
Kaisar Tian mengerutkan kening. "Pangeran kedelapan mengirim surat jika mayat hidup berkeliaran di hutan perburuan. Selir putra mahkota menjadi salah satu korban dan kini belum ditemukan. Ada banyak ular putih di sana yang sudah menunggu mereka."
"Ular putih? Mayat hidup?" Yang lain akhirnya kaget.
Sudah lama sekali tidak ada serangan di ibu kota atau kota lainnya. Kenapa bisa muncul di ibu kota, bahkan bersembunyi di hutan perburuan?
Para jenderal dan menteri berpikir keras. Memikirkan bahwa mayat hidup ini cerdas dan memiliki rajanya sendiri. Mungkinkah ada rencana dibalik semua ini?
Pangeran pertama, Tianlong Kaiyun yang kini merupakan jenderal perbatasan selatan berbagi pikirannya dengan Kaisar Tian.
“Bagaimana jika perburuan musim semi dibatalkan untuk sementara waktu. Besok, lebih baik untuk mencari mereka dan membawa kembali ke istana. Setelah mayat hidup di sana dibersihkan. Kompetisi ini bisa dilanjutkan,” jelasnya.
Kaisar Tian mengangguk. Merasa ini memang perlu. “Kalau begitu, siapkan pasukanmu untuk pergi besok. Berapa banyak prajurit yang kamu bawa ke ibu kota kali ini?”
“Hanya kurang dari dua puluh.”
“Kalau begitu tambahkan penjaga gelap istana kekaisaran. Keamanan ini sudah menyangkut banyak nyawa.”
“Ya, anakmu menerima perintah.” Tianlong Kaiyun memberikan busur hormat pada ayah kaisarnya.
Saat ini, Perdana Menteri Keuangan berwajah pucat. Memikirkan putrinya yang ikut dengan putra mahkota ke area perburuan dan menjadi mayat hidup … Dia tak bisa membayangkannya sama sekali. Akhirnya Perdana Menteri Keuangan pingsan di hadapan banyak orang.
Yang lain terkejut dan buru-buru menahan tubuhnya. Kaisar Tian menyipitkan mata. Sepertinya selir yang dimaksud dalam surat adalah putri Perdana Menteri Keuangan.
Kaisar Tian berniat membalas surat Tianlong Heyu. Minta saja anak kedelapan itu dan Chen Yelang untuk mencari peserta yang lain, selama Tianlong Kaiyun mengirim bala bantuan keesokan paginya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam ini, Tianlong Heyu serta yang lain tidak bisa tidur dengan nyenyak. Namun Chen Sisi tidur nyenyak di atas alas kain lipat yang dibawanya. Kain lipat yang cukup tebal cukup untuk dipakai dua orang sehingga Tianlong Sina menempel padanya.
Di samping Chen Sisi adalah Baiyue yang meringkuk santai. Malam ini tak ada bahaya sehingga ia sendiri memilih untuk istirahat.
Adapun sisanya tak bisa tidur. Mereka khawatir ketika bangun akan menjadi mayat hidup.
Saat pagi tiba, Chen Sisi bangun lebih awal dan diikuti Tianlong Sina yang mengantuk. Biasanya dia tidur lama dan bangun hampir siang. Namun kali ini tidak nyaman karena berada di alam liar. Melihat keadaan Mo Huazhu serta yang lainnya kurang tidur, ia bingung.
“Apakah kalian tidak tidur?” tanyanya santai.
Kecuali Tianlong Heyu yang baik-baik saja, Mo Huazhu dan Tianlong Zhaobin memiliki mata panda lebih parah. Sisanya tidak terlalu parah. Chen Yelang sudah terbiasa kurang tidur di barak militer sehingga kondisi tubuhnya lebih baik.
“Putri, tidakkah kamu khawatir jika mayat hidup menyerang saat kita tidur? Aku sama sekali tak bisa tidur,” jawab salah satu pengikut Tianlong Zhaobin.
“Hah? Aku lupa.” Tianlong Sina sangat mengantuk semalam sehingga menempel pada Chen Sisi untuk mencari kehangatan.
“…” Lupa? Ini agak kejam, batin yang lain.
Mereka sudah membuat api unggun dan memasak air. Chen Sisi pergi ke sungai untuk membersihkan bahan makanan. Karena ada banyak orang saat ini, memasaknya sedikit tidak akan cukup. Lebih baik untuk memanggang daging saja.
Kebetulan Tianlong Yuzhao dan Chen Yelang datang ke sungai bersama untuk menangkap ikan.
