahu jika dia telah dijuluki sebagai koki cantik di restoran. Tentu saja para pemuda lajang tidak takut menyebutnya bos cantik.
Semua aneka gorengan, olahan tahu, bakso, daging ayam atau daging sapi, jamur serta makanan simple lainnya disajikan. Butuh waktu lama memang tapi pengunjung sangat antusias.
Orang-orang di lantai dua juga menikmati hidangan mereka. Apa lagi kelompok Tianlong Heyu.
"Ini benar-benar enak. Si'er tidak pernah gagal membuatnya. Aku ingin datang tiap hari untuk makan di sini." Tianlong Sina menikmati soto ayam serta gorengan lainnya yang belum pernah dia coba.
Tianlong Heyu juga sama. Namun ia memilih untuk makan gorengan yang tersedia dalam berbagai jenis.
"Ya ..." Tianlong Heyu mengangguk ringan.
"Aku akan membiarkan ayah dan ibuku datang untuk mencicipinya juga." Chen Yelang ingin ibunya mencicipi masakan adik perempuannya yang berharga.
Mungkin suatu hari nanti, keluarga mereka bisa lengkap lagi. Chen Yelang membayangkan jkka dirinya akan makan masakan Chen Sisi setiap hari. Betapa menyenangkannya itu.
Selama seharian penuh, Chen Sisi sibuk di dapur. Restoran baru tutup pukul delapan malam karena merupakan pembukaan pertama. Semua orang datang dan pergi, mencoba makanan di restoran baru tersebut dan kemudian memuji.
Mereka akan datang lagi di masa depan.
Ketika kembali ke Istana Raja Perang bersama Tianlong Heyu, gadis itu ternyata tertidur. Tianlong Heyu khawatir Chen Sisi akan membentur dinding kereta sehingga sengaja menyandarkan kepala ke bahunya.
Melihatnya yang tidur karsba kelelahan, ia sangat tidak berdaya.
"Aku berharap jika kamu tidak perlu melakukan ini. Uangku sudah cukup untuk menghidupi mu seumur hidup," ucapnya pelan karena khawatir membangunkannya.
Kereta bergerak agak santai atas permintaan Tianlong Heyu. Setidaknya ia ingin perjalanan ini sedikit lebih lama.
Baiyue sudah meringkuk di sisi lain dan menguap. "Kamu jelas suka dengannya. Kenapa tidak mengungkapkannya saja? Tahukah kamu dia salah paham atas hubunganmu dengan pria bernama Mo Huazhu itu?"
Tentu saja Tianlong Heyu juga tidak pernah melupakan ini. "Aku tahu itu. Jadi apa yang harus aku lakukan?"
"Tentu saja bertindak nyata! Dasar bodoh! Kamu adalah seorang pria. Apakah tidak berani menjadi baj*ngan untuk sementara waktu. Tindakan nyata sangat efektif. Jika tidak aku khawatir tidak akan pernah berhasil. Gadis ini sangat keras kepala." Baiyue memutar bola matanya.
Bertindak nyata? Tianlong Heyu memikirkan ini dengan wajah gelap. Maksudnya, haruskah dia menciumnya dan ucapkan dengan berani jika dia menyukainya?