
Setelah makan, Tianlong Heyu tidak mau minum obat pahit itu lagi. Rasanya tubuhnya lebih menyegarkan daripadanya sebelumnya. Tentu saja karena Chen Sisi menggunakan air spiritual dari ruang gelang giok putih sebelumnya.
"Apakah kakek baik-baik saja?" tanyanya.
"Ya, kakek dalam keadaan sehat." Chen Sisi menjawab. Dia tanpa sadar duduk di tepian tempat tidur. Namun Tianlong Heyu tidak menegurnya.
Chen Sisi ragu untuk bertanya, terlebih lagi mengenai wabah virus mayat hidup yang telah melanda beberapa negara selama beberapa tahun terakhir.
Sepertinya Tianlong Heyu masih bisa melihat keraguan di wajah gadis itu. Tidak ada yang bisa disembunyikan darinya.
"Jika ada sesuatu, tanyakan saja," katanya dengan suasana hati yang sedikit bingung.
Ia jarang berinteraksi dengan lawan jenis. Namun Chen Sisi tidak menguatnya alergi sama sekali. Bahkan racun bunga sihir busuk di tubuhnya tidak bereaksi saat berdekatan dengan Chen Sisi.
Sekarang Kakek Yi telah menemukan bunga biru es dan membuat penawar racun untuknya. Meski tidak bisa langsung disembuhkan, Tianlong Heyu senang.
Bukan dia memiliki niat untuk menikah atau mengambil selir untuk mengisi halaman belakangnya. Namun ia sangat tak berdaya setiap kali bepergian dan tak sengaja bersinggungan dengan lawan jenis.
"Aku ingin bertanya tentang apa yang ada di luar perbatasan," katanya.
"Kenapa kamu ingin tahu tentang ini?"
Informasi yang ada di luar perbatasan hanya bis diketahui oleh para prajurit Batak militer serta para petinggi di istana kekaisaran saja. Namun Tianlong Heyu masih santai bertanya dan tidak buru-buru menolak.
"Kakek menceritakan tentang wabah virus mayat hidup yang melanda beberapa negara sebelumnya. Kebetulan aku tahu sedikit tentang hal ini. Wabah ini tidak ada obatnya dan lebih baik mencari sarang utama mereka untuk dihancurkan," jelasnya.
Tianlong Heyu menyipitkan mata. "Katakan lebih jelas," katanya dengan nada serius.
"Kamu juga tahu bahwa mayat hidup ini akan menularkan virus pada binatang atau manusia sehat lainnya. Jika mereka menggigit, maka kemungkinan besar akan tertular. Setelah tertular, beberapa gejala akan terlihat jelas."
Napas Tianlong Heyu sedikit mandek. "Dari mana kamu menyimpulkan hal ini? Apakah kakek mengatakan sesuatu padamu?"
Chen Sisi kesal dengan semua tuduhannya. Pria itu selalu menatapnya seolah-olah dia adalah wanita yang selalu mencari kesempatan mendekatinya setiap saat. Dia bangkit dan bersiap untuk pergi.
"Aku tahu karena saat aku mencari herbal di kaki pegunungan sebelumnya, ada lembah tak tersentuh di sana. Kebetulan beberapa serigala dan manusia pemburu yang terkena wabah mayat hidup menyerangku dengan ganas. Aku hanya berpikir itu aneh dan menceritakannya pada kakek. Karena mayat hidup ini ada di luar perbatasan, kenapa tidak ada di dalam perbatasan dan bersembunyi?"
Wajah Tianlong Heyu menggelap setalah melihat gadis itu pergi. Dia juga tidak bisa membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu. Di mana dia mengatakan sesuatu yang membuatnya marah?
Namun memikirkan jika mayat hidup ada di dalam perbatasan dan bersembunyi di tempat-tempat yang tak terjamah, ia terkejut. Sepertinya dia harus mencari tahu sendiri tentang ini.
Sementara itu, Chen Sisi menggerutu sepanjang jalan. Dia adalah satu-satunya wanita di barak saat ini dan beberapa wanita penghibur biasa ada di tenda lain yang jauh dari keberadaan tenda Tianlong Heyu.
Beberapa wanita penghibur biasanya dikirim ke barak untuk melayani para atasan. Terkadang mereka akan dibawa pulang sebagai selir. Inilah yang akan memicu konflik suami-istri di rumah.
Keesokan paginya, Chen Sisi berpamitan untuk pulang. Lagi pula tidak sopan jika pergi tanpa permisi sehingga menurutnya tidak apa-apa untuk mengucapkan sampai jumpa pada Tianlong Heyu.
Tanpa diduga, pria itu ternyata sudah menunggunya. Chen Sisi terkejut.
"Kenapa kamu di sini?" tanyanya.
"Aku akan kembali denganmu," jawabnya datar.
Tianlong Heyu sudah sembuh dari demam dan tubuhnya telah kembali sehat seperti sebelumnya. Dia tidak memakai baju besinya tapi jubah brokat abu-abu gelap dengan jubah musim dingin untuk mengimbangi cuaca dingin.
"Apa motifmu kali ini? Jangan bilang lagi aku sengaja mencari kesempatan untuk mendekatimu," jelas gadis itu menyindirnya.
Tianlong Heyu tidak marah. Dia mengerutkan keningnya dengan sedikit kesusahan di matanya. Dia hanya bisa menahan diri untuk tidak mengatakan kata-kata tak berperasaan.
"Maaf," ucapnya pelan.
Gadis itu tertegun. "Apa katamu?"
Mungkinkah pendengarannya bermasalah? Ia mendengar pria itu meminta maaf padanya dengan enggan.
"Aku bilang, maaf untuk hal yang kemarin. Aku tidak bermaksud menyinggungmu. Ini kebiasaan selama bertahun-tahun, tidak memiliki maksud untuk menyakiti perasaanmu."
Dengan berani, Tianlong Heyu mengatakan semua itu dengan lancar. Ini yang diajarkan Chen Yelang padanya semalam jika ingin mendapatkan maaf dari pihak lain. Terlebih lagi pikiran dan suasana hati wanita selalu rumit.
Tiba-tiba saja suasananya menjadi canggung. Terutama Chen Sisi yang tidak menyangka jika pria itu akan meminta maaf padanya.