Air sungai sangat jernih dan masih segar. Mereka berhasil menangkap ikan yang luamyan besar dan akhirnya bisa makan dengan tenang.
Tianlong Zhaobin adalah orang yang cukup pemilih makanan. Namun ketika ikan panggang dimasak dengan bumbu dan diberi kecap, rasanya sangat enak hingga makan lebih banyak.
Tianlong Heyu tampaknya tahu tatapan itu dan wajahnya menjadi gelap. Akan lebih baik membuat pria itu segera dikirim kembali ke istana nanti. Dan pikirkan cara untuk memotong idenya.
"Setelah ini, kita akan kembali ke istana lebih dulu karena perburuan musim semi telah dihentikan." Tianlong Heyu memberi tahu mereka berdasarkan surat balasan dari Kaisar Tian.
Yang lain mengangguk. Sebagian dari mereka lebih memilih untuk kembali lebih awal.
Tak lama mereka mendengar derap langkah kuda yang cukup berisik. Kemudian sosok Tianlong Kaiyun muncul bersama rombongannya.
"Apakah kalian semua baik-baik saja?" tanyanya.
"Kami baik-baik saja," Tianlong Sina masih sedikit menguap. Dia bahkan tidur nyenyak.
"Saudara Pertama, apakah datang untuk menjemput kami?" tanya Tianlong Yuzhao.
Tianlong Kaiyun mengangguk. "Ayah Kaisar menurunkan perintah untuk menghentikan kompetisi perburuan musim semi. Kalian semua akan dibawa kembali, kecuali Tianlong Heyu dan Chen Yelang."
Mo Huazhu terkejut. "Kenapa mereka tidak bisa pergi?" tanyanya heran.
"Keduanya adalah seorang pejuang seni bela diri barak militer, tentu saja akan membantu mencari peserta lain. Kalian kembalilah dulu dan kaisar sudah menunggu. Terutama Nana dan Putra Mahkota."
"Lalu bagaimana dengan Si'er? Ayah kaisar tidak memanggil Si'er?" Tianlong Sina cukup dimanja oleh kaisar.
Sudut mulut Tianlong Kaiyun berkedut sedikit. Ia memandang Chen Sisi yang berada di saling Tianlong Heyu. Entah kenapa ... keduanya tampak cocok satu sama lain.
"Dia akan pergi dengan ku. Kalian kembali dulu," jawab Tianlong Heyu langsung membuat Tianlong Sina lemas di tempat tempat.
"Kenapa Si'er tidak ikut denganku? Bukankah akan lebih aman jika berada di istana?"
"Tidak, ada sesuatu yang harus kami lakukan."
Chen Sisi hanya bisa mengangguk sebagai jawaban. Lagi pula ia pasti akan pergi jika diminta kembali sekalipun. Tampaknya Tianlong Heyu sudah mengirim surat ada Kaisar Tian semalam.
Tianlong Sina serta yang lain dibawa kembali. Kecuali Tianlong Heyu, Chen Sisi dan Chen Yelang. Tanpa diduga, Mo Huazhu ikut bersama mereka dan enggan kembali.
Kelompok Tianlong Kaiyun pergi mengantar sisanya kembalinya. Masih banyak peserta yang harus dibawa keluar. Tidak tahu apakah ada korban lain atau tidak.
"Di mana kira-kiranya mayat hidup selalu bersembunyi?" Chen Yelang melirik sekitar.
"Seharusnya di kegelapan bukan?" Mo Huazhu mengerutkan kening, menebak.
Akhirnya Chen Sisi memberi mereka bocoran. "Mereka suka tempat yang gelap dan terasing. Ketika ada mangsa, mereka akan menyerang diam-diam."
"Ini masih pagi, tampaknya mereka tidak berkeliaran. Mungkin harus mencari ke tempat yang lebih gelap," kata Chen Yelang sambil mengangguk diam-diam. "Tapi kita harus mencari serta lain lebih dulu. Akan lebih buruk jika mereka melanjutkan perjalanan terlalu jauh," imbuhnya.
Mereka memang bertemu dengan beberapa peserta ujian. Mereka yang berkelompok bahkan kehilangan anggotanya. Entah satu atau dua. Yang lain menghilang saat malam tadi.
Tampaknya korban telah bertambah. Ekspresi Tianlong Heyu jadi lebih serius.
"Ayo cari ke arah yang jarang dilewati. Mungkin jejak mereka ada di sana," kata Tianlong Heyu